Keyboard Qwerty dan Jaman yang Makin Edan

Usia memang tak selalu identik dengan kebijaksanaan seseorang. Pun, usia juga tak selalu berbanding lurus dengan yang namanya ilmu pengetahuan. *halah, lha ini namanya apa kalo bukan sok bijak, siw?*

Warung kecil tongkrongan Bapak-bapak dan Mas-mas tentara ini emang lumayan rame kalo siang. Tak hanya pak mas tentara, juga pak-pak dan mas-mas non tentara nongkrong di situ. Berbagi bermacam gosip, tukar cerita, petuah kebijaksanaan, sampai obrolan ngalur ngidul gak jelas. Nah, di warung inilah saya menemukan bahan tulisan, tentu saja untuk di-blogkan.

Kejadian 1:
Nah, suatu hari, seorang Bapak usia 50tahunan dan beberapa yang masih muda, menonton televisi sambil bercerita tentang bermacam kejadian. Dari maling, teroris, musim hujan dan kemarau yang tak lagi bisa diprediksi, sampai jaman yang makin edan.

Nah, topik terakhir ini yang membuat saya nyaris nyembur mie ayam waktu makan. Apa dan kenapa? mari kita ‘dengar’kan pembicaraan bapak-bapak (yang terlihat) sok bijak tersebut.

BS (Bapak Sotoy): Yang dibilang jaman makin edan itu memang bener. Anak perempuan dandan kayak laki-laki, yang laki-laki makin kemayu.
M1 (figuran1): Lhaiya Pak, yang perempuan banyak jadi tukang parkir, yang laki-laki jadi tukang masak di restoran

*saya masih anteng sambil tetep nguping*

BS: Yang paling jelas salah kaprah ya keypad henpon itu. Dulu, meskipun jadi satu, masih tetap ABCDEFGH urut. Lah sekarang? udah satu-satu tapi urutannya ndak urut lagi. Masa hurufnya dimulai ndak dari A lagi, tapi dari “Q”
M1: *manggut-manggut kagum dengan si BS*

Saya: *melotot* :shock: :shock: :shock: *tersedak mie ayam*
*obrolan berikutnya ngga menarik lagi, karena perut saya sakit nahan ketawa* :lol: :lol: :lol:
Pengennya sih, saya nimbrung di situ… tapi, melihat binar percaya diri dan jagoan di wajah si BS, saya ndak tega mau merusak kebahagiaannya :mrgreen:

Kejadian 2:
Warung agak sepi, hanya terisi sekitar 6 orang. Sepertinya yang bergerombol adalah tentara-tentara muda. Mereka membahas lagu-lagu, artis dan gadget terbaru. Seperti biasa, bakat nguping alami saya langsung bekerja begitu mereka mengobrol dan menyebut istilah-istilah yang asbsurd.

Tentara1 (T1): aku abis download lagu lho, banyak lagunya. Terus di folder download aku pilih ‘mark all’, terus tak ‘delete’ lha kok lagunya ilang semua.

Me: *nyembur es tebu* :oops: :oops: :oops:

Yaampuuun, mangkane talah Pak, belajar basa linggis! *lol* Kalo aja saat itu bukan di warung, mungkin saya udah ngakak guling-guling :mrgreen:

Saya tahu, nggak semua orang ngerti bahasa asing. Nggak semua ngerti tentang kenapa keyboard itu qwerty, bukan abcdefgh. Tapi kalo emang nggak tau yang bener, minimal nggak usah sok tau deeeh…

Oh ya, anda ada pengalaman serupa tentang sotoy? Marilah dishare, kawan :)

Sebuah Pengalaman Spiritual Yang Menggugah Hati *plak*

Setiap orang, pasti punya pengalaman spiritual masing-masing. Pengalaman yang kadang membuat orang lain menganga tak percaya, takjub, merinding, hingga speechless ketika anda menceritakannya. Ketika bicara tentang pengalaman spiritual, maka yang terlintas dalam benak secara otomatis adalah pengalaman magis yang sering diluar akal sehat, berkaitan dengan cerita2 ghaib seputar agama & masyarakat.

Tapi tentu saja saya tak akan menceritakan hal itu. *plak* Judul di atas hanyalah karena saya bingung memilih judul apa untuk cerita kali ini *dobel plak* Kali ini, saya hanya akan menceritakan sedikit dari sekian kebodohan yang pernah saya lakukan. Karena kalo banyak-banyak, jadinya nggak bagus buat kesehatan *krik*

Semua orang tau, saya ini penidur. Saya bisa tidur dimana saja, even di sebuah tempat yg mustahil bagi orang lain untuk tidur. Contohnya adalah di sebuah kelas, kursi paling depan, dan dosen ‘kurang ramah’ yang sedang menerangkan mata kuliah. Namun, semua rintangan ini bisa saya lalui dan saya bisa tidur dengan bahagia (yea, walopun setelahnya ditegur juga sama dosennya sih ya).

Kejadian kali ini, tentunya berkaitan dengan hobi tidur saya yang agak susah saya kendalikan karena sudah berasa habit aka kebiasaan. Hari itu jumat yang membosankan ditengah terik kota Surabaya. Jumat adalah hari yang nanggung untuk kuliah, karena waktu istirahatnya terlampau panjang. Di kampus saya, ada sebuah tradisi bernama mentoring dan kajian setiap hari jumat. Kajian ini diadakan di tiap jurusan oleh kerohanian putri, pas cowok-cowoknya lagi shalat jumat.  Beruntungnya saya, di jurusan saya nggak ada kajian ini *muhahahahaha* tapi tetep, yang namanya mahasiswa baru, yg cewek disuruh ngikut kajian di jurusan sebelah yg masih satu fakultas. Sepertinya sih, temen seangkatan ngga ada yang ikutan. ancur emang. Nah, sayangnya saya nggak seberuntung itu.

UKM yang saya ikuti, yaitu Pramuka, selalu mengadakan kajian rutin tiap jumat, dengan topik berbeda tiap kajiannya. Saya ini, orangnya paling males ikut kajian2 begituan, dan lebih suka baca buku or nyari duit *plak*. Jadilah, jumat itu saya kebingungan nyari tempat untuk tidur. Mau pulang ke kost, kok ya nanggung banget, mau tidur di jurusan nggak bisa (karena nggak ada kuliah), mau tidur di Sanggar, juga tidak mungkin karena dipakai kajian keputrian. Jadilah kepikiran untuk tidur di lantai 2 masjid kampus. Fyi, lantai dua ini biasa dipakai shalat untuk jamaah putri. Saya juga mayan sering tidur di sini, di hari2 biasa. Tempatnya enak, lantai dingin dengan semilir angin membelai, jadi tempat yang pas, surga untuk tidur.

Berangkatlah saya, dengan penampilan ala kadarnya, khas kostum kuliah : kaos oblong lengan pendek dan celana jeans butut. Dengan langkah penuh percaya diri dan keyakinan menikmati surga duniawi *halah* Sampai di lantai dua, ternyata masih banyak mbak-mbak yang sholat, jadilah saya menunda rencana tidur. Kecewa lah pokoknya. Tapiii, bukan Siwi namanya kalo gagal tidur hanya karena sungkan. Karena, entah berapa detik setelah keputusan menunda tidur itu, ternyata saya sudah menghilang entah kemana. Dan entah berapa lama saya tertidur saat itu, ketika tiba-tiba badan merasa tak nyaman. Bete, pusing dan pengen marah. Tau kan, gimana rasanya kalo tidur trus dibangunin mendadak?

Dan ketika membuka mata, ternyata saya dalam keadaan ndlosor (padanan ndlosor, apa sih?) dan tertidur lelap, dengan dua mbak-mbak berkerudung lebar dan jamaah cowok yang mulai menata shaf di sebelah kanan saya. Beberapa dari mereka memandangi saya dengan tatapan heran yg seolah berkata “Ih, itu makhluk apa sih?”

WOOOTTT? JADI DISINI DIPAKE SHOLAT JUMAT JUGAAAA??? *nyaris pingsan karena malu saat itu*

Si mbak satunya bilang, katanya tadi saya dipanggil2 (maksudnya dibangunkan) tapi nggak ada respon, jadilah mereka berdua yang ‘dimintai tolong’ untuk membangunkan saya.

Memasang wajah cool, saya pura2 nggak malu dan bilang minta maaf, lantas menuju kantin dengan langkah tegap tanpa menoleh kemana – mana lagi. Sempat mendengar seseorang memanggil nama saya ketika berjalan melewati jemaah putra yang memadati masjid, tapi saya pura-pura nggak denger dan emang sedang nggak berniat jumpa fans, jadi saya acuhkan saja.

Ternyata sodara, tiap hari jumat, tempat yang steril dari kaum cowok itu memang selalu dipakai untuk sholat jumat juga : sesuatu yang baru saya ketahui hari itu.

Itu ceritaku, apa ceritamu?

Video sebagai terapi stress

Dua minggu ini, mendadak jagad twitter diramaikan oleh video yang rata2 “bikin ngakak”. Tapi, disini saya tidak akan membahas Chaiyya Chaiyya nya Briptu itu tuh lho ya. Dia sudah over exposed. Tinggal menunggu akhir nasibnya saja di iklan Sozis, atau direkrut sama Charly ST12.

Video – video ini, membuat saya ngakak dalam arti sesungguhnya, dengan keunikannya masing2. Bisa dikatakan, ini sebuah stress reliver baru untuk saya. Mungkin juga untuk anda lho. Siapa tau?

1. FAKRY – ATROMEN (Ultraman Kelantan)

Salahkan @Masova jika pada akhirnya saya terjerumus.
Entah video klip ini serius, atau memang sengaja dibuat parodi, saya kurang tau persis. Tapi video yang ‘dibintangi’ oleh FAKRY itu sukses membuat saya ngakak ditengah himpitan kerjaan dan merasa benar2 segar!! *oke, ini lebay. Jangan tanya saya siapa itu Fakry, karena manusia ajaib ini baru kali ini saya temukan. Kalo menurut deskripsinya sih, Mr Fakry : a dikir barat singer and also part time superhero Ultraman.
Baru kali ini saya ketemu Ultraman yang berubah wujud dari bapak-bapak berkacamata hitam. Selain pertempuran Atromen/Ultraman dengan monster2, tolong anda jangan mengelus dada ketika ‘disuguhi’ gaya menyanyi bapak ini yang memang agak ajaib.
Tak hanya itu, karena lagunya yang easy listening, Atromen ini sukses membuat saya tak hanya terngiang2 sepanjang waktu saja, melainkan saya MENYENANDUNGKAN!. IYA! MENYENANDUNGKAN! :|
Atromen makhluk yae sangat mulio… Atromen manusio biaso *tampar diri sendiri*
Dan, oh ya. Closing nya sangat keren dan memukau! Sang Atromen pesan nasi rames! :|

2. Astuti – New version by Masca2 (warning : jika anda pecinta the Rollies, MUNGKIN anda akan merasa agak terhina dengan ini. Jadi, daripada sakit hati, jangan dilihat ya…)

Musiknya oke kok sebenarnya. Mungkin yang bikin ngakak disini lebih ke pembuatan vidklip yang terkesan asal – asalan, sehingga berasa kayak video klip jaman2 tvri. Disamping itu, gaya vokalisnya yang -beberapa bilang- kayak aktivis partai gerin*dra, dan modifikasi tuti tuti jadi TUTI TUTEEEYYY atau CUCI CUCEEEYY, serta senyum gak wajar mbak2 modelnya, yang menurut saya bikin ngakak. Tak kalah, yang jauh lebih bikin ngakak adalah komen komen di laman yutub tersebut. Video ini sempat ngetop di twitter, bahkan sampe ada beritanya di Kapanlagi.Com

Bandingkan dengan Astuti yang asli, versi The Rollies, yang (menurut saya) jauh lebih easy listening dan santai.

eniwei, ini soal selera sih ya. Mau suka yang mana terserah. But still, vidklipnya Masca2 emang bikin ngakak!

3. Lagu Loghat Kelantan – Pencinta Wanita.
Dapet dari temen twitter saya,

Lagu aslinya Irwansyah, dinyanyikan ulang dalam bahasa Kelantan. Kelantan lagiiii? Tidak, saya tidak ada sentimen apapun sama logat kelantan. Yang menghibur dari video ini apa sih? Almost nggak ada sih… cuman, ngerasa sangat beruntung hidup di Indonesia, dengan band2 anak muda, yang tampaknya telah memakai teknologi lebih tinggi daripada mereka. Model2 vidklip disini juga JAUUUHHH lebih fashionable dibanding model sono.

4. Yang terakhir ini ini dapat dari Gum di milis. Saya no komen deh. sepicles. Liat sendiri yah.

Sudah liat semua? Mana yang paling juara menurut anda? Atau, ada referensi video lain? saya dengan senang hati menonton or even download. Download 50 mega ndak sampe 10 menit kok :cool: *dikeplak* :mrgreen:

ps.
- Maaf kalo judulnya sok keren ya. Sejujurnya, kelamaan ndak ngapdet blog membuat saya kesulitan milih judul buat postingan.
- saya ndak njamin stress anda sembuh dgn video2 tersebut lho yaaa…

Microsoft Bloggership 2011 : Antara Saya, Perempuan Desa dan Impian

Di sore yang #galau itu, mendadak Mbah Kirangan datang membuyarkan lamunan saya. Betul, akhir – akhir ini saya memang sering #galau memikirkan negara dan nasib anak bangsa *plak*. Iya maaf, saya berlebihan, tapi boleh dong, saya mempunyai bermacam impian untuk -ehm- minimal kampung saya sendiri? Impian saya memang muluk – muluk. Iyalah! masak mimpi saja nggak berani muluk – muluk? Dan sepertinya, Mbah Kirangan datang pada waktu yang sangat tepat. Sekedar informasi, beliau memang biasa datang ketika saya memerlukan petunjuk datangnya hujan, atau saat-saat dimana saya membutuhkan wejangan. Misal wejang jahe, wejang kopi, dll. #krauk

Mbah Kirangan duduk di kursi malas favoritnya, lantas menyeruput teh hangat yang terhidang di meja kayu berukir di sebelah kanan kursinya. Tanpa permisi, beliau juga menyomot pisang goreng hangat yang tidak jadi saya makan karena tadi sempet jatuh ke lantai.

“Ada apa tho, nduk? wajahmu kok dilipat – lipat? lagi belajar poligami po?” :mrgreen:
ujarnya memulai percakapan kami.
“PLIS DEH MBAH! ITU ORIGAMI!” sergahku :mad: . Yayaya, si Mbah emang suka asal nyebut istilah. Asal njeplak, asal mirip.
“Hehe… simbahmu ini cuma ngetest wae, kamu masih konsentrasi apa endak. Ternyata masih sadar :mrgreen: . Ada apa tho, sini cerita sama simbah…”

Mulailah cerita saya…

“Gini lho mbahe… cucumu ini sedih kalo liat kondisi kampung kita. Dari dulu ndak ada perkembangan selain jumlah bayi, henpon sama tipi yang makin banyak”
“Masalahmu apa?” Sela simbah. Nada bicaranya mirip banget dengan Sir Mbilung.
“Sik thooo…! Simbah ini mintak ditabok. Ceritaku belum selese mbaaaah”
“Ya wes, lanjutken dulu” ujar Simbah sambil ngikik ndak jelas

“Dari jaman aku masih hobi main layangan, sampek sekarang mainanku hengpon Android, kampung ini sama sekali ndak ada perubahan. Padahal negara aja udah berubah dari jaman orde baru sampek jaman reformasi. Presiden juga udah ganti 5 kali. Tapi kampung ini adem ayem aja. Sekolahan SD ya cuma satu – satunya itu, padahal jumlah anak2 nambah terus. Aktivitas warga kalo ndak macul ke sawah, matun, panen, ngarit, ya nonton Cinta Fitri. Jujur Mbah, aku ki gemeeesss banget, terutama sama kaum wanitanya disini. Yang sekolah sampai kuliah kayaknya sak RT ndak ada 5 orang. Dari dulu sampai sekarang, masih aja banyak anak cewek yang lulus SD langsung dikawinin. Abis itu nomong anak, ndak punya skill, ndak punya pergaulan luas selain nggosip n nonton sinetron, kalo ada masalah sama suaminya, ndak bisa apa – apa juga. Wes tho, pokoke aku ki guuuemeeesss pol! Gini – gini kan aku cewek, Mbah… makanya aku lebih gemes sama kaumku.”

“Terus kamu ini pinginnya kayak gimana tho Nduk?”

“Ya aku pinginnya perempuan disini itu pada punya aktivitas. Ndak harus ngantor kayak para perempuan di kota2 besar… tapi minimal mereka tau, ada dunia luar dan ada banyak potensi yang mereka punya, plus mereka bisa memanfaatkan potensi itu mbah… Sebenarnya, aku itu gemes kalo liat ibu – ibu apalagi yang masih muda dan (harusnya) lagi semangat banget untuk mengembangkan diri, terjebak di situasi yang membuat mereka tidak mempunyai pilihan, atau tepatnya, tidak berani memilih. Lha gimana mau milih, wong modal aja mereka ndak punya kok. Paling mentok ya jadi TeKaWe, ke Hongkong, Singgapur, Malaysye. Yang sukses ya punya rumah bagus n bisa jadi modal cari mertua, yang gak sukses pulang ya muka lebam semua, atau ditinggal suami kawin lagi.”

“Hmmm…” Simbah mengiman.

“Aku pingin, perempuan – perempuan disini punya bekal. Minimal bekal itu berupa memanfaatkan waktu dengan baik, untuk mengembangkan diri. Syukur2 dapet penghasilan lebih, kan seenggaknya bisa meningkatkan taraf hidup mereka Mbah… Yang ada sekarang kan mereka kecanduan acara sinetron dan gosip yang cuma nambah ketidaksukaan mereka sama mertuanya. Selain itu? nothing Mbah… oh iya! ada ding! Mereka jadi tambah konsumtif! Liat Artis A umbah umbah banyak bunganya, jadi kepingin beli deterjen A, liat anak kecil lucu renang, jadi pengen beli susu B. Semuanya dilakukan ndak pake surve2an Mbah. Manfaatnya gimana, efek buruknya apa, ndak mikir. Ini yang ndak bagus. Pola pikir instan. :neutral:

“Aku pingin, mereka pada khususnya, dan kampung ini nanti jangka panjangnya, punya sesuatu yang bisa dibanggakan gitu lho… sesuatu yang jadi ciri khas. Yang warganya pinter pinter, kreatif, ndak tergantung sama musim, dan yang paling penting adalah ndak kecanduan sinetron.”

“Kamu itu dari tadi mbulet Nduk…mbokya cerita yang gamblang, kepinginnya apa. Jelaskan gitu lho… gambaranmu seperti apa”

Banyak banget di kepalaku ini Mbah. Tapi salah satunya gini. Aku pingin ngajarin ibu – ibu dan embak – embak disini untuk membuat kerajinan. Yang sederhana aja dulu buat permulaan. Bisa kerajinan kain flanel, menyulam, menjahit, bordir, bikin souvenir untuk nikahan, daaan sebagainya. Yang bisa merangsang mereka jadi kreatif deh. Kalo mereka sudah bisa menghasilkan produk dengan kualitas yang ‘layak jual’, untuk permulaan, aku yang akan membantu memasarkan produknya ke seluruh Indonesia, atau ke seluruh dunia deh kalo perlu… Secara bertahap, mereka akan kuajari juga manajemen, biar mereka belajar memasarkan produk mereka sendiri. Kalo berjalan lancar, kurang dari 5 tahun, aku yakin akan ada perubahan di kampung tercintaku ini. Akan semakin sedikit perempuan yang bekerja ke luar daerah. Dan kampungpun akan ‘hidup’ karena banyak aktivitas. Siapa tahu juga kalo kelak kampungku jadi percontohan dan dapet dana dari pemerintah untuk mengembangkannya. Ya nggak? Fyuh…capek aku mbah, ngomong terus… gantian dong…”

“Lha Simbah kan nunggu kamu selesai dulu, Nduk…”

“Udah selese kok Mbah…Nah aku mintak saran sama Simbah…enaknya gimana? kan tua-tua gini Simbah gawul, pegangannya blekberi…”

Simbah terkekeh sambil sibuk membalas BBM. Sebenarnya saya pingin ngintip, beliau itu lagi ngomongin apa thooo, kok dari tadi  tang ting tung terus bebenya. Sayang banget, bebe Simbah sudah dipasangi screenguard anti spy, Uuuh jadi nggak bisa ngintip!

“Ehm, jadi gini lho Nduk, menurut Simbah, permasalahan utama permasalahan utama kampungmu itu jenisnya sudah mengakar : pola pikir ndeso. Sederhana memang karepe, tapi kalo disesuaikan sama jaman ya ora mathuk. Istilahnya ndak ada Inovasi. Nah, ini susah kalo dibenahi dalam waktu singkat. Harus perlahan dan sedikit demi sedikit. Orang desa mudah ndak nyaman sama perubahan, apalagi yang cepet. Kalau kamu pinginnya memulai dari wanita-nya, it’s ok gitu loh… menurut simbah ide bagus itu. Biar kamu juga lebih gawul sama tetanggamu sendiri.”

“Nah ya, gantian Simbah mbulet”

“Belum selesai tho yaaa. Gini Nduk… Kalo kamu pingin segera meng-eksekusi idemu tadi itu, lekas tentukan mana yang bakalan kamu fokus disitu. Misal : Kamu memutuskan buat ngajari Kerajinan Membuat Tas Gawul . Kamu ndak harus menguasai membuat tas dulu untuk ngajari mbak – mbak nan lugu itu. Beli buku yang mendukung. Pinjami modal untuk latihan awal. Habis itu bantu pasarkan dan mereka tentu harus mendapat kontribusi finansial dari penjualan itu”

“Masalahe Mbaaah… aku kan ndak sempet kalo ngajarin sebegitu banyaknya orang disiniii. Apalagi kalo belajar dari buku aja kan ndak seru. Mau mendatangkan pengajar juga meheeel”

“Sik thooo… kowe melupakan sesuatu nduk. Kamu ini hidup dijaman twitter, jaman Fesbuk. Jaman ‘Dunia dalam Genggaman’. Kayak Simbah lah, bisa chatting sama orang eropah, sampai ngekspor Telo ke Hungaria, biiisa! Padahal ya belum pernah ketemu orangnya lho…”
“Nah, kowe sudah punya jaringan pertemanan. Punya teman – teman populer yang kepeduliannya tidak diragukan. Tentunya kamu masih inget tho, gerakan Coin a Chance, duwit recehan bisa mbantu sekolah bocah bocah melas. Gerakan opo kui, hooo iyaaa Blood for Life, terus yang baru baru ini podho mbikin gerakan peduli merapi. Ndak perlu repot soal informasi, nduk. Yang namanya Social Media itu jalan yang bisa mempertemukan kamu dengan siapa saja dan dimana saja.”

“Soal teknisnya, mudah saja. Kamu ndak kudu bikin sekolah dulu buat ngajari mereka. Mari kita belajar pada MLM untuk hal ini. Biar gampang, Simbah gambarkan ilustrasinya kayak gini”

“Artinya, kamu cukup perlu satu pengajar. Satu pengajar mengajari 3 orang saja pada awalnya. Setelah 3 orang ini mahir, masing masing ngajari 3 orang lainnya, dan seterusnya. Hemat tenaga tho? Ndak perlu tempat yang luas juga buat belajarnya. Yang penting guyub dan ada pisang goreng, pasti rukun dan maknyus” Simbah mulai ngelantur sepertinya. Tapi idenya boleh juga.

“Lha njuk pengajarnya siapa Mbah? aku kan ndak punya temen yang bisa mbikin kerajinan, bisanya pada mbikin kapal semua”

“Nduk Nduk… kamu itu twitteran, ngeblog, tapi kok ya ndak pinter – pinter. Ya kamu mungkin ndak punya, tapi siapa tau temenmu punya kenalan? kalo ndak ada, ya minta tolong sana, sama mahasiswa – mahasiswa yang butuh tempat KKN. Simbiosis mutualisme. Kamu ndak perlu turun gunung, turun langsung nyari gurunya. Jaman Social Media itu mbikin kamu ndak perlu panasan di perempatan jalan buat ngumpulin duit yang mau disumbangkan ke Merapi. Cukup dengan ngetuit ngetuit, pasang status di Facebook, bantuan akan datang dengan sendirinya. Memang, Simbah sadari, negara ini semakin lama semakin bobrok. Untunglah, warganya sepertinya semakin pintar dengan adanya teknologi dan kepedulianpun meningkat”

Saya mbatin, bener juga ya Simbah ini. Saya punya banyak sekali teman, dengan berbagai macam pengaruh, dan kepedulian yang tidak diragukan lagi. Akhirnya ide pun bersliweran di kepala saya.

“Soal pemasaran, kamu jangan kuwatir. Remaja remaji kita ini sekarang jamannya jaman gawul, asal kemasanmu menarik, mesti payu. Tapi jangan lupa menjaga kualitas, biar pelangganmu ndak pergi. Mau masarkan ke luwar negeri, tanya sana, sama Kangmas Pepeng, yang suka njuwal Candi ke luar negeri. Ncen cah gemblung kok Pepeng kuwi.” Simbah ngelantur lagi. Tehnya sudah habis rupanya. Begitu juga baterai bebe-nya yang sepertinya berteriak minta dicas.

“Sekarang rencanamu gimana? Bebenya Simbah udah minta dicas ini, repot kalo batrenya drop, ndak bisa tuiteran mbahmu ini nanti.” Yayaya, simbah memang kecanduan sama mainan yang satu ini. Dimanapun kapanpun wajib apdet status. Saya sempet curiga, jangan-jangan beliau juga membocorkan percakapan kami barusan.

“Gini aja, sekarang kamu bikin itu namanya Proposal, sekalian yang bagus biar ada yang tertarik buat mbantu kamu. Entah itu dana atau sumbangan tenaga, yang jelas itu akan sangat mbantu kamu, nduk”

“Proposal sih udah pernah mbikin, Mbah…tapi ndak pede aku… jadinya ya ndak pernah tak titipkan ke siapa siapa. Tapi setelah diwejangi simbah, rasa pedeku kayaknya langsung tuinggi ini Mbah!”

“Lha, jadi selama ini kamu memangnya ngayal wae po? ngimpi wae?”

“ya endak, aku udah mbeliin beberapa buku kerajinan, yaaa…minimal biar belajar sendiri merekanya”

“ya ndak jalan, kalo cuma seperti itu nduke, beda lho yo, antara penduduk kota yang belajar masak dari buku resep atau blackberry. Orang desa itu kalo ndak distimulus, susah untuk hal – hal seperti ini Nduke… Coba tips dari simbah tadi dijalanken. Sana, ikutan Microsoft Bloggership, sapa tau menang, dapet dana, bisa dipakai buat mengawali cita – cita muliamu. Katanya kalo menang dapet gadget juga, dan yang paling penting nduk, kalo kamu menang itu bisa terkenal, bisa masuk detik.com lho…”

“Halah, simbah ki… yang dipikirin kok popular populer terus. Yaudah, doain cucumu ini menang ya Mbah… Tapi kalo ndak menang gimana hayo Mbah?”

“Sudah pasti itu Nduk…Simbah selalu mendoakan cucu Simbah biar kampung kita ini ndak hanya ayem tentrem saja, melainkan warganya juga sejahtera. Kalo ndak menang? yo santeee… jangan sampek frustasi. Siapa tau Pamanmu yang duitnya meteran itu tergerak buat mbantu kamu? Siapa tau juga Ndorokangkung yang terkenal itu ngenalkan kamu sama temennya. Siapa tau tho? yang  jelas, digodok wae konsepmu yang mateng, jangan angin – anginan. Simbah ki seneng kalok lihat kampung kita hidup dan warganya juga hidup, pada pinter – pinter. Oiya nduk, pisang gorengnya tadi, sudah habis po?”

“Iya Mbah, tinggal satu itu tadi ndak tak makan, soalnya tadi jatuh ke lante trus sempet diendus si Choki” :mrgreen:
*langsung kabur*

“Wooo! Cah gemblung! Tak balang blekberi kene mengko!”

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

ps. warga kampung saya sebenarnya kreatif kok, mereka kurang penyaluran aja sepertinya :lol:
ini skrinsutnya :

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

polisi = polusi? :P

polisi = polusi? :P

27 Oktober, Hari Blogger Nasional, dan Blogger Peduli

Hari ini, saya terbangun dengan hati berkecamuk tak karuan. Dada rasanya sesak, pengen nangis aja. Bagaimana tidak, sejak lusa, sepertinya “alam” Indonesia tak henti bergejolak. Dari yang korban kemacetan, hingga kemudian berita tentang gempa dan tsunami di mentawai sana, belum lagi status merapi yang dinyatakan awas, sampai akhirnya ‘muntah’ juga tadi malam.

Saya memang naif. Kurang suka melihat berita tentang bencana di televisi. Karena memang hal itu membuat saya mendadak cengeng dan perasaan yang nggak enak. Sayangnya, kali ini sepertinya sulit saya hindari. Timeline, Facebook semua dibanjiri dengan update tentang bencana. Dan kali ini, saya tidak menghindar, walaupun sebenernya bisa sih, tapi itu tidak saya lakukan. Entah mengapa, melihat di timeline dan televisi membawa energi yang berbeda buat saya. Membangkitkan semangat ingin membantu gitu kayaknya. Mungkin saya lebay, *iya sih, dari tadi emang enggak?* tapi ya begitulah keadaannya.

Melihat semangat berbagi teman-teman, dan bermacam inisiatifnya untuk membantu, mendorong saya ikut memikirkan, kira-kira apaaa yang bisa saya perbuat, seperti yang teman teman lakukan di luar sana. akhirnya saya memutuskan untuk mengapdet blog saya. konyol? iya. saya tau kok kalo saya ini konyol. Cuma memang ini yang terlintas pertama kali pas mikir. Memang sih, rencananya akan posting, tentang setahun kehidupan baru saya, dan kematian saya yang lain. Tapi, nggak perlulah. Satu kecupan kecil yang manis pagi tadi sudah sangat lebih dari cukup untuk membuatku bahagia denganmu kok :)

Kebetulan juga, hari ini pas hari blogger nasional. walaupun nggak ada hubungannya sama niat saya posting, ya memang hari ini pas hari blogger nasional, gitu aja. Aaaarrrrrrghhh KENAPA TULISAN SAYA KACAU BEGINIIIIIII?????

baiklah… kembali topik (topiknya apa sih?)

intinya saya ingin membantu menyebarluaskan informasi, yang siapa tau bisa berguna buat saudara2 kita yang sedang kurang beruntung ditimpa bencana. Sejak malam dan dini hari tadi, rekan rekan dari komunitas Cahandong yang memang dekat dengan lokasi kejadian, berusaha membantu sebiasanya ke daerah pengungsian. Terima kasih, teman-teman, i wish i were there :’)

buat teman teman yang ingin berpartisipasi, silakan. Yang punya blog, ayo, posting di blognya. Semakin banyak yang tau, kemungkinan orang membantu semakin banyak kan? Entah membantu secara fisik, mbantu materi, atau apapun yang bisa kita lakukan, yang mungkin meringankan penderitaan mereka.

seperti dikutip dari Bloggerpeduli,

Saatnya bergerak. Mari bersatu merapatkan barisan. Bantuan dari kita semua akan sangat berguna bagi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Setidaknya, jika kita tak punya cukup waktu, tenaga, atau materi untuk disumbangkan, kita bisa membantu menyebarluaskan berita dan informasi tentang situasi terkini di lapangan, memberikan informasi tentang kemana bantuan dapat disalurkan, dan sebagainya. Musibah memang azab, tapi bukan itu poinnya, kan?

Untuk Bantuan Dana, bagi yang bersedia, bisa disalurkan melalui rekan2 Cahandong
BCA 1260440639 a/n Yeni Setyawan – (Sandalian)
Mandiri 1050005375062 a/n Fakhrizal – (Leksa)
atau langsung ke Bank Mandiri No.Rek 070-00-0011601-7, a.n. Palang Merah Indonesia


bloggerpeduli

Apapun bantuan anda, semoga bisa meringankan mereka. :)

Test Posting dari bebeh

Setelah puluhan tahun *halah* akhirnya saya pakai juga ini fitur cihuy buat si bebeh gratisan saya inih.

Semoga hasilnya memang seperti yang saya harapkan. *berdoa khusyuk* dan sesungguhnya, ini adalah demi memuaskan para penggemar saya akan apdet terbaru dari blogger idola mereka :cool: *dibakar massa*

Sekian, dan terima kasih. :oops:

When You Tell Me that You Love Me

26 Mei kemaren, dalam langkah terburu buru karena harus kembali ke malang (ibu saya dirawat di rs waktu itu), di terminal bungurasih saya tertegun. Dan menyempatkan diri duduk sejenak di kursi peron. Sejenak, saya lupa bahwa saya harus segera kembali ke malang, dan malah menikmati hiburan yang disediakan pihak terminal itu. errr, mereka pengamen bukan sih? penyanyi yang diiringi sama elekton itu lho? Oke, kita sebut saja entertaining pengamen, dan untuk selanjutnya kita sebut EP *ngasal*, membuat saya melongo saat mereka mempersembahkan *halah* When You Tell Me that You Love Me, yang dipopulerkan sama mbak Diana Ross.

Jadi begini, saya biasanya cuek cuek aja lewatin mbak mbaknya yg bahenol bergoyang mayan seronok dan menyanyikan lagu yang -yaaah sometimes- bukan lagu saya banget. Kali ini berbeda. Mbaknya yang berbadan subur ala Dewi Hughes dan riasan ala Mbak Bertha Suara mbaknya empuk, alus, tapi sometimes melengking and powerful banget! Jian miriiip banget sama suaranya Mbak Diana Ross yang aseli, bedanya yang ini Diana Ross KW Suroboyo. Dan sukses dah, si mbaknya membius saya selama beberapa menit untuk tetap duduk dan menikmati lagunya. Walopun beberapa kali instrumen pengiringnya agak kurang ‘pas’, tapi kerennya suara mbak vokalis EP ini membuat instrumennya jadi nggak berarti. cieeeehhhh bahasanyaaa…

Eniwei, lagu yang dibikin sama om John Bettis dan Om Albert Hammon ini emang aslinya udah enak dari sononya. Dan karena si mbak vokalis EP ini suaranya mantab, lagunya tambah enak aja. Pengen dengerin lagi dan lagi gitu deh rasanya *lebay* Nah, setelah mbaknya selesai nyanyi, saya jadi terinspirasi untuk mengirimi pesan pendek pada suami saya, reffrain dari lagu ini. *menyemenye* :oops:

Buat yang belum tau lagunya, ini neeeh liriknya…

Diana Ross

I wanna call the stars
Down from the sky
I wanna live a day
That never dies
I wanna change the world
Only for you
All the impossible
I wanna do

I wanna hold you close
Under the rain
I wanna kiss your smile
And feel the pain
I know what’s beautiful
Looking at you
In a world of lies
You are the truth

* and baby
everytime you touch me
i become a hero
i’ll make you safe
no matter where you are
and bring you

everything you ask for
nothing is above me
i’m shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me

i wanna make you see
just what i was
show you the loneliness
and what is does
you walked into my life
to stop my tears
everything’s easy now
i have you here

*and baby
everytime you touch me
i become a hero
i’ll make you safe
no matter where you are
and bring you

everything you ask for
nothing is above me
i’m shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me

in a world without you
i would always hunger
all i need is your love to make me stonger

*and baby
everytime you touch me
i become a hero
i’ll make you safe
no matter where you are
and bring you

everything you ask for
nothing is above me
i’m shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me

keren kaaan? emang keren kok… dan setelah saya gugling vidionya di yutub, saya nemu mbak Diana duet sama mas mas Westlife versi baru (tanpa mas Brian yg kayak bodyguard itu)

monggo, selamat menikmati…

Kampus Idaman? seperti apa sih?

Apa yang terbersit di benak anda ketika pertama kali mendengar kata kuliah? Biasa saja? Ah, saya kira tidak. Buat orang desa seperti saya, kuliah adalah kalimat sakti! Kata2 keramat yang bisa menaikkan derajat anda beberapa senti lebih tinggi, serta menjadi lirikan para calon mertua dan suami. Ibaratnya, masa depan yang indah itu tak terlalu susah untuk diraih (definisi masa depan indah adalah gampang cari suami/istri. hahaha! naif)

gambar dari oom Google.com

Apa kuliah saja cukup? Buat sebagian orang mungkin. Tapi bagi sebagian besar lainnya, yang namanya kuliah di kampus ngetop, kampus favorit, tetep jadi embel embel yang tak kalah pentingnya. Mari kita simak dialog berikut :

“Eh, tau nggak sih, si Siwi itu lhooo kuliahnya di kampus favorit”
“eh masa sih??? Siwi anaknya pak Iksan ituuu?”
“iya, yang anaknya sejak dulu emang pinter itu lhooo. dia kuliah di ITS! keren nggak siiih” (sidang pembaca sekalian dilarang protes yaaa)

dan andapun bisa sedikit menegakkan kepala karenanya. Kenapa sedikit? Karena eh karena… Ternyataaa… Kenyataan memang seringkali berlawanan dengan keinginan. Kehidupan kuliah tak seindah yang dibayangkan.
Bahkan di kampus yang dikatakan favorit. Ha! Tentu saja tidak!

Kenapa bisa tidak menyenangkan?

berikut beberapa jawabannya :
1. Ah ini tidak fair! Saya mati matian meraihnya, ternyata hanya gitu gitu aja di kampus! (responden A, tidak mau disebut namanya)
2. Saya kira saya bakalan mendapatkan sesuatu yg benar2 baru di kampus ini selain jas almamater yg dipakai setahun sekali itu! (responden B, juga tak mau disebut namanya)
3. Mbosenin. kalo nggak terpaksa gara gara bayarnya mahal, mending jualan es tebu deh (responden C)
4. Capek cari referensi. Bukunya kebanyakan bahasa inggris dan harus ke perpustakaan. Mana sempat? (responden D)

Lha? Kenapa bisa begitu? Apa yang salah? Kenapa bermain facebook (dan aktivitas online lainnya) bisa jauh lebih mengasyikkan daripada aktivitas kuliah? Apa fasilitas di kampus kurang? Apa biayanya kemahalan?apa apa apa apa??? mari kita kupas satu persatu, setajam… silet!

Hmmm… Pastinya masih banyak lagi pertanyaan donks… Nah… Untuk itu, mari mari kita diskusikan masalah ini bareng bareng, dengan kepala dingin (dan nempel tentunya).

Okkkkeeee lets start dari wawancara dengan beberapa narasumber (beberapa dari jawaban atas status saya di Facebook, tentang kondisi kampus idamannya. Yang seperti apa siiih, kampus idaman versi kalian itu?

Narasumber 1 : yang suasananya enak, pergaulan sehat, dan bersahabat, trus fasilitas pendidikan yang mantab.
Narasumber 2 : Jelas ceweknya kudu banyak, n seger seger (tolong dihiraukan, ini jelas mahasiswa dari jurusan minim cewek)
Narasumber 3 : Ruangannya adem, enak buat tidur, fasilitas lengkap, murah
Narasumber 4 : Kalo cari referensi tugas or bahan kuliah gampang, sering ada seminar juga biar update informasi n nambah sertifikat.
Narasumber 5 : Biayanya ndak mahal, fasilitas wifi yg gratis kenceng, lab lab difungsikan maksimal.
Narasumber 6 : fasilitas lengkap, dosennya juga berkualitas, and kurikulumnya juga ngikutin perkembangan zaman ( khusus buat IT).
Narasumber 7 : dosennya cakep cakep dan keren keren, gaul gak gaptek. masa jaman digital, masiiih ada ngandalkan papan tulis pakek kapur, terus materinya difoto kopi. nggak praktis.
Narasumber 8 : yang punya perpustakaan yang up to date, nyaman, plus ngasih wifi gratisan yang lancar jaya.
Narasumber 9 : parkir murah (gratis) tempatnya jauh dari kebisingan

oke oke, saya rasa cukup segitu dulu hasil survey ngawurnya. mari kita beranjak ke pembicaraan serius kali ini (ehem). Dan ini menurut pendapat saya, tidak terlalu nyambung dengan hasil survey, tapi beberapa berhubungan erat dan mesra.

1. Fasilitas.
Sebagian besar mahasiswa mengeluhkan kondisi fasilitas di kampusnya. Entah ruang kuliah yang tidak nyaman, kamar mandi yang jorok, atau kelengkapan pendukung kuliah yang tidak representatif. Fasilitas lain? ada contoh neh… salah seorang teman saya bete, karena untuk parkir saja, mereka ditarik biaya keamanan! Hal ini jika tidak diperhatikan, tentu saja bisa membuat mahasiswa malas untuk ke kampus.

Sebagai mahasiswa, tentu nggak cuman kuliah saja aktivitasnya. Kegiatan ekstra kampus tentu sangat mendukung. Mengingat, setelah lulus nanti kita tidak melulu mengulang materi yang diberikan selama di ruang kelas. Mahasiswa, sebagai manusia juga perlu yang namanya bersosialisasi, belajar berorganisasi, menyalurkan bakat dan kesukaan. Selain menambah wawasan, kegiatan semacam ini tentunya bisa menjadi obat stress (atau malah nambahi stress :D ), juga membantu menambah soft skill dan jaringan.

ada teman yang bilang, kampus itu enaknya ya kayak MALL. iya, MALL! dengan one stop education center. Mau cari buku, ya tinggal ke ‘bookstore’ alias perpus, dan bukunya tentunya harus lengkap dan up date. Mau makan, tinggal ke foodcourt. Foodcourtnya, ya tentu saja yang bersih, higienis, terjangkau, bebas pengamen, plus menunya beragam, kalo bisa menu dari sabang sampe merauke ada. hehe…
Mau presentasi, sediakan tempat seperti teater dengan peralatan audio video yang memadai. Hm… presentasi jadi makin asoooyyy.
Mau presentasi? ada taman segar dan hijau yang enak dipandang. ATM center harus ada juga donk! deket sama student center untuk pusat kegiatan mahasiswa. Ah… kampus surga banget!

Ah ya!
Salah satu fasilitas penting yang dianggap kurang memuaskan, tentu saja adalah kemudahan mendapatkan referensi untuk tugas mereka. Terutama untuk jurusan jurusan yang bukan ‘mainstream’. Jurusan saya, contohnya. Kuliah di teknik perkapalan itu lumayan menyiksa untuk cari referensi. Diktatnya sebagian besar masih diktat buku setebal gaban, yang nyarinya harus sabar membolak balik satu per satu. Adudududuuuh… ITU SANGAT TIDAK EFISIEN! Silakan memakai kata ‘melatih kesabaran’ anda buat sebagai pembenaran kalo anda tidak sepakat dengan saya. Tapi pleeeaseee… masih terlalu banyak hal yang bisa lakukan selain mbolak balik buku instead of ‘search’. Ada sih, beberapa referensi digital, tapi kebanyakan masih berbahasa inggris (buat beberapa nggak masalah, buat sebagian besar lain, masalah besar dan membuat mereka lebih nyaman memakai buku saja). Harus bolak balik ke perpus, buat beberapa orang sangat nggak efisien. Belum lagi jika koleksinya tidak up to date. oh boyyy… itu sangat menyiksa!
cari cari nggak dapet dapet juga , akhirnya putus asa dan stress!

Lantas bagaimana? namanya juga era digital… ha mbok ya menyesuaikan dengan kebutuhan era digital itu sendiri…
Komputer (dan internet, tentu saja) telah membantu kita, sangat sangat sangat membantu dalam banyak hal, termasuk juga mencari informasi dan referensi tugas, serta diktat, dengan penghematan waktu yang luar biasa! Digital library yang sudah diterapkan di beberapa kampus menjadi tempat jujugan yang asoy karena disana ada bermacam macam jurnal (entah lokal entah asing) yang bisa diundur gratis dan bebas disebar luaskan dengan mudah. Dengan adanya free digital library, dan dosen serta adminnya yang rajin mengunggah entah materi kuliah entah jurnal, maka mahasiswa tidak bisa lagi memakai alasan “cari referensinya susah” ketika tidak mengerjakan tugas.

Selain itu, faktor dosen juga berpengaruh besar lho. Dosen yang bisa menjadi sahabat untuk mahasiswanya, tentu lebih mudah dalam mentransfer ilmunya. Dosen adalah salah satu faktor terbesar kenapa mahasiswa bisa sampai terlelap selama kuliah, hingga penyerapan ilmunya kurang, ataupun gagal sama sekali. Memakai kalimat “lho, kalian kan sudah mahasiswa, kenapa bergantung pada dosen”, sangat nggak oke untuk jadi pembenaran atas hal ini.
lagi lagi, saya memakai istilah jaman digital. Jaman digital seperti ini, yang namanya dosen ya gak gahul kalo nggak punya akun di berbagai social networking. istilah lainnya : Nggak eksis. Hehe, jadi, tolong bapak bapak dosen, please deh, yang belum punya blog, twitter, facebook, buruan join ke komunitas digital itu, karena mahasiswa kalian banyak yang nongkrong disana. Percaya deh, kehadiran kalian itu bagaikan angin surga di tengah tengah banjirnya remaja alay dengan status bikin memble. Berbagi ilmu itu nggak melulu di dalam kelas n asistensi lho Pak… manfaatkan social networking untuk sharing ilmu njenengan. Biar ndak mahasiswanya aja yang bisa menikmati guyuran ilmu sampeyan.
(Fyi, beberapa waktu yang lalu saya juga sempat ‘meracuni’ dosen untuk ngeblog, dan beliau bersedia. yayyy!!!).

ada yang lain? nah! ini dia yang menurut saya pentiiing banget! Kampus itu harus mendukung mahasiswanya untuk giat berwirausaha! Biar ndak tergantung pada lowongan kerja dari perusahaan ini dan itu. Mahasiswa itu harus mandiri, rek! Sekalian, cari kerja dan kuliah, kenapa enggak? masa udah tua masih ngerepoting orang tua aja! (awas, jangan bilang “kewajiban orang tua itu mbak”, sumpah! prang seumur anda nggak pantes banget rasanya kalo bilang kayak gitu)
sering sering dong, yang namanya kampus itu bikin lomba, entah di bidang apapun. Bagaimanapun, yang namanya manusia sering mudah dipacu dengan rasa kompetisinya. Plus, hadiah, tentu saja. (contohnya ya, lomba blog yang diadakan Universitas Islam Indonesia ini).

oiya… coba liat ilustrasi berikut deh…

Ilustrasi 1 : Seorang dosen, mengelap keringatnya dengan sapu tangan lusuh dari saku celananya. Capek benar dia menerangkan teori tentang kekuatan konstruksi kapal kepada mahasiswanya yang juga tidak tampak mengerti dengan penjelasannya.

padahal dia menjelaskan sampai berbusa dan hampir marah karena tak seorangpun yang bisa menjawab pertanyaannya. Tak hanya berbusa, stok kapur tulis sudah habis, spidol pun telah pudar warnanya.

Malas, diapun mengakhiri jam pelajaran sebelum waktunya, dengan memberi tugas tentu saja. Tugas yang mahasiswanya tak pernah mengerti apakah tugas tersebut dikerjakannya dengan benar atau tidak

Mahasiswanya? sebagian bersorak, sebagian manyun. Manyun? dia tidak mengerti penjelasan dosennya, dan merasa tak punya waktu mengunjungi perpustakaannya yang koleksi bukunya jutaan tapi penataan katalognya kacau. Mahasiswa itu berfikir “Ah, buang buang waktu saja aku kesana. paling yang ada referensi tahun 1945. Daripada gitu sih mending aku kerja, dapet duit. Biaya kuliah makin lama makin mahal, kalo ga kerja, bisa bayar darimana coba? tugas? aaah… gampang. Mbacem punya teman saja dah” Mahasiswa tersebut langsung cabut, pulang ke kost. Tidak ada kegiatan menarik, tempatnya yang panas gersang dengan makanan dengan harga mahal dan tarif parkir yang gila gilaan membuatnya tak betah di kampus.

daaan… bandingkan dengan yang berikut ini!

Dosen tersebut umurnya diperkirakan 45 tahun, tampak dengan mata berbinar mendengarkan presentasi mahasiswanya, sesekali dia nimbrung pada diskusi yang kadang memanas, yak! mahasiswanya sedang memperdebatkan penjelasan tentang topik yang dia tugaskan pada kuliah minggu lalu. Sesekali juga, dia menjelaskan kenapa, apa dan bagaimana yang seharusnya, dengan berbagai referensi dalam bentuk pdf. Gaya menjelaskannya santai dan tak terkesan menggurui. Pun dia juga menerima pendapat mahasiswanya dengan tangan terbuka. Kuliah ditutup degan tepuk tangan. Dan sang Dosen memberikan tugas, untuk dibahas dalam presentasi di pertemuan berikutnya. “Terimakasih, mahasiswaku. Kalian luar biasa! Untuk tugas minggu depan, beberapa bahan referensi sudah saya upload di blog saya. Silakan tugas diupload sebelum hari Senin pukul 22.00, selasa pagi kita bertemu lagi, dengan diskusi yang lebih panas lagi.Presentan terbaik akan mendapatkan bingkisan kecil dari saya. Jika ada kesulitan dan perlu bantuan dalam mengerjakan tugas, silakan tanya lewat Facebook atau twitter, ym saya juga online dari pagi hingga sore. kalo pertanyaannya panjang, dikirim lewat email saja.”
Mahasiswanya bersemangat mengakhiri kuliah, lantas menuju taman asri dengan koneksi wifi super kencang dan gratis, untuk mengunduh konten tugas, dan ehm… skype-an sama pacar di kampus lainnya. yang tak punya laptop, cukup ke lab komputer terdekat, akses internet gratis dengan cukup menggesek Kartu Tanda Mahasiswa dan melewati pemindai sidik jari, siap dinikmati.
Dosen senang, kerjanya tak terlalu berat, mahasiswapun riang. Banyaknya seminar dan kegiatan ekstrakurikuler, serta simulasi kewirausahaan, membuat kehidupan kampus tetap berdenyut hingga malam hari.
Ditunjang dengan pelayanan di kampus yang satu atap, mengurus apapun mudah. Mengecek IP tiap semesterpun bisa melalui sms. What a dreaaam college!

Naaaahhh… hayo… yang menurut anda kampus idaman yang mana? yang kampus favorit yang mana? Jujur, ilustrasi kedua adalah kampus dalam imajinasi saya, semoga terwujud tidak lama lagi, semoga pendidikan kita makin maju, dengan semangat mahasiswanya mencari ilmu (tidak sekedar gelar lantas dipakai korupsi)

okey, kita sudah ngoceh berbusah busah, selanjutnya, mari kita rangkum, kriteria kampus idaman versi saya (dan beberapa teman di Facebook) tadi.
Kampus idaman/ Kampus Favorit itu, seharusnya :
1. Tempat kuliah yang bersih, memadai dan nyaman serta modern, dilengkapi taman untuk relaksasi (bukan pacaran lho ya! :mrgreen: ), tempat parkir aman dan terkelola dengan rapi.
2. Memiliki referensi yang lengkap, terkini, serta mudah dalam mengakses jurnal, diktat kuliah, terutama dalam bentuk digital. Dosen dianjurkan memiliki sebuah blog.
3. Banyak presentasi ataupun diskusi dengan materi yang up to date
4. Dosen harus kreatif, gaul dan mengikuti perkembangan teknologi (misal:memanfaatkan social media dalam berinteraksi dengan mahasiswanya). Juga bisa berperan sebagai partner yang bersahabat dengan mahasiswanya.
5. Akses internet gratis dan kencang. Baik wifi maupun sarana laboratorium komputer untuk akses gratis.
6. Materi kuliah dan kurikulum yang up to date
7. Sering diadakan seminar penunjang kuliah dan pelatihan kewirausahaan dengan mahasiswa sebagai Event Organizernya.
8. Pelayanan administrasi satu atap yang selain memudahkan pelayanan administratif, juga menghemat biaya operasional itu sendiri.

Hayooo… siapa yang ndak suka punya kampus seperti ini? oiya, satu pertanyaan saya untuk Universitas Islam Indonesia (penyelenggara Lomba Blog UII), apakah UII sudah siap (atau memang sudah sesuai) dengan beberapa tuntutan menjadi kampus idaman seperti yang sudah saya sebutkan?
semoga sudah ya… saya rasa, diawali dengan membuat lomba blog seperti ini, menunjukkan itikad baik untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi, bukankah dunia terus berkembang? Mari sama sama jadikan pendidikan di negara kita, Indonesia, bisa sejajar dengan negara negara yang sudah maju terlebih dahulu. Yuk mariii…

postingan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog UII. Anda belum ikut? buruan ikut! Kalah menang, anda sudah berkontribusi dalam usaha memajukan pendidikan di Indonesia lho! Silakan sumbangkan komentar, baik setuju atau bertentangan, tidak masalah. toh, semua itu akan memperkaya kita. Ya ndak?

las but not least, doakan saya menang ya!

Wonosobo : sebuah perjalanan sebelum nikah mati (part 1)

sebuah imel dengan pengirim kemplu bernama Pepeng, mau tidak mau menyeret jari saya untuk ngeklik lebih jauh.

gimana nggak menarik, lha labelnya aja naujubilah banyaknya. saat itu saya baru sadar, kalo Pepeng suriwil itu telah mengirim imel yang sama ke beberapa milis yang saya ikuti sekaligus.

glek!

demi membaca isi imel, serta merta saya ngeces. ngiler. kayak gini deh

gimana enggak. acaranya JALAN JALAN dan GERATISSS!!! nggak bayar sepeserpun! Yang ngadain? komunitas blogger wonosobo (di postingan berikutnya diceritain deeeh…launchingnyaaa). Keren banget ini komunitas! baru juga berdiri, lansung bikin acara yang manjain blogger banget!

oh tuhanku, berkatilah mereka para pembuat acara ini. berkatilah Tyovan dan Bupati Wonosobo yang gawul ituh…

*berdoa khusyuk*

tanpa pikir panjang ( ah, dasar Siwi, priceless!) dan setelah mendapatkan kepastian tumpangan sampai Solo, saya putuskan Ladub! alias budal ke Wonosobo. berbekal kocek yang tipis sangat, dan hanya semangat untuk memotret n jalan jalan geratis, berangkatlah jua saya akhirnya…

bersama Abang Tiok, dimulailah perjalanan kami naek kereta. Yes, this is my first time numpak Pramex alias Prambanan Express. Keretanya bersih, jauh dari kesan kumuh seperti kereta ekonomi yang biasa saya tumpangi (ya eyalah, kespress gitu siw!) . Dengan banderol cukup 7 ribu rupiah, kami melintasi beberapa kabupaten. Aseli, keretanya enak! rasa jeruk! nggak sumpek, umpel umpelan, ples : BEBAS ASONGAN n PENGAMEN.  Selanjutnya, kami naek angkot n Bis. Inih dia… perjalanan menuju kota wonosobo, yang paling berkesan adalah naik Bis jurusan Wonosobo, setelah dari stasiun Kutoarjo dan terminal Purworejo. Semua, saya bakalan ngira bisnya gede seperti bis antarkota lainnya. Ternyatwa… bisnya cuwilik dan jalan yang dilewatiiii… alamakjaaang!

JUUUUAAAAUUUUUUHHH dan berkelok kelok.

untunglah, udaranya sejuk segar, nggak panas kayak surabaya. Jadi sedikit ngga kerasa perjalanan yang keknya lebih jauh daripada malang – sby ituh.

Daaan…akhirnya, sampai juga kami di sebuah tempat berjudul Balai Latihan Kerja. Suasana sepi semriwinggg, ples diiringi tatapan tajam *lebay* embak embak di asrama sebelah.  Sadarlah saya, sebagian besar peserta masih pada sholat jumat, dan bahwasanya tempat menginap saya ini adalah balai latihan kerja alias asramanya calon tekawe.  Tapppiii…meskipun BLK, tempatnya eeeennnaaaakkkk banget! berwaifi, swejuk, bersih, tenang, cocok buwat tidur dah! dasar, yang dipikirin tidur mulu!

Menjelang jam satu siang, mulai ada tanda tanda kehidupan. setelah itu, kami lansung digelandang ke sebuah tempat berjudul rumah makan Sindoro Sumbing. *ngeces* dateng dateng lansung ditodong makan reeek…

rm sindoro sumbing

rm sindoro sumbing

disitu sempet terGR GR bakalan disuruh nangkep ikan yang wara wiri di kolam, ikannya gede gede boook… terus disuruh mbakar or nggoreng sendiri.

ehehe… ternyata ikannya hanyalah hiasan sodara sodara! kita makannya ikan ayam goreng ternyata :D

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka pemusnah nasi

tersangka pemusnah nasi

nah, jika waktu itu persediaan nasi menjadi berkurang jauh, tersangka utamanya tak jauh jauh dari orang ini. tak percaya? inilah buktinya

inilah dia

sehabis dihajar, disampluk sampluk pake ayam goreng dan krawu, kita diseret menuju sebuah desa bernama Sapuran, untuk melihat lansung proses pembuatan batik aseli Wonosobo.

Lagi lagi, kita menempuh perjalanan yang amboooiii banget… disebut amboi karena jalannya amboi dan pemandangannya emang amboi beneran.

Satu lagi kekaguman saya pada kabupaten yang nyempil ini : BANYAK KOLAMNYA! hampir setiap rumah mempunyai kolam yang jernih dengan ikan ikan berlarian, eh berenang kesana kemari. Bisa disebut, wonosobo adalah negeri seribu kolam.   :lol:

Batik Wonosobo, dibuat secara hand made oleh penduduk aseli desa ini. Kebanyakan yang bikin ibu ibu, embak embak dan emak emak. :D . Ada yang dibikin pake cetakan, ada pula yang batik tulis, masih pake canting yang dicelupin ke cairan malam panas itu lho… *keinget mbatik pas jaman SMA*. Motif khasnya, adalah buah carica dan daun tumbuhan purwaceng. Carica dan Purwaceng, adalah tanaman khas daerah pegunungan Dieng. tentang carica dan purwaceng, akan saya bahas di postingan lainnya tunggu aja ;)

motif batik wonosobo

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa tas tangan

produk jadi berupa tas tangan

selanjutnya, mari kita mengintip “bengkel” tempat batik2 ini dibuwat…

cetakan motif purwaceng

cetakan motif purwaceng

lagi mbikin motif batik pake cetakan

lagi mbikin motif batik pake cetakan

naaah… itu tadi yang pake cetakan…

mari kita lihat yang batik tulis, sst… harganya konon lebih mahal lhooo…

lagi mbatik pake canting

lagi mbatik pake canting

batik belum diwarna

batik belum diwarna

batik belum diwarna juga

batik belum diwarna juga

naaah… berikut para ‘pahlawan’ batik kota wonosobo…

ibu ibu mbatik

ibu ibu mbatik

dan mereka yang berjuang melawan asap menyesakkan di ruang pewarnaan…

ruang pewarnaan

ruang pewarnaan

di ruang itulah, ibu ibu itu bertangisan, bukan sedih, tapi melawan asap yang emang perih di mata.

Sebagai usaha kecil, yang saya suka dari sini adalah pengolahan limbahnya yang patut diritu produsen2 skala gede. Ramah lingkungan bro!

Limbah pewarnaan batik dilewatkan dulu di semacam ‘penyaring’, baru kemudian dialirkan di parit parit kecil dengan air jernih mengalir.

saringan limbah

saringan limbah

sementara itu dulu deh yaaa… tunggu postingan sayah berikutnyah

:cool:

Telat 3 bulan Hari

Jika blogger normal lain (biasanya) memposting tentang ultahnya pada hari ultahnya tersebut (seperti yang pernah saya lakukan juga), maka kali ini saya telat 3 bulan hari.

dikarenakan berbagai macam kesibukan syuting, pemotretan, kunjungan ke daerah, ples kampanye calon legislatif di kampus, ya akhirnya sekedar apdet,

mau nulis panjang panjang kayak tahun lalu, masih berasa jetlag, yasudah… posting yang pingin diposting aja deh…

kucingpungut1

Kado dari Kakakpungut saya : Dogter Tito

kuwedariebes

kuwedariebes

Kado dari Ebespungut


kado dari temen baik

dan berjuta terimakasih buwat temen temen yang masih inget sama Chiw, udah ngucapin lewat telpun, sms, imel, fesbuk, dll.
Luv u aaalll!!!
*menebar pelukan*

  • Yang Punya Blog…

    Siwi Phiranti Rahayu
    Siwi Phiranti Rahayu

    Di KTM, namanya tercantum Siwi Piranti Rahayu, namun lebih populer dengan sebutan Chiw Imudz. Nick Chiw kadang jadi Ciw, Ciu, Chwi, Cwiwi, Cwimi, Chuwi,Bakpao,Chik Yen, dll. Tak apalah yang penting keren :cool: Seorang mahasiswa dari Jurusan Teknik KePramukaan, dan anggota UKM Perkapalan ITS yang lumayan jarang terlihat di Ruang Kuliah. Gadis pendiam dan anggun dengan tinggi (cuma) 150 cm ini sering ditemukan lagi nongkrong di Sanggar Pramuka ITS, n paling suka Ngalas, nglayap, n kegiatan2 berbahaya lainnya. Kecil, imud, sering bikin kangen orang lain.
  • Banner jugak

  • huwenak syekali...

  • Pengelola Banget

  • Komen Ga Penting Banget

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.