Kemaren (4 Desember 07) pas saya nyangkruk seperti biasa di warkop Mas Budi, ada berita dari koran Jawa Pos yang lumayan menggoda mata saya untuk membacanya lebih jauh.
Berita di bagian Jawa Pos itu membahas tentang Tren Pesta Nikah Antar TKW di Hongkong.
antar TKW ? ![]()
sejenak saya melupakan es Teh dan gorengan, demi mengkhusyukkan diri membaca kata demi kata di koran kebanggaan warga jawa timur tersebut.
========================================
Berikut kutipan dari berita tersebut (Dari jawapos.com edisi 5 Desember 2007)
Rabu, 05 Des 2007,
Tren ”Pesta Nikah” Antar-TKW di Hongkong (2-Habis)
Deklarasi Pertunangan di Bilik Karaoke Red Box
Tidak semua TKW melanjutkan hubungan sejenis mereka ke jenjang “pernikahan”. Bahkan, ada yang menolak terikat dalam “pertunangan” sekalipun. Mereka sadar bahwa suatu saat mereka akan pulang dan bertemu dengan anak dan suami di rumah. Berikut lanjutan laporan DWI SHINTIA IRIANTI.
———–
SELAIN Tai Po, ada beberapa tempat lain yang kerap digunakan pasangan tenaga kerja wanita (TKW) untuk melangsungkan pesta “pernikahan”. Biasanya, tempat-tempat itu tidak jauh dari Victoria Park, lokasi mangkal mereka saat libur bekerja.Red Box Karaoke di Jalan Great George, Causeway Bay, adalah salah satu pilihan favorit. Berdiri tepat di depan Victoria Park, tempat dugem itu terletak di lantai sembilan gedung yang juga markas butik dan pertokoan tersebut.
Tidak berbeda dengan tempat karaoke di Indonesia, Red Box mempunyai bilik-bilik bernyanyi yang bisa disewa per jam. Setelah enam hari penat bekerja di tempat tinggal majikan, ruang-ruang dengan lampu temaram itu jadi tempat yang nyaman dengan pasangan.
“Bila pas hari libur, kami bisa sewa tempat seharian. Mulai pukul 12.00 sampai 17.00,” kata Winda, wanita buruh migran asal Brebes, Jawa Tengah.
Tempat karaoke disukai karena tertutup sehingga bisa menjaga privasi mereka. Tidak jarang, bilik karaoke itu juga menjadi tempat “deklarasi” pasangan sejenis itu kepada teman-teman.
Kalau di Tai Po “ikatan hubungan” sejenis itu “dideklarasikan” dengan prosesi ijab kabul layaknya di kantor urusan agama (KUA), bahkan ritual-ritual pernikahan lain seperti di tanah air, di rumah karaoke acaranya agak beda. Tempat seperti di Red Box itu sering dipakai untuk pesta “pertunangan”. Suasananya pun tidak formal, tapi lebih fun.
Bila berniat menghelat pesta di tempat karaoke, sang pengundang bertanggung jawab untuk membayar tagihan berkisar HKD 3.000 (sekitar Rp 3,6 juta).
“Karena hanya pertunangan, jadi enggak ada penghulu-penghuluan. Hanya tukar cincin, dilanjutkan dengan pesta bersama teman-teman,” kata Winda yang mengaku sudah “bertunangan” dengan wanita sesama TKW.
Selain di Red Box, diskotek-diskotek yang tersebar di kawasan Wan Chai juga kerap menjadi tempat kongkow wanita pencinta sesama jenis untuk bertemu. Seperti yang disaksikan Jawa Pos saat masuk salah satu diskotek di sana, malam itu (28/11), meski bukan hari libur, diskotek di Hennessy Road tersebut penuh dengan buruh migran yang bertampang Indonesia.
Untuk masuk ke tempat itu, pengunjung harus membayar HKD 40 (sekitar Rp 48 ribu). “Di sini memang salah satu tempat kumpulnya TKI lesbian di Hongkong,” kata Yulia Mulyani, buruh migran Indonesia yang menemani Jawa Pos.
Pernyataan perempuan yang hari itu sedang libur tersebut memang benar. Semakin malam, pengunjung yang berpasangan sesama jenis makin memenuhi ruang yang ingar-bingar dengan musik disko itu. Gaya mereka mudah dikenali. Umumnya berambut cepak dan berdandan ala lelaki. Namun, ada juga yang bergaya perempuan biasa. “Tidak semua kaum lesbian bergaya seperti lelaki,” tutur Yulia.
Ada banyak alasan mengapa hubungan sesama jenis terjadi di kalangan TKW di bekas koloni Inggris itu. Ganik, janda berumur 33 tahun yang sudah hampir satu dekade mencari peruntungan di Hongkong, mengaku pernah menikah dengan lelaki berkewarganegaraan Singapura. “Sebelum di sini, saya bekerja di Singapura,” katanya.
Menghabiskan enam tahun sejak 1987 di negeri pulau itu, pernikahan Ganik hanya seumur jagung. “Entah mengapa, lama-lama rasanya hampa hidup bersama suami. Padahal, mantan suami saya itu tipe orang yang romantis,” ujarnya.
Dengan alasan itu, Ganik pun memutuskan untuk bercerai dari suaminya dan pulang ke tanah air. Hanya bertahan tiga tahun, pada 1996, perempuan lulusan SMP itu kemudian jadi TKW di Hongkong. Di situlah, Ganik menemukan cinta meski berasal dari sesama jenis.
“Sampai saat ini, sudah dua kali saya ganti pasangan. Yang pertama bertahan empat tahun dan dengan yang terakhir ini sudah jalan tiga tahun,” sambungnya.
Menurut Ganik, sejatinya tidak ada perbedaan mencolok antara menjalin hubungan dengan lelaki dan perempuan. “Selain fisik, semuanya sama saja. Ada berantemnya, ada baikannya. Sama sajalah,” katanya.
Tidak semua TKW setuju dengan hubungan sejenis itu. Yuliani Senari, salah seorang aktivis Asosiasi Tenaga Kerja Hongkong, mengaku tidak bisa menutup mata terhadap adanya sebagian kecil TKW yang terperangkap dalam hubungan cinta sejenis.Meski sebagian TKI di Hongkong menganggap hal itu urusan pribadi, Yuliani menyatakan hal itu bisa mengganggu citra mereka. “Bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk keluarga TKI lain yang tidak mengerti, fenomena itu bisa mencemaskan mereka,” kata perempuan yang akrab dipanggil Yani tersebut.
Beberapa pasangan TKW sadar hubungan intim mereka di Hongkong hanyalah sementara. Karena itu, untuk melangkah sampai ke “pertunangan”, apalagi “menikah”, mereka masih pikir-pikir. Sebab, suatu saat mereka akan pulang ke tanah air, tempat anak dan suami menunggu.
“Saya memang mencintai sesama. Tetapi, ’menikah’ seperti itu jauh dari bayangan saya,” kata Semi Aprilia, buruh migran berumur 26 tahun asal Magetan, Jawa Timur, yang sudah delapan tahun di Hongkong.
Mengenakan rok cekak yang dipadankan dengan baju kaus tanpa lengan dan berjaket jins, Semi mengaku sudah punya pacar perempuan. “Tetapi, saya tidak mau ’menikah’ seperti teman-teman itu. Kasihan keluarga di rumah,” kata Semi saat ditemui di toko majikan yang berada di kawasan Mong Kok.
Menurut perempuan berambut panjang yang memiliki anting di hidung itu, meski jauh dari rumah, informasi mengenai kegiatan TKI mudah menyebar ke kampung halaman. “Yang saya lakukan hanya kesenangan belaka. Untuk menghibur diri bila capek kerja,” ujarnya. (el)
================================================
Panjang ya? *ini kutipan hari ini lho, yang kemaren nyari di jp.com ga ada. ampuuun*
Saya terpekur membaca. Sedetik kemudian tersadar, yaolo… ini kelakuan bangsaku juga.
Cewek sesama cewek- pacaran- sampe nikah. Sudah sedemikian bejat-nyakah dunia?
*menghela nafas*
Gaya hidup lesbian di kalangan BMI (Buruh Migran Indonesia) sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Konon, mereka ‘tertular’ gaya hidup buruh migran asal Filiphina yang ‘dituduh’ lebih dahulu membawa virus lesbi tersebut. Didukung dengan kultur setempat yang tidak mempedulikan hubungan apapun serta minimnya kaum laki laki, sepertinya semakin mempersubur jumlah pasangan lesbian, dan bukan sekedar pasangan pacaran saja, banyak dari mereka yang ‘mengesahkan’ hubungannya melalui ikatan pernikahan. Tantunya bukan pernikahan sungguhan seperti pernikahan yang lazim dilakukan antara pasangan ‘beneran’, pernikahan disini lebih berfungsi sebagai deklarasi bahwa pasangan tersebut sudah resmi menjadi ‘suami – istri‘.
Dan jangan heran ketika mengetahui bahwa mereka yang ‘menikah’ itu sudah memiliki keluarga di tanah air. Bahkan, sebagian mengaku didukung oleh sang suami dan semakin menyedihkan ketika disebutkan disitu bahwa pernikahan mereka direstui sepenuhnya oleh Sang suami, dengan alasan :Suami mereka lebih rela istrinya berpacaran dengan wanita daripada pria. Pola pikir macam apaaaaa ini?
*geleng geleng*
===============================================
tulisan ini belum selesai. akan segera diapdet begitu penulis ada waktu… hohoho…
Baca juga :
1. Cenderawasih Post
2. Janji di toko abadi
sekrinsyur :
![]()










