Kesalahan?

Ceritanya hari itu saya diundang oleh junior junior maupun senior senior saya di organisasi dimana saya tergabung. Undangannya adalah buka puasa bersama, sekalian mereka semua (rekan rekan seorganisasi) meminta saya untuk menjadi pembicara pada acara yang menjadi acara sebelum berbuka puasa. Katakan saja semacam acara kultum (kuliah tujuh/tujuhpuluh menit :D ). Dimana yang akan menjadi pendengar adalah calon calon anggota baru organisasi dimana saya tergabung.

Isi totalnya dari materi yang saya berikan mungkin tidaklah penting, namun yang lebih penting adalah suatu hal yang sangat mungkin sekali menjadi kesalahan saya dalam menyampaikan materi.

Pada malam sebelum saya menjadi pemateri diacara tersebut, saya membaca artikelnya Bang Fertob yang berjudul Death of The Blogger/Hero (2/1,019,835), dan Death Of The Blogger. Termasuk juga membaca blog miliknya seorang almarhum blogger yang menjadi bagian pembahasan didalamnya.

Sebenarnya tidak ada masalah dalam pembacaannya artikel artikel tersebut. Meskipun saya akui bahwasanya saya tidak mengerti maupun meresapi sepenuhnya makna, pesan, atau apapun yang terkandung didalam artikel artikel tersebut. Bisa juga dikatakan bahwasanya saya menggunakan tulisan tulisannya Bang Fertob sebagai bahan acuan atau tambahan buat menjadi pemateri kelak.

Saya sempat terpaku pada beberapa potongan kata kata yang membentuk suatu kalimat (kalimat kalimat) didalamnya. Adapun mereka yang membuat saya terpaku itu adalah

Padahal inti dari sebuah perdebatan terhadap ide bukanlah PENERIMAAN tetapi TOLERANSI. Mengutip komentar Mbak Lita di salah satu blog (maaf nggak saya link, mbak), intinya adalah tolerance and not acceptance.

Sekarang apa inti masalahnya? Masalahnya adalah saya menyampaikan “tolerance and not acceptance” sebagai “acceptance and not tolerance” saat saya memberikan sedikit “ceramah” buat calon calon anggota baru.

Acceptance and not tolerance. Menerima tapi tidak memberikan toleransi. Misalnya begini. Saya bisa menerima apa yang dilakukan oleh para manusia manusia/ahli agama (agama apapun!) yang suka menggunakan pengeras suara untuk teriak teriak menyebarkan polusi suara dan menggangu ketenangan orang lain, termasuk meracuni pendengaran. Namun jikalau suatu saat saya yang berada diposisi mereka, saya tidak akan memberikan toleransi pada hal hal macam itu. Saya akan matikan pengeras suaranya, atau menyetel volume pengeras suaranya.

Bagitulah kiranya yang saya sampaikan. Apa yang saya tuliskan itu hanya sebagian dari keseluruhan materi yang saya sampaikan, dan tidak sama persis, soalnya saya tidak bisa dengan persis mengingat apa yang sudah saya sampaikan saat itu.

Mulai terfikir ulang oleh saya. Apakah statement tadi benar? Apakah benarnya absolut?. Apakah benar secara tata bahasa? Yang jelas otak saya mampu menyalurkan pembenaran yang berbentuk “acceptance” memang merupakan sebuah bentuk penerimaan. Kalau saya tidak menerima apa yang dilakukan para poluter suara itu, saya sudah ngamuk ngamuk dan meminta mereka berhenti untuk mengotori suara dan ketenangan dengan segala macam noise yang mereka lakukan. Dan hal itu adalah konyol! Gila, konyol, goblok, bahkan kafir hingga murtad bisa menjadi cap di dahi dan di status sosial saya jikalau saya benar benar melakukannya.

Sedangkan bentuk dari “tolerance” adalah menerima sekaligus meneruskan dengan melakukan, merestui, dan lain sebagainya termasuk mendalami. Jadi, jika saya “tolerance” terhadap kegiatan mengotori suara dan ketenangan, maka saya akan dengan sangat senang hati menerima apa yang dilakukan oleh para poluter suara. Bahkan saya mendukung sepenuhnya. Kalau perlu saya juga nyumbang suara untuk disebarkan lewat pengeras suara.

Analogi lainnya adalah. Saya melakukan “acceptance” terhadap mata kuliah KEWIRAAN yang diajarkan dibangku kuliah dahulu. Namun materi kuliah dan bahkan dosen penyampainya saya tidak suka dan tidak “tolerance”. Untuk itulah saya tidak bakalan mendalaminya, mempelajarinya lebih lanjut. Tidak akan suka akan mata kuliahnya.

Sementara terhadap mata kuliah READING saya “tolerance”. Meskipun ujung ujungnya saya banyak mendapat nilai yang tidak baik secara akademis. Namun saya menyukainya, mendalaminya, mempelajarinya lebih lanjut. Dalam scope yang lebih luas. Saya “acceptance” terhadap semua mata kuliah yang saya dapatkan semasa berkuliah. Namun saya tidak “tolerance” terhadap semua mata kuliah yang saya ambil.

Sekarang. Yang sebenarnya ingin saya pertanyakan adalah. Apakah terbaliknya saya dalam menyampaikan “tolerance and not acceptance” sebagai “acceptance and not tolerance”, bahkan sampai sampai mengelaborasi“tolerance and not acceptance” sebagai “acceptance and not tolerance” sehingga menjadi sebuah statement yang nampaknya berbobot merupakan sebuah kesalahan fatal?

Bentuk pertanyaan lain. Where do we put the word “tolerance”? Is it placed before, or after the word “acceptance”?

Note: If you have the answer or opinion. Please elaborate it. I am sure yours will be very useful. Thank you.

Ditulis disini, karena hal ini selalu mengganjal. namun berhubung sudah pensiun ngeblog. maka dikirim melalui blog Istri.
Ttd
Neo Forty-Nine

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.