Selamat Jalan, Sultan…

Selamat bertolak ke negeri pohon berdaun uang,
dan sungai berarus coca-cola.

Saat sebuah elang bisa terbang sendiri,
apalah daya sarang untuk melawannya?

Sarang cuma bisa kesepian.

Tetapi sarang tak lupa berterima kasih,
karena elang menitipkan hati untuk dikenang,
dan hasrat untuk diteruskan.

Maka, sebenarnya elang tak pernah pergi,
karena yang ia titipkan,

tak pernah hilang.

opo ki :o

sebait puwisi dari saudara Herman Saksomon di atas sebenernya cukup bagus ,  hanya diiringi kata penutup yang njengkeli dan tiba tiba merusak isi puwisi yang sebelumnya.
*sok korektor *

dan maaf, saya ndak ngereview puwisi tersebut sebenernya . Cuman, karena saya suka puwisinya , yaudah…comot aja…
dan ternyata mas Herman Saksomon terbukti tak hanya berbakat jadi Corporate Communication Director, tapi juga jadi penyair kontemporer. Oh iya, kita ndak mau ngomongin sual Mas Herman Saksomon ya? 

Seperti judul di atas… kami sedang kehilangan sultan kami , sebuah sosok yang bijaksana, dewasa, gagah, berwibawa, pandangan mata meneduhkan, nada bicara tegas, penuh sopan santun, dan memikat banyak wanita . Oh maaf… jikalau definisi tersebut terlalu berlebihan . itu memang definisi umum tentang Sultan ataupun raja raja dalam negeri dongeng . Tapi jangan bayangkan sultan kami seperti itu, karena kami tidak sedang hidup di Negeri Dongeng . Sultan kami sangat jauh dari tampang bijaksana, dewasa?apalagi! gagah? sangat tidak! berwibawa? omaigat!  itu apalagi… dengan pandangan mata yang menusyuk dan bicara penuh pisuhan. Memikat? oke… satu satunya wanita yang dipikatnya adalah Mbak Memet…yang mungkin saat itu sedang kena penyakit katarak…

Tapi, sejelek apapun, Sultan kami tetaplah Sultan . Yang mengayomi para jelatanya dengan penuh kasih sayang . Meskipun beliau tidak terlalu fasih dalam berbahasa Indonesia , bahasa tubuh beliau cukup membuat kami mengerti bahwa kasih sayangnya begitu besar untuk kami, para jelata yang kesepian dan mengharap uluran tangan dari kalian semua .

Sultan, masih teringat kala kita bertiga trisum  (bersama dengan simbok ) merencanakan pembunuhan nista untuk salah seorang tokoh besar revolusi blog? Saat itu, aku tak menyangka kau bakal menjadi Sultanku . Bagaimana mungkin, seorang kanibal yang jahat dan gahar akan menjadi seorang pemimpin?  bisa jadi, suatu saat, saya yang bakalan dikrakoti sama dia. Tapi, jujur saja, saat itu saya sangat menikmatinya . Membayangkan menjadi seorang pembunuh sadis terhadap orang yang layak dibunuh memang menyenangkan!

Ah, sultan … hari memang telah tiba waktunya :cry: . Sudah saatnya Ndoyokarta melepasmu dari pelukan , demi 5 juta per minggu. demi masa depan yang lebih baik. Pesan kami, tetaplah mencintai kami , tetap kucurkanlah gajimu kasih sayangmu pada kami, para jelata yang haus akan traktiran kasih sayang.

Selamat Jalan, Sultan, damai menyertaimu selalu…

Postingan terkait
1. Eko Kasela
2. Tika 3D
3. Momon 3d
4. Antokbil
5. Pak Dhe
6. Memet
7. Peter
8. Sri Bagindi
9. Leksa, kembarannya peter
10. Jeng Tikabanget
11. Pak Yahya
12. Pepeng Sukoprol
13. Portal Cahandong
14. The Sandalilang
15. Balibulbul
16. Antots

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.