Ma Biggest Problem…

” Your biggest problem is : You Couldn’t say, what you wanna say!”

 

Kata – kata itu selalu kuingat. Itu adalah kata2 kedua, dari 2 orang berbeda, dan disampaikan dengan bahasa yang berbeda juga. Sedikit berbeda, ungkapan kedua ini dibumbui dengan acakan pada rambutku (lebih tepatnya ‘njundu’ menurut bahasa Jawa), seolah menganggapku sebagai orang paling goblok ato anak kecil yang buandel banget.

Awalnya,aku emang gak menyadari ini dan memang kurang begitu peduli. Yah, aku bisa dimasukkan dalam kelompok orang – orang cuek yang kadar cueknya melebihi ambang batas, sampek jadi polusi.Halagh…ngawur…

Jadi begini, ternyata hal yang dikatakan kedua temanku itu bisa jadi satu masalah besar buatku sendiri. Why? ya iyalah…wong ngungkapkan apa yang kuinginkan aja gak bisa…gimana orang lain bisa ngerti apa yang tak pingini?

Kalo dalam pergaulan sehari – hari sih, mungkin gak begitu bermasalah lah…Lha, akan jadi masalah kalo ini menyangkut tentang ideologi, atau yang lebih sederhana, pemikiran yang sudah tertanam dan berlaku dalam suatu komunitas. ( Lha, baru nulis sampek sini aja udah kesulitan ngungkapinnya gimana). Pemikiran yang terabadikan, diakui, dan menurun dari zaman ke zaman, generasi ke generasi, hingga diakui menjadi semacam kitab suci, atau sesuatu yang seharusnya dianut (Lho, Lak agama? Ohoho…bukan…gak sampe se ekstrim itu).
Nah, pemikiran itu juga yang dianut oleh komunitasku saat ini. Dan aku gak akan membicarakan masalah pro kontra ttg  pemikiranku ini, karena udah sempurna banget menurut beberapa literatur. Jadi, nanti aku malah salah kalo mbahas…
ya iyalah…wong ngerti aja aku kagak…apalagi pake sok pinter mbahas…

Jadi begini teman teman…ternyata selama hidup brapa puluh taon disana itu, aku sama sekali gak ngerti tentang apa yang harusnya kami jadikan panutan itu…Lebih benernya sih, selama ini aku gak mikirin itu. Jujur aja, ya memang itulah yang selama ini terjadi. Dan meskipun begitu, aku masih bangga pada diriku sendiri karena aku berani dengan jujur mengakuinya. Aku sendiri pernah ragu, apakah semua pendahuluku dulu ngerti tentang ini.Walaupun aku juga yakin, sebagian besar pasti udah ngerti. Mereka orang – orang hebat,Bung…

Jadi begini cuplikan ‘kejadian’nya

” Mohon maaf saudara – saudara sekalian, sebelumnya saya tidak tau kalau hal ini yang akan dibahas. Dan mohon maaf, sampai saat ini bahkan saya tidak memikirkannya “

dan otomatis setelah itu, banyak lagi pertanyaan yang menghujam tajam ke lubuk hati yang paling dalam… (weks)

Ya iyalah…Lha terus selama disini aku ngapain aja?berkegiatan, ngumpul2, seneng – seneng, sedih2 juga sebenernya tapi gak mikir apa yang seharusnya aku pikirkan??? Lha terus gimana donk, caranya aku bisa naik ke level yang lebih tinggi??? Lha wong standartnya aja aku gak ngerti…yo otomatis gak iso lah ker…yang standart aja gak tau (lebih parahnya lagi:gak mikir) mana bisa jadi yang lebih sempurna?Jadi aku ngapain aja donk?

wah, sebenernya banyak banget yang mau kutulis disini, berhubung udah malem banget, tak terusin besok aja deh…
wish me a gut lak ya…

*whatever will happen, i love ma self, just the way I am!*

14 Komentar

  1. nulis apa sih ini?
    ni seriuss,pa gmn?koq gayanya nyindir abis y?
    maaf, ga ikut2an campur deh!
    btw, salam kenal ya!

  2. Wah, hidup tanpa panutan seperti jalan tanpa rambu dong. Memang enak ndak ada yang mengatur, tapi bagaimana kalo ada orang yang juga ndak punya aturan nabrak kita? Kadang kita baru menyadari perlunya panutan saat kita benar-benar tersesat dan tak tahu harus kemana

  3. Its not about telling what you want, its about attitude….

    Kalo ngga bisa ngomong, tapi bisa bersikap, sama aja kok mbak

  4. #Qzoners
    Hmm…apa saya mengatakan saya hidup tanpa panutan di tulisan ini?
    Mohon maaf, apa salah kirim komen ya?
    kekeke, gapapa deh…
    maap lagi…kali ini saya bahas masalah kelemahan saya, gitu…
    btw, yap, sepakat deh, yang namanya hidup, sak bobrok2e ya tetep harus ada aturan (Lha aturannya : hiduplah bobrok :-)) …
    Lha wong bajak laut aja juga punya aturan kok…ya nggak?
    btw, makasih atas kunjungan Anda🙂

    #Raffael
    Waw!such a nice words…
    Thankz for komen yang menyejukkan hati ini yak…

  5. wah aku punya masalah yang sama, tapi gak pada semua orang. cuma ama bossku secara orangnya pinter banget, semua ideku kayaknya gak ada artinya di depan dia. dammmnnn. tapi aku akui dia emang orangnya pinter. aku lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik aja depan dia. dan yang pasti bener kata Raffel, mencoba untuk selalu bersikap baik dan Adaptive!! it’s work so far!!!

    salam kenal!!

  6. salam kenal kembali😀

    apalagi kalo disuruh pidato tanpa persiapan tuh..hehehe

  7. level? emang dewan jurinya siapa?😛

    emang nanti kalau hasil penilaiannya disampaikan kamu masih perlu tahu ta?

    btw, kamu kok jarang keliatan di sekitar kantin lagi? macak sibuk kulihah ta?😛

  8. wah… anak ini aktif juga blogging ternyata!!!
    gimana warnet kamu rame gak? tadi mampir ke sana bentar keren juga layoutnya, sejuk pula…🙂

    GUDLAK deh!!!!!

    salam pramuka!🙂

  9. #co-that
    waw!kayaknya kita sama, Mas. Itulah masalahnya…saya mati rasa…eh…nggak…nggak bisa ngomong, semua yang udah tersusun rapi, ilang gitu aja, bahkan njawab pertanyaan kecil aja ga bisa…
    Gejala apa itu ya?
    btw, Salam kenal juga!
    -)

    #anung
    wah, kalo disuruh pidato lancar2 aja tuh…
    beda suasana kali ya?

    #mardun
    dewan juri?adda deeh…
    Lho dun?aku kan emang rajin kuliah?emange pernah keliatan kalo aku mbolos?ndak tho?😀

    #dj dion
    aLhamduLillah, boz…lumayan…
    layoutnya keyen…ah…biasa kok *dengan kepala mulai membesar*
    sejuk? iyalah… *dengan kepala yang makin membesar*
    gyehehe

  10. sebenarnya kita cuma kurang PD coba untuk diam dan mendengarkan terlebih dahulu. coba cari timing yang tepat untuk utarakan pendapat… sejauh ini sangat manjur… jadi intinya ngomong saat yang tepat, jangan gegabah karena akan mengurangi kelemahan kita… yahhh gitu dehhh susah emang kalo cuma dijelasin gini, emang mesti analisa dan merasakan sendiri!!

  11. #co-that
    waw!keyeenn…
    ada kalanya memang seperti itu Mas. Tapi kadang otak ini tak mau diajak kompromi ketika kita ‘dipaksa’ bicara pada kondisi yang membuat kita tidak nyaman atau dipaksakan merasa nyaman
    ketika kita diminta untuk menggambarkan situasi yang kita tidak mengerti, atau membuat situasi seperti situasi-yang-tidak-kita-mengerti- tersebut.
    Bisa jadi juga karena kekurangpekaan seseorang untuk merasakan situasi-itu- yang menyebabkan kesulitan untuk mendefinisikan situasi-itu yang ideal.
    Njelimet ya, penjelasan saya?
    ya memang…
    kekeke
    Thankz mas…

  12. masih lebih baik dong, kamu tau kekurangan kamu&terang terangan nulis tentang ini.
    jarang ada orang yang mau mengakui kekurangannya dihadapan orang lain lho (termasuk saya ini)
    hehehe

  13. sedikitt pusing but I got the point!! kalau emang situasinya gak bisa dimengrti, mintalah pengertian dengan pertanyaan!! pertanyaan tidak selalu membuat kita terlihat bodoh!! asal cara bertanyanya benar dan pada waktu yang tepat, malah bisa menunjukan ke-intelektual-an kita!! heheh emang team itu sangat perlu….!!

    “no body perfect but a team can be”

    hehehe cuma pengen berbagi pengalaman, gak bermagsud menggurui!! mudah2han bermanfaat!!

  14. hiks,, Ma ada teman!!

    Ma juga gitu…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s