Wonosobo : sebuah perjalanan sebelum nikah mati (part 1)

sebuah imel dengan pengirim kemplu bernama Pepeng, mau tidak mau menyeret jari saya untuk ngeklik lebih jauh.

gimana nggak menarik, lha labelnya aja naujubilah banyaknya. saat itu saya baru sadar, kalo Pepeng suriwil itu telah mengirim imel yang sama ke beberapa milis yang saya ikuti sekaligus.

glek!

demi membaca isi imel, serta merta saya ngeces. ngiler. kayak gini deh

gimana enggak. acaranya JALAN JALAN dan GERATISSS!!! nggak bayar sepeserpun! Yang ngadain? komunitas blogger wonosobo (di postingan berikutnya diceritain deeeh…launchingnyaaa). Keren banget ini komunitas! baru juga berdiri, lansung bikin acara yang manjain blogger banget!

oh tuhanku, berkatilah mereka para pembuat acara ini. berkatilah Tyovan dan Bupati Wonosobo yang gawul ituh…

*berdoa khusyuk*

tanpa pikir panjang ( ah, dasar Siwi, priceless!) dan setelah mendapatkan kepastian tumpangan sampai Solo, saya putuskan Ladub! alias budal ke Wonosobo. berbekal kocek yang tipis sangat, dan hanya semangat untuk memotret n jalan jalan geratis, berangkatlah jua saya akhirnya…

bersama Abang Tiok, dimulailah perjalanan kami naek kereta. Yes, this is my first time numpak Pramex alias Prambanan Express. Keretanya bersih, jauh dari kesan kumuh seperti kereta ekonomi yang biasa saya tumpangi (ya eyalah, kespress gitu siw!) . Dengan banderol cukup 7 ribu rupiah, kami melintasi beberapa kabupaten. Aseli, keretanya enak! rasa jeruk! nggak sumpek, umpel umpelan, ples : BEBAS ASONGAN n PENGAMEN.  Selanjutnya, kami naek angkot n Bis. Inih dia… perjalanan menuju kota wonosobo, yang paling berkesan adalah naik Bis jurusan Wonosobo, setelah dari stasiun Kutoarjo dan terminal Purworejo. Semua, saya bakalan ngira bisnya gede seperti bis antarkota lainnya. Ternyatwa… bisnya cuwilik dan jalan yang dilewatiiii… alamakjaaang!

JUUUUAAAAUUUUUUHHH dan berkelok kelok.

untunglah, udaranya sejuk segar, nggak panas kayak surabaya. Jadi sedikit ngga kerasa perjalanan yang keknya lebih jauh daripada malang – sby ituh.

Daaan…akhirnya, sampai juga kami di sebuah tempat berjudul Balai Latihan Kerja. Suasana sepi semriwinggg, ples diiringi tatapan tajam *lebay* embak embak di asrama sebelah.  Sadarlah saya, sebagian besar peserta masih pada sholat jumat, dan bahwasanya tempat menginap saya ini adalah balai latihan kerja alias asramanya calon tekawe.  Tapppiii…meskipun BLK, tempatnya eeeennnaaaakkkk banget! berwaifi, swejuk, bersih, tenang, cocok buwat tidur dah! dasar, yang dipikirin tidur mulu!

Menjelang jam satu siang, mulai ada tanda tanda kehidupan. setelah itu, kami lansung digelandang ke sebuah tempat berjudul rumah makan Sindoro Sumbing. *ngeces* dateng dateng lansung ditodong makan reeek…

rm sindoro sumbing

rm sindoro sumbing

disitu sempet terGR GR bakalan disuruh nangkep ikan yang wara wiri di kolam, ikannya gede gede boook… terus disuruh mbakar or nggoreng sendiri.

ehehe… ternyata ikannya hanyalah hiasan sodara sodara! kita makannya ikan ayam goreng ternyata :D

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka pemusnah nasi

tersangka pemusnah nasi

nah, jika waktu itu persediaan nasi menjadi berkurang jauh, tersangka utamanya tak jauh jauh dari orang ini. tak percaya? inilah buktinya

inilah dia

sehabis dihajar, disampluk sampluk pake ayam goreng dan krawu, kita diseret menuju sebuah desa bernama Sapuran, untuk melihat lansung proses pembuatan batik aseli Wonosobo.

Lagi lagi, kita menempuh perjalanan yang amboooiii banget… disebut amboi karena jalannya amboi dan pemandangannya emang amboi beneran.

Satu lagi kekaguman saya pada kabupaten yang nyempil ini : BANYAK KOLAMNYA! hampir setiap rumah mempunyai kolam yang jernih dengan ikan ikan berlarian, eh berenang kesana kemari. Bisa disebut, wonosobo adalah negeri seribu kolam.   :lol:

Batik Wonosobo, dibuat secara hand made oleh penduduk aseli desa ini. Kebanyakan yang bikin ibu ibu, embak embak dan emak emak. :D. Ada yang dibikin pake cetakan, ada pula yang batik tulis, masih pake canting yang dicelupin ke cairan malam panas itu lho… *keinget mbatik pas jaman SMA*. Motif khasnya, adalah buah carica dan daun tumbuhan purwaceng. Carica dan Purwaceng, adalah tanaman khas daerah pegunungan Dieng. tentang carica dan purwaceng, akan saya bahas di postingan lainnya tunggu aja ;)

motif batik wonosobo

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa tas tangan

produk jadi berupa tas tangan

selanjutnya, mari kita mengintip “bengkel” tempat batik2 ini dibuwat…

cetakan motif purwaceng

cetakan motif purwaceng

lagi mbikin motif batik pake cetakan

lagi mbikin motif batik pake cetakan

naaah… itu tadi yang pake cetakan…

mari kita lihat yang batik tulis, sst… harganya konon lebih mahal lhooo…

lagi mbatik pake canting

lagi mbatik pake canting

batik belum diwarna

batik belum diwarna

batik belum diwarna juga

batik belum diwarna juga

naaah… berikut para ‘pahlawan’ batik kota wonosobo…

ibu ibu mbatik

ibu ibu mbatik

dan mereka yang berjuang melawan asap menyesakkan di ruang pewarnaan…

ruang pewarnaan

ruang pewarnaan

di ruang itulah, ibu ibu itu bertangisan, bukan sedih, tapi melawan asap yang emang perih di mata.

Sebagai usaha kecil, yang saya suka dari sini adalah pengolahan limbahnya yang patut diritu produsen2 skala gede. Ramah lingkungan bro!

Limbah pewarnaan batik dilewatkan dulu di semacam ‘penyaring’, baru kemudian dialirkan di parit parit kecil dengan air jernih mengalir.

saringan limbah

saringan limbah

sementara itu dulu deh yaaa… tunggu postingan sayah berikutnyah

:cool:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.