Kampus Idaman? seperti apa sih?

Apa yang terbersit di benak anda ketika pertama kali mendengar kata kuliah? Biasa saja? Ah, saya kira tidak. Buat orang desa seperti saya, kuliah adalah kalimat sakti! Kata2 keramat yang bisa menaikkan derajat anda beberapa senti lebih tinggi, serta menjadi lirikan para calon mertua dan suami. Ibaratnya, masa depan yang indah itu tak terlalu susah untuk diraih (definisi masa depan indah adalah gampang cari suami/istri. hahaha! naif)

gambar dari oom Google.com

Apa kuliah saja cukup? Buat sebagian orang mungkin. Tapi bagi sebagian besar lainnya, yang namanya kuliah di kampus ngetop, kampus favorit, tetep jadi embel embel yang tak kalah pentingnya. Mari kita simak dialog berikut :

“Eh, tau nggak sih, si Siwi itu lhooo kuliahnya di kampus favorit”
“eh masa sih??? Siwi anaknya pak Iksan ituuu?”
“iya, yang anaknya sejak dulu emang pinter itu lhooo. dia kuliah di ITS! keren nggak siiih” (sidang pembaca sekalian dilarang protes yaaa)

dan andapun bisa sedikit menegakkan kepala karenanya. Kenapa sedikit? Karena eh karena… Ternyataaa… Kenyataan memang seringkali berlawanan dengan keinginan. Kehidupan kuliah tak seindah yang dibayangkan.
Bahkan di kampus yang dikatakan favorit. Ha! Tentu saja tidak!

Kenapa bisa tidak menyenangkan?

berikut beberapa jawabannya :
1. Ah ini tidak fair! Saya mati matian meraihnya, ternyata hanya gitu gitu aja di kampus! (responden A, tidak mau disebut namanya)
2. Saya kira saya bakalan mendapatkan sesuatu yg benar2 baru di kampus ini selain jas almamater yg dipakai setahun sekali itu! (responden B, juga tak mau disebut namanya)
3. Mbosenin. kalo nggak terpaksa gara gara bayarnya mahal, mending jualan es tebu deh (responden C)
4. Capek cari referensi. Bukunya kebanyakan bahasa inggris dan harus ke perpustakaan. Mana sempat? (responden D)

Lha? Kenapa bisa begitu? Apa yang salah? Kenapa bermain facebook (dan aktivitas online lainnya) bisa jauh lebih mengasyikkan daripada aktivitas kuliah? Apa fasilitas di kampus kurang? Apa biayanya kemahalan?apa apa apa apa??? mari kita kupas satu persatu, setajam… silet!

Hmmm… Pastinya masih banyak lagi pertanyaan donks… Nah… Untuk itu, mari mari kita diskusikan masalah ini bareng bareng, dengan kepala dingin (dan nempel tentunya).

Okkkkeeee lets start dari wawancara dengan beberapa narasumber (beberapa dari jawaban atas status saya di Facebook, tentang kondisi kampus idamannya. Yang seperti apa siiih, kampus idaman versi kalian itu?

Narasumber 1 : yang suasananya enak, pergaulan sehat, dan bersahabat, trus fasilitas pendidikan yang mantab.
Narasumber 2 : Jelas ceweknya kudu banyak, n seger seger (tolong dihiraukan, ini jelas mahasiswa dari jurusan minim cewek)
Narasumber 3 : Ruangannya adem, enak buat tidur, fasilitas lengkap, murah
Narasumber 4 : Kalo cari referensi tugas or bahan kuliah gampang, sering ada seminar juga biar update informasi n nambah sertifikat.
Narasumber 5 : Biayanya ndak mahal, fasilitas wifi yg gratis kenceng, lab lab difungsikan maksimal.
Narasumber 6 : fasilitas lengkap, dosennya juga berkualitas, and kurikulumnya juga ngikutin perkembangan zaman ( khusus buat IT).
Narasumber 7 : dosennya cakep cakep dan keren keren, gaul gak gaptek. masa jaman digital, masiiih ada ngandalkan papan tulis pakek kapur, terus materinya difoto kopi. nggak praktis.
Narasumber 8 : yang punya perpustakaan yang up to date, nyaman, plus ngasih wifi gratisan yang lancar jaya.
Narasumber 9 : parkir murah (gratis) tempatnya jauh dari kebisingan

oke oke, saya rasa cukup segitu dulu hasil survey ngawurnya. mari kita beranjak ke pembicaraan serius kali ini (ehem). Dan ini menurut pendapat saya, tidak terlalu nyambung dengan hasil survey, tapi beberapa berhubungan erat dan mesra.

1. Fasilitas.
Sebagian besar mahasiswa mengeluhkan kondisi fasilitas di kampusnya. Entah ruang kuliah yang tidak nyaman, kamar mandi yang jorok, atau kelengkapan pendukung kuliah yang tidak representatif. Fasilitas lain? ada contoh neh… salah seorang teman saya bete, karena untuk parkir saja, mereka ditarik biaya keamanan! Hal ini jika tidak diperhatikan, tentu saja bisa membuat mahasiswa malas untuk ke kampus.

Sebagai mahasiswa, tentu nggak cuman kuliah saja aktivitasnya. Kegiatan ekstra kampus tentu sangat mendukung. Mengingat, setelah lulus nanti kita tidak melulu mengulang materi yang diberikan selama di ruang kelas. Mahasiswa, sebagai manusia juga perlu yang namanya bersosialisasi, belajar berorganisasi, menyalurkan bakat dan kesukaan. Selain menambah wawasan, kegiatan semacam ini tentunya bisa menjadi obat stress (atau malah nambahi stress 😀 ), juga membantu menambah soft skill dan jaringan.

ada teman yang bilang, kampus itu enaknya ya kayak MALL. iya, MALL! dengan one stop education center. Mau cari buku, ya tinggal ke ‘bookstore’ alias perpus, dan bukunya tentunya harus lengkap dan up date. Mau makan, tinggal ke foodcourt. Foodcourtnya, ya tentu saja yang bersih, higienis, terjangkau, bebas pengamen, plus menunya beragam, kalo bisa menu dari sabang sampe merauke ada. hehe…
Mau presentasi, sediakan tempat seperti teater dengan peralatan audio video yang memadai. Hm… presentasi jadi makin asoooyyy.
Mau presentasi? ada taman segar dan hijau yang enak dipandang. ATM center harus ada juga donk! deket sama student center untuk pusat kegiatan mahasiswa. Ah… kampus surga banget!

Ah ya!
Salah satu fasilitas penting yang dianggap kurang memuaskan, tentu saja adalah kemudahan mendapatkan referensi untuk tugas mereka. Terutama untuk jurusan jurusan yang bukan ‘mainstream’. Jurusan saya, contohnya. Kuliah di teknik perkapalan itu lumayan menyiksa untuk cari referensi. Diktatnya sebagian besar masih diktat buku setebal gaban, yang nyarinya harus sabar membolak balik satu per satu. Adudududuuuh… ITU SANGAT TIDAK EFISIEN! Silakan memakai kata ‘melatih kesabaran’ anda buat sebagai pembenaran kalo anda tidak sepakat dengan saya. Tapi pleeeaseee… masih terlalu banyak hal yang bisa lakukan selain mbolak balik buku instead of ‘search’. Ada sih, beberapa referensi digital, tapi kebanyakan masih berbahasa inggris (buat beberapa nggak masalah, buat sebagian besar lain, masalah besar dan membuat mereka lebih nyaman memakai buku saja). Harus bolak balik ke perpus, buat beberapa orang sangat nggak efisien. Belum lagi jika koleksinya tidak up to date. oh boyyy… itu sangat menyiksa!
cari cari nggak dapet dapet juga , akhirnya putus asa dan stress!

Lantas bagaimana? namanya juga era digital… ha mbok ya menyesuaikan dengan kebutuhan era digital itu sendiri…
Komputer (dan internet, tentu saja) telah membantu kita, sangat sangat sangat membantu dalam banyak hal, termasuk juga mencari informasi dan referensi tugas, serta diktat, dengan penghematan waktu yang luar biasa! Digital library yang sudah diterapkan di beberapa kampus menjadi tempat jujugan yang asoy karena disana ada bermacam macam jurnal (entah lokal entah asing) yang bisa diundur gratis dan bebas disebar luaskan dengan mudah. Dengan adanya free digital library, dan dosen serta adminnya yang rajin mengunggah entah materi kuliah entah jurnal, maka mahasiswa tidak bisa lagi memakai alasan “cari referensinya susah” ketika tidak mengerjakan tugas.

Selain itu, faktor dosen juga berpengaruh besar lho. Dosen yang bisa menjadi sahabat untuk mahasiswanya, tentu lebih mudah dalam mentransfer ilmunya. Dosen adalah salah satu faktor terbesar kenapa mahasiswa bisa sampai terlelap selama kuliah, hingga penyerapan ilmunya kurang, ataupun gagal sama sekali. Memakai kalimat “lho, kalian kan sudah mahasiswa, kenapa bergantung pada dosen”, sangat nggak oke untuk jadi pembenaran atas hal ini.
lagi lagi, saya memakai istilah jaman digital. Jaman digital seperti ini, yang namanya dosen ya gak gahul kalo nggak punya akun di berbagai social networking. istilah lainnya : Nggak eksis. Hehe, jadi, tolong bapak bapak dosen, please deh, yang belum punya blog, twitter, facebook, buruan join ke komunitas digital itu, karena mahasiswa kalian banyak yang nongkrong disana. Percaya deh, kehadiran kalian itu bagaikan angin surga di tengah tengah banjirnya remaja alay dengan status bikin memble. Berbagi ilmu itu nggak melulu di dalam kelas n asistensi lho Pak… manfaatkan social networking untuk sharing ilmu njenengan. Biar ndak mahasiswanya aja yang bisa menikmati guyuran ilmu sampeyan.
(Fyi, beberapa waktu yang lalu saya juga sempat ‘meracuni’ dosen untuk ngeblog, dan beliau bersedia. yayyy!!!).

ada yang lain? nah! ini dia yang menurut saya pentiiing banget! Kampus itu harus mendukung mahasiswanya untuk giat berwirausaha! Biar ndak tergantung pada lowongan kerja dari perusahaan ini dan itu. Mahasiswa itu harus mandiri, rek! Sekalian, cari kerja dan kuliah, kenapa enggak? masa udah tua masih ngerepoting orang tua aja! (awas, jangan bilang “kewajiban orang tua itu mbak”, sumpah! prang seumur anda nggak pantes banget rasanya kalo bilang kayak gitu)
sering sering dong, yang namanya kampus itu bikin lomba, entah di bidang apapun. Bagaimanapun, yang namanya manusia sering mudah dipacu dengan rasa kompetisinya. Plus, hadiah, tentu saja. (contohnya ya, lomba blog yang diadakan Universitas Islam Indonesia ini).

oiya… coba liat ilustrasi berikut deh…

Ilustrasi 1 : Seorang dosen, mengelap keringatnya dengan sapu tangan lusuh dari saku celananya. Capek benar dia menerangkan teori tentang kekuatan konstruksi kapal kepada mahasiswanya yang juga tidak tampak mengerti dengan penjelasannya.

padahal dia menjelaskan sampai berbusa dan hampir marah karena tak seorangpun yang bisa menjawab pertanyaannya. Tak hanya berbusa, stok kapur tulis sudah habis, spidol pun telah pudar warnanya.

Malas, diapun mengakhiri jam pelajaran sebelum waktunya, dengan memberi tugas tentu saja. Tugas yang mahasiswanya tak pernah mengerti apakah tugas tersebut dikerjakannya dengan benar atau tidak

Mahasiswanya? sebagian bersorak, sebagian manyun. Manyun? dia tidak mengerti penjelasan dosennya, dan merasa tak punya waktu mengunjungi perpustakaannya yang koleksi bukunya jutaan tapi penataan katalognya kacau. Mahasiswa itu berfikir “Ah, buang buang waktu saja aku kesana. paling yang ada referensi tahun 1945. Daripada gitu sih mending aku kerja, dapet duit. Biaya kuliah makin lama makin mahal, kalo ga kerja, bisa bayar darimana coba? tugas? aaah… gampang. Mbacem punya teman saja dah” Mahasiswa tersebut langsung cabut, pulang ke kost. Tidak ada kegiatan menarik, tempatnya yang panas gersang dengan makanan dengan harga mahal dan tarif parkir yang gila gilaan membuatnya tak betah di kampus.

daaan… bandingkan dengan yang berikut ini!

Dosen tersebut umurnya diperkirakan 45 tahun, tampak dengan mata berbinar mendengarkan presentasi mahasiswanya, sesekali dia nimbrung pada diskusi yang kadang memanas, yak! mahasiswanya sedang memperdebatkan penjelasan tentang topik yang dia tugaskan pada kuliah minggu lalu. Sesekali juga, dia menjelaskan kenapa, apa dan bagaimana yang seharusnya, dengan berbagai referensi dalam bentuk pdf. Gaya menjelaskannya santai dan tak terkesan menggurui. Pun dia juga menerima pendapat mahasiswanya dengan tangan terbuka. Kuliah ditutup degan tepuk tangan. Dan sang Dosen memberikan tugas, untuk dibahas dalam presentasi di pertemuan berikutnya. “Terimakasih, mahasiswaku. Kalian luar biasa! Untuk tugas minggu depan, beberapa bahan referensi sudah saya upload di blog saya. Silakan tugas diupload sebelum hari Senin pukul 22.00, selasa pagi kita bertemu lagi, dengan diskusi yang lebih panas lagi.Presentan terbaik akan mendapatkan bingkisan kecil dari saya. Jika ada kesulitan dan perlu bantuan dalam mengerjakan tugas, silakan tanya lewat Facebook atau twitter, ym saya juga online dari pagi hingga sore. kalo pertanyaannya panjang, dikirim lewat email saja.”
Mahasiswanya bersemangat mengakhiri kuliah, lantas menuju taman asri dengan koneksi wifi super kencang dan gratis, untuk mengunduh konten tugas, dan ehm… skype-an sama pacar di kampus lainnya. yang tak punya laptop, cukup ke lab komputer terdekat, akses internet gratis dengan cukup menggesek Kartu Tanda Mahasiswa dan melewati pemindai sidik jari, siap dinikmati.
Dosen senang, kerjanya tak terlalu berat, mahasiswapun riang. Banyaknya seminar dan kegiatan ekstrakurikuler, serta simulasi kewirausahaan, membuat kehidupan kampus tetap berdenyut hingga malam hari.
Ditunjang dengan pelayanan di kampus yang satu atap, mengurus apapun mudah. Mengecek IP tiap semesterpun bisa melalui sms. What a dreaaam college!

Naaaahhh… hayo… yang menurut anda kampus idaman yang mana? yang kampus favorit yang mana? Jujur, ilustrasi kedua adalah kampus dalam imajinasi saya, semoga terwujud tidak lama lagi, semoga pendidikan kita makin maju, dengan semangat mahasiswanya mencari ilmu (tidak sekedar gelar lantas dipakai korupsi)

okey, kita sudah ngoceh berbusah busah, selanjutnya, mari kita rangkum, kriteria kampus idaman versi saya (dan beberapa teman di Facebook) tadi.
Kampus idaman/ Kampus Favorit itu, seharusnya :
1. Tempat kuliah yang bersih, memadai dan nyaman serta modern, dilengkapi taman untuk relaksasi (bukan pacaran lho ya! :mrgreen: ), tempat parkir aman dan terkelola dengan rapi.
2. Memiliki referensi yang lengkap, terkini, serta mudah dalam mengakses jurnal, diktat kuliah, terutama dalam bentuk digital. Dosen dianjurkan memiliki sebuah blog.
3. Banyak presentasi ataupun diskusi dengan materi yang up to date
4. Dosen harus kreatif, gaul dan mengikuti perkembangan teknologi (misal:memanfaatkan social media dalam berinteraksi dengan mahasiswanya). Juga bisa berperan sebagai partner yang bersahabat dengan mahasiswanya.
5. Akses internet gratis dan kencang. Baik wifi maupun sarana laboratorium komputer untuk akses gratis.
6. Materi kuliah dan kurikulum yang up to date
7. Sering diadakan seminar penunjang kuliah dan pelatihan kewirausahaan dengan mahasiswa sebagai Event Organizernya.
8. Pelayanan administrasi satu atap yang selain memudahkan pelayanan administratif, juga menghemat biaya operasional itu sendiri.

Hayooo… siapa yang ndak suka punya kampus seperti ini? oiya, satu pertanyaan saya untuk Universitas Islam Indonesia (penyelenggara Lomba Blog UII), apakah UII sudah siap (atau memang sudah sesuai) dengan beberapa tuntutan menjadi kampus idaman seperti yang sudah saya sebutkan?
semoga sudah ya… saya rasa, diawali dengan membuat lomba blog seperti ini, menunjukkan itikad baik untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi, bukankah dunia terus berkembang? Mari sama sama jadikan pendidikan di negara kita, Indonesia, bisa sejajar dengan negara negara yang sudah maju terlebih dahulu. Yuk mariii…

postingan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog UII. Anda belum ikut? buruan ikut! Kalah menang, anda sudah berkontribusi dalam usaha memajukan pendidikan di Indonesia lho! Silakan sumbangkan komentar, baik setuju atau bertentangan, tidak masalah. toh, semua itu akan memperkaya kita. Ya ndak?

las but not least, doakan saya menang ya!