Lulu, setahun dulu dan siang sehari yang lalu

20130920-024938.jpg

Namanya Lulu, diambil dari ‘lunjak lunjak’, karena anak ini sangat aktif dan hobi lonjak lonjak, melompati para ‘senior’nya.

Lulu, bertemu dia di jalanan sempit samping Mall Cito (City of Tomorrow) Surabaya coret. Kecil, terlihat cuek & fight, nyaris ketabrak & keinjek lalu lalang orang yang beraktivitas. Sibuk nyari makan dengan resiko nyawanya yang tak dihargai manusia, hilang begitu saja.

Aku jatuh cinta pada makhluk mungil yang seharusnya masih menyusu pada induknya ini. Sedikit ragu dan berbagai macam pertanyaan hinggap saat akan memutuskan membawanya pulang. Toh, akhirnya kubawa juga dia, yang membuatku takhluk dengan pandangan mata mungil nan polosnya.

Berbekal kardus indomi pemberian mas mas warung & seekor lele goreng setengah matang, kumantapkan hati membawanya ke Malang. Dalam hati mengharap, semoga angkutan umum nanti tak menolaknya. Tau sendiri kan, kejamnya angkutan umum pada binatang?

Dalam perjalanan menuju terminal, hati kembali bimbang. Kembalikan, bawa. Kembalikan, bawa. Ah, kalo aku kembalikan, nanti dia terinjak injak lagi? Kalo aku bawa, misal ditolak bus gimana?
Ah sebodo deh. Dan kucing badung ini mulai memunculkan kepalanya berkali-kali saat menunggu bus, hingga kardus lecek & aku harus membeli kardus baru seharga dua ribu di penjual asongan. Dan ternyataaa…dia beol di kardusnya tadi 😆 mungkin stress karena naik motor/ojek kali yaa..

Ah, dapat juga akhirnya itu bus! Dan tak ada kesulitan sama sekali naik bus patas ini. Tak ada penumpang protes, kondektur ramah & kucingnya anteng sampai 2 jam perjalanan berikutnya. Hingga sampai rumahpun, si mungil hitam putih ini masih anteng. Masi malu malu dengan para seniornya, ia memilih bersemayam di belakang rice cooker yang memang hangat.

Paginya, Lulu dimandikan. Badannya yang kotor, kutuan, dengan luka luka kecil di sana sini, jadi bersiiihhh dan wangi. Belum juga kering badannya, anak ini sudah memulai keributan dengan mengejar kucing lainnya.
Alhasil, Wewet, Mayuu, Phoebe, Putcil saat itu tak berani mendekat. Takut pada calon penguasa rumah ini. Dan hari itu, dia dinamakan Lulu, lengkapnya Lousiana Pardede. Iya, tradisi di sini adalah memberikan nama panggilan dulu, baru nama panjangnya :mrgreen:

Setahun sudah bersama Lulu, mungkin saat ini usiamu harusnya 1 tahun lebih 1 bulan ya, Lu? Remaja putri yang cantik gitu kali ya?
Banyak hal kita lalui bareng. Susah maupun seneng. Kamupun berubah sekarang, makin sombong dan asosial, ogah bergaul dengan kucing lainnya. Ya, tetep manja juga sih kalo laper & ngantuk. Tapi aku sih tetep sayang kamu kok, Lu. No matter what, suwer deh!

Meski kamu kalo laper annoying banget, gigit gigit janggut, kuping, hidung. Meski kamu nggak mau sharing tempat makan dengan kucing kucing lain di rumah, meski kamu suka nampol mulutku kalo aku lagi nyanyi di dekatmu, meski lebih sering aku yang ndusel daripada kamu, aku tetep sayang kamu .

Hehehe, mendadak melankolis gara-gara siang kemaren aku tanya “Lu, kamu sayang nggak sih sama aku?” Dan dijawabnya dengan dengusan sebel karena acara jilat jilat badannya terganggu. Sorenya, setelah makan & jilat-jilat, mendadak Lulu naik ke perut, dan berbaring dengan kepalanya di dadaku. Lulu tak biasa bermanja sejak aku sering membawa kitten baru ke rumah. hmm.. mungkin ini jawaban untuk pertanyaan siang tadi. Dan karena dia ga bisa bilang ‘I Love You’, cukuplah dengkuran halusnya yg perlahan menghilang itu jadi jawaban pertanyaanku.
Ah, seneng rasanya Lulu sayang aku :’)
Gak tau kenapa mendadak pengen update blog begitu merasakan kemanjaannya yang manis tapi sederhana kemarin. Ikatanku & Lulu lebih erat dibanding yang lainnya, apakah karena dia aku pungut dari kota nun jauh di sana? Kurang tau juga ya. Mungkin pengalaman dengan maut juga turut berperan dalam hubungan kami. Lain waktu diceritain deh :’)

P.s : abaikan ekspresinya yang bete itu, dia emang gitu kalo difoto. Hih!
Abaikan juga judulnya yang rada alay, emang lagi bingung milih judul kok ya.

Iklan