Microsoft Bloggership 2011 : Antara Saya, Perempuan Desa dan Impian

Di sore yang #galau itu, mendadak Mbah Kirangan datang membuyarkan lamunan saya. Betul, akhir – akhir ini saya memang sering #galau memikirkan negara dan nasib anak bangsa *plak*. Iya maaf, saya berlebihan, tapi boleh dong, saya mempunyai bermacam impian untuk -ehm- minimal kampung saya sendiri? Impian saya memang muluk – muluk. Iyalah! masak mimpi saja nggak berani muluk – muluk? Dan sepertinya, Mbah Kirangan datang pada waktu yang sangat tepat. Sekedar informasi, beliau memang biasa datang ketika saya memerlukan petunjuk datangnya hujan, atau saat-saat dimana saya membutuhkan wejangan. Misal wejang jahe, wejang kopi, dll. #krauk

Mbah Kirangan duduk di kursi malas favoritnya, lantas menyeruput teh hangat yang terhidang di meja kayu berukir di sebelah kanan kursinya. Tanpa permisi, beliau juga menyomot pisang goreng hangat yang tidak jadi saya makan karena tadi sempet jatuh ke lantai.

“Ada apa tho, nduk? wajahmu kok dilipat – lipat? lagi belajar poligami po?” :mrgreen:
ujarnya memulai percakapan kami.
“PLIS DEH MBAH! ITU ORIGAMI!” sergahku 😡 . Yayaya, si Mbah emang suka asal nyebut istilah. Asal njeplak, asal mirip.
“Hehe… simbahmu ini cuma ngetest wae, kamu masih konsentrasi apa endak. Ternyata masih sadar :mrgreen: . Ada apa tho, sini cerita sama simbah…”

Mulailah cerita saya…

“Gini lho mbahe… cucumu ini sedih kalo liat kondisi kampung kita. Dari dulu ndak ada perkembangan selain jumlah bayi, henpon sama tipi yang makin banyak”
“Masalahmu apa?” Sela simbah. Nada bicaranya mirip banget dengan Sir Mbilung.
“Sik thooo…! Simbah ini mintak ditabok. Ceritaku belum selese mbaaaah”
“Ya wes, lanjutken dulu” ujar Simbah sambil ngikik ndak jelas

“Dari jaman aku masih hobi main layangan, sampek sekarang mainanku hengpon Android, kampung ini sama sekali ndak ada perubahan. Padahal negara aja udah berubah dari jaman orde baru sampek jaman reformasi. Presiden juga udah ganti 5 kali. Tapi kampung ini adem ayem aja. Sekolahan SD ya cuma satu – satunya itu, padahal jumlah anak2 nambah terus. Aktivitas warga kalo ndak macul ke sawah, matun, panen, ngarit, ya nonton Cinta Fitri. Jujur Mbah, aku ki gemeeesss banget, terutama sama kaum wanitanya disini. Yang sekolah sampai kuliah kayaknya sak RT ndak ada 5 orang. Dari dulu sampai sekarang, masih aja banyak anak cewek yang lulus SD langsung dikawinin. Abis itu nomong anak, ndak punya skill, ndak punya pergaulan luas selain nggosip n nonton sinetron, kalo ada masalah sama suaminya, ndak bisa apa – apa juga. Wes tho, pokoke aku ki guuuemeeesss pol! Gini – gini kan aku cewek, Mbah… makanya aku lebih gemes sama kaumku.”

“Terus kamu ini pinginnya kayak gimana tho Nduk?”

“Ya aku pinginnya perempuan disini itu pada punya aktivitas. Ndak harus ngantor kayak para perempuan di kota2 besar… tapi minimal mereka tau, ada dunia luar dan ada banyak potensi yang mereka punya, plus mereka bisa memanfaatkan potensi itu mbah… Sebenarnya, aku itu gemes kalo liat ibu – ibu apalagi yang masih muda dan (harusnya) lagi semangat banget untuk mengembangkan diri, terjebak di situasi yang membuat mereka tidak mempunyai pilihan, atau tepatnya, tidak berani memilih. Lha gimana mau milih, wong modal aja mereka ndak punya kok. Paling mentok ya jadi TeKaWe, ke Hongkong, Singgapur, Malaysye. Yang sukses ya punya rumah bagus n bisa jadi modal cari mertua, yang gak sukses pulang ya muka lebam semua, atau ditinggal suami kawin lagi.”

“Hmmm…” Simbah mengiman.

“Aku pingin, perempuan – perempuan disini punya bekal. Minimal bekal itu berupa memanfaatkan waktu dengan baik, untuk mengembangkan diri. Syukur2 dapet penghasilan lebih, kan seenggaknya bisa meningkatkan taraf hidup mereka Mbah… Yang ada sekarang kan mereka kecanduan acara sinetron dan gosip yang cuma nambah ketidaksukaan mereka sama mertuanya. Selain itu? nothing Mbah… oh iya! ada ding! Mereka jadi tambah konsumtif! Liat Artis A umbah umbah banyak bunganya, jadi kepingin beli deterjen A, liat anak kecil lucu renang, jadi pengen beli susu B. Semuanya dilakukan ndak pake surve2an Mbah. Manfaatnya gimana, efek buruknya apa, ndak mikir. Ini yang ndak bagus. Pola pikir instan. 😐 “

“Aku pingin, mereka pada khususnya, dan kampung ini nanti jangka panjangnya, punya sesuatu yang bisa dibanggakan gitu lho… sesuatu yang jadi ciri khas. Yang warganya pinter pinter, kreatif, ndak tergantung sama musim, dan yang paling penting adalah ndak kecanduan sinetron.”

“Kamu itu dari tadi mbulet Nduk…mbokya cerita yang gamblang, kepinginnya apa. Jelaskan gitu lho… gambaranmu seperti apa”

Banyak banget di kepalaku ini Mbah. Tapi salah satunya gini. Aku pingin ngajarin ibu – ibu dan embak – embak disini untuk membuat kerajinan. Yang sederhana aja dulu buat permulaan. Bisa kerajinan kain flanel, menyulam, menjahit, bordir, bikin souvenir untuk nikahan, daaan sebagainya. Yang bisa merangsang mereka jadi kreatif deh. Kalo mereka sudah bisa menghasilkan produk dengan kualitas yang ‘layak jual’, untuk permulaan, aku yang akan membantu memasarkan produknya ke seluruh Indonesia, atau ke seluruh dunia deh kalo perlu… Secara bertahap, mereka akan kuajari juga manajemen, biar mereka belajar memasarkan produk mereka sendiri. Kalo berjalan lancar, kurang dari 5 tahun, aku yakin akan ada perubahan di kampung tercintaku ini. Akan semakin sedikit perempuan yang bekerja ke luar daerah. Dan kampungpun akan ‘hidup’ karena banyak aktivitas. Siapa tahu juga kalo kelak kampungku jadi percontohan dan dapet dana dari pemerintah untuk mengembangkannya. Ya nggak? Fyuh…capek aku mbah, ngomong terus… gantian dong…”

“Lha Simbah kan nunggu kamu selesai dulu, Nduk…”

“Udah selese kok Mbah…Nah aku mintak saran sama Simbah…enaknya gimana? kan tua-tua gini Simbah gawul, pegangannya blekberi…”

Simbah terkekeh sambil sibuk membalas BBM. Sebenarnya saya pingin ngintip, beliau itu lagi ngomongin apa thooo, kok dari tadi  tang ting tung terus bebenya. Sayang banget, bebe Simbah sudah dipasangi screenguard anti spy, Uuuh jadi nggak bisa ngintip!

“Ehm, jadi gini lho Nduk, menurut Simbah, permasalahan utama permasalahan utama kampungmu itu jenisnya sudah mengakar : pola pikir ndeso. Sederhana memang karepe, tapi kalo disesuaikan sama jaman ya ora mathuk. Istilahnya ndak ada Inovasi. Nah, ini susah kalo dibenahi dalam waktu singkat. Harus perlahan dan sedikit demi sedikit. Orang desa mudah ndak nyaman sama perubahan, apalagi yang cepet. Kalau kamu pinginnya memulai dari wanita-nya, it’s ok gitu loh… menurut simbah ide bagus itu. Biar kamu juga lebih gawul sama tetanggamu sendiri.”

“Nah ya, gantian Simbah mbulet”

“Belum selesai tho yaaa. Gini Nduk… Kalo kamu pingin segera meng-eksekusi idemu tadi itu, lekas tentukan mana yang bakalan kamu fokus disitu. Misal : Kamu memutuskan buat ngajari Kerajinan Membuat Tas Gawul . Kamu ndak harus menguasai membuat tas dulu untuk ngajari mbak – mbak nan lugu itu. Beli buku yang mendukung. Pinjami modal untuk latihan awal. Habis itu bantu pasarkan dan mereka tentu harus mendapat kontribusi finansial dari penjualan itu”

“Masalahe Mbaaah… aku kan ndak sempet kalo ngajarin sebegitu banyaknya orang disiniii. Apalagi kalo belajar dari buku aja kan ndak seru. Mau mendatangkan pengajar juga meheeel”

“Sik thooo… kowe melupakan sesuatu nduk. Kamu ini hidup dijaman twitter, jaman Fesbuk. Jaman ‘Dunia dalam Genggaman’. Kayak Simbah lah, bisa chatting sama orang eropah, sampai ngekspor Telo ke Hungaria, biiisa! Padahal ya belum pernah ketemu orangnya lho…”
“Nah, kowe sudah punya jaringan pertemanan. Punya teman – teman populer yang kepeduliannya tidak diragukan. Tentunya kamu masih inget tho, gerakan Coin a Chance, duwit recehan bisa mbantu sekolah bocah bocah melas. Gerakan opo kui, hooo iyaaa Blood for Life, terus yang baru baru ini podho mbikin gerakan peduli merapi. Ndak perlu repot soal informasi, nduk. Yang namanya Social Media itu jalan yang bisa mempertemukan kamu dengan siapa saja dan dimana saja.”

“Soal teknisnya, mudah saja. Kamu ndak kudu bikin sekolah dulu buat ngajari mereka. Mari kita belajar pada MLM untuk hal ini. Biar gampang, Simbah gambarkan ilustrasinya kayak gini”

“Artinya, kamu cukup perlu satu pengajar. Satu pengajar mengajari 3 orang saja pada awalnya. Setelah 3 orang ini mahir, masing masing ngajari 3 orang lainnya, dan seterusnya. Hemat tenaga tho? Ndak perlu tempat yang luas juga buat belajarnya. Yang penting guyub dan ada pisang goreng, pasti rukun dan maknyus” Simbah mulai ngelantur sepertinya. Tapi idenya boleh juga.

“Lha njuk pengajarnya siapa Mbah? aku kan ndak punya temen yang bisa mbikin kerajinan, bisanya pada mbikin kapal semua”

“Nduk Nduk… kamu itu twitteran, ngeblog, tapi kok ya ndak pinter – pinter. Ya kamu mungkin ndak punya, tapi siapa tau temenmu punya kenalan? kalo ndak ada, ya minta tolong sana, sama mahasiswa – mahasiswa yang butuh tempat KKN. Simbiosis mutualisme. Kamu ndak perlu turun gunung, turun langsung nyari gurunya. Jaman Social Media itu mbikin kamu ndak perlu panasan di perempatan jalan buat ngumpulin duit yang mau disumbangkan ke Merapi. Cukup dengan ngetuit ngetuit, pasang status di Facebook, bantuan akan datang dengan sendirinya. Memang, Simbah sadari, negara ini semakin lama semakin bobrok. Untunglah, warganya sepertinya semakin pintar dengan adanya teknologi dan kepedulianpun meningkat”

Saya mbatin, bener juga ya Simbah ini. Saya punya banyak sekali teman, dengan berbagai macam pengaruh, dan kepedulian yang tidak diragukan lagi. Akhirnya ide pun bersliweran di kepala saya.

“Soal pemasaran, kamu jangan kuwatir. Remaja remaji kita ini sekarang jamannya jaman gawul, asal kemasanmu menarik, mesti payu. Tapi jangan lupa menjaga kualitas, biar pelangganmu ndak pergi. Mau masarkan ke luwar negeri, tanya sana, sama Kangmas Pepeng, yang suka njuwal Candi ke luar negeri. Ncen cah gemblung kok Pepeng kuwi.” Simbah ngelantur lagi. Tehnya sudah habis rupanya. Begitu juga baterai bebe-nya yang sepertinya berteriak minta dicas.

“Sekarang rencanamu gimana? Bebenya Simbah udah minta dicas ini, repot kalo batrenya drop, ndak bisa tuiteran mbahmu ini nanti.” Yayaya, simbah memang kecanduan sama mainan yang satu ini. Dimanapun kapanpun wajib apdet status. Saya sempet curiga, jangan-jangan beliau juga membocorkan percakapan kami barusan.

“Gini aja, sekarang kamu bikin itu namanya Proposal, sekalian yang bagus biar ada yang tertarik buat mbantu kamu. Entah itu dana atau sumbangan tenaga, yang jelas itu akan sangat mbantu kamu, nduk”

“Proposal sih udah pernah mbikin, Mbah…tapi ndak pede aku… jadinya ya ndak pernah tak titipkan ke siapa siapa. Tapi setelah diwejangi simbah, rasa pedeku kayaknya langsung tuinggi ini Mbah!”

“Lha, jadi selama ini kamu memangnya ngayal wae po? ngimpi wae?”

“ya endak, aku udah mbeliin beberapa buku kerajinan, yaaa…minimal biar belajar sendiri merekanya”

“ya ndak jalan, kalo cuma seperti itu nduke, beda lho yo, antara penduduk kota yang belajar masak dari buku resep atau blackberry. Orang desa itu kalo ndak distimulus, susah untuk hal – hal seperti ini Nduke… Coba tips dari simbah tadi dijalanken. Sana, ikutan Microsoft Bloggership, sapa tau menang, dapet dana, bisa dipakai buat mengawali cita – cita muliamu. Katanya kalo menang dapet gadget juga, dan yang paling penting nduk, kalo kamu menang itu bisa terkenal, bisa masuk detik.com lho…”

“Halah, simbah ki… yang dipikirin kok popular populer terus. Yaudah, doain cucumu ini menang ya Mbah… Tapi kalo ndak menang gimana hayo Mbah?”

“Sudah pasti itu Nduk…Simbah selalu mendoakan cucu Simbah biar kampung kita ini ndak hanya ayem tentrem saja, melainkan warganya juga sejahtera. Kalo ndak menang? yo santeee… jangan sampek frustasi. Siapa tau Pamanmu yang duitnya meteran itu tergerak buat mbantu kamu? Siapa tau juga Ndorokangkung yang terkenal itu ngenalkan kamu sama temennya. Siapa tau tho? yang  jelas, digodok wae konsepmu yang mateng, jangan angin – anginan. Simbah ki seneng kalok lihat kampung kita hidup dan warganya juga hidup, pada pinter – pinter. Oiya nduk, pisang gorengnya tadi, sudah habis po?”

“Iya Mbah, tinggal satu itu tadi ndak tak makan, soalnya tadi jatuh ke lante trus sempet diendus si Choki” :mrgreen:
*langsung kabur*

“Wooo! Cah gemblung! Tak balang blekberi kene mengko!”

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

ps. warga kampung saya sebenarnya kreatif kok, mereka kurang penyaluran aja sepertinya 😆
ini skrinsutnya :

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

polisi = polusi? :P

polisi = polusi? 😛

Iklan

Test Posting dari bebeh

Setelah puluhan tahun *halah* akhirnya saya pakai juga ini fitur cihuy buat si bebeh gratisan saya inih.

Semoga hasilnya memang seperti yang saya harapkan. *berdoa khusyuk* dan sesungguhnya, ini adalah demi memuaskan para penggemar saya akan apdet terbaru dari blogger idola mereka 😎 *dibakar massa*

Sekian, dan terima kasih. 😳

When You Tell Me that You Love Me

26 Mei kemaren, dalam langkah terburu buru karena harus kembali ke malang (ibu saya dirawat di rs waktu itu), di terminal bungurasih saya tertegun. Dan menyempatkan diri duduk sejenak di kursi peron. Sejenak, saya lupa bahwa saya harus segera kembali ke malang, dan malah menikmati hiburan yang disediakan pihak terminal itu. errr, mereka pengamen bukan sih? penyanyi yang diiringi sama elekton itu lho? Oke, kita sebut saja entertaining pengamen, dan untuk selanjutnya kita sebut EP *ngasal*, membuat saya melongo saat mereka mempersembahkan *halah* When You Tell Me that You Love Me, yang dipopulerkan sama mbak Diana Ross.

Jadi begini, saya biasanya cuek cuek aja lewatin mbak mbaknya yg bahenol bergoyang mayan seronok dan menyanyikan lagu yang -yaaah sometimes- bukan lagu saya banget. Kali ini berbeda. Mbaknya yang berbadan subur ala Dewi Hughes dan riasan ala Mbak Bertha Suara mbaknya empuk, alus, tapi sometimes melengking and powerful banget! Jian miriiip banget sama suaranya Mbak Diana Ross yang aseli, bedanya yang ini Diana Ross KW Suroboyo. Dan sukses dah, si mbaknya membius saya selama beberapa menit untuk tetap duduk dan menikmati lagunya. Walopun beberapa kali instrumen pengiringnya agak kurang ‘pas’, tapi kerennya suara mbak vokalis EP ini membuat instrumennya jadi nggak berarti. cieeeehhhh bahasanyaaa…

Eniwei, lagu yang dibikin sama om John Bettis dan Om Albert Hammon ini emang aslinya udah enak dari sononya. Dan karena si mbak vokalis EP ini suaranya mantab, lagunya tambah enak aja. Pengen dengerin lagi dan lagi gitu deh rasanya *lebay* Nah, setelah mbaknya selesai nyanyi, saya jadi terinspirasi untuk mengirimi pesan pendek pada suami saya, reffrain dari lagu ini. *menyemenye* 😳

Buat yang belum tau lagunya, ini neeeh liriknya…

Diana Ross

I wanna call the stars
Down from the sky
I wanna live a day
That never dies
I wanna change the world
Only for you
All the impossible
I wanna do

I wanna hold you close
Under the rain
I wanna kiss your smile
And feel the pain
I know what’s beautiful
Looking at you
In a world of lies
You are the truth

* and baby
everytime you touch me
i become a hero
i’ll make you safe
no matter where you are
and bring you

everything you ask for
nothing is above me
i’m shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me

i wanna make you see
just what i was
show you the loneliness
and what is does
you walked into my life
to stop my tears
everything’s easy now
i have you here

*and baby
everytime you touch me
i become a hero
i’ll make you safe
no matter where you are
and bring you

everything you ask for
nothing is above me
i’m shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me

in a world without you
i would always hunger
all i need is your love to make me stonger

*and baby
everytime you touch me
i become a hero
i’ll make you safe
no matter where you are
and bring you

everything you ask for
nothing is above me
i’m shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me

keren kaaan? emang keren kok… dan setelah saya gugling vidionya di yutub, saya nemu mbak Diana duet sama mas mas Westlife versi baru (tanpa mas Brian yg kayak bodyguard itu)

monggo, selamat menikmati…

Wonosobo : sebuah perjalanan sebelum nikah mati (part 1)

sebuah imel dengan pengirim kemplu bernama Pepeng, mau tidak mau menyeret jari saya untuk ngeklik lebih jauh.

gimana nggak menarik, lha labelnya aja naujubilah banyaknya. saat itu saya baru sadar, kalo Pepeng suriwil itu telah mengirim imel yang sama ke beberapa milis yang saya ikuti sekaligus.

glek!

demi membaca isi imel, serta merta saya ngeces. ngiler. kayak gini deh

gimana enggak. acaranya JALAN JALAN dan GERATISSS!!! nggak bayar sepeserpun! Yang ngadain? komunitas blogger wonosobo (di postingan berikutnya diceritain deeeh…launchingnyaaa). Keren banget ini komunitas! baru juga berdiri, lansung bikin acara yang manjain blogger banget!

oh tuhanku, berkatilah mereka para pembuat acara ini. berkatilah Tyovan dan Bupati Wonosobo yang gawul ituh…

*berdoa khusyuk*

tanpa pikir panjang ( ah, dasar Siwi, priceless!) dan setelah mendapatkan kepastian tumpangan sampai Solo, saya putuskan Ladub! alias budal ke Wonosobo. berbekal kocek yang tipis sangat, dan hanya semangat untuk memotret n jalan jalan geratis, berangkatlah jua saya akhirnya…

bersama Abang Tiok, dimulailah perjalanan kami naek kereta. Yes, this is my first time numpak Pramex alias Prambanan Express. Keretanya bersih, jauh dari kesan kumuh seperti kereta ekonomi yang biasa saya tumpangi (ya eyalah, kespress gitu siw!) . Dengan banderol cukup 7 ribu rupiah, kami melintasi beberapa kabupaten. Aseli, keretanya enak! rasa jeruk! nggak sumpek, umpel umpelan, ples : BEBAS ASONGAN n PENGAMEN.  Selanjutnya, kami naek angkot n Bis. Inih dia… perjalanan menuju kota wonosobo, yang paling berkesan adalah naik Bis jurusan Wonosobo, setelah dari stasiun Kutoarjo dan terminal Purworejo. Semua, saya bakalan ngira bisnya gede seperti bis antarkota lainnya. Ternyatwa… bisnya cuwilik dan jalan yang dilewatiiii… alamakjaaang!

JUUUUAAAAUUUUUUHHH dan berkelok kelok.

untunglah, udaranya sejuk segar, nggak panas kayak surabaya. Jadi sedikit ngga kerasa perjalanan yang keknya lebih jauh daripada malang – sby ituh.

Daaan…akhirnya, sampai juga kami di sebuah tempat berjudul Balai Latihan Kerja. Suasana sepi semriwinggg, ples diiringi tatapan tajam *lebay* embak embak di asrama sebelah.  Sadarlah saya, sebagian besar peserta masih pada sholat jumat, dan bahwasanya tempat menginap saya ini adalah balai latihan kerja alias asramanya calon tekawe.  Tapppiii…meskipun BLK, tempatnya eeeennnaaaakkkk banget! berwaifi, swejuk, bersih, tenang, cocok buwat tidur dah! dasar, yang dipikirin tidur mulu!

Menjelang jam satu siang, mulai ada tanda tanda kehidupan. setelah itu, kami lansung digelandang ke sebuah tempat berjudul rumah makan Sindoro Sumbing. *ngeces* dateng dateng lansung ditodong makan reeek…

rm sindoro sumbing

rm sindoro sumbing

disitu sempet terGR GR bakalan disuruh nangkep ikan yang wara wiri di kolam, ikannya gede gede boook… terus disuruh mbakar or nggoreng sendiri.

ehehe… ternyata ikannya hanyalah hiasan sodara sodara! kita makannya ikan ayam goreng ternyata 😀

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka pemusnah nasi

tersangka pemusnah nasi

nah, jika waktu itu persediaan nasi menjadi berkurang jauh, tersangka utamanya tak jauh jauh dari orang ini. tak percaya? inilah buktinya

inilah dia

sehabis dihajar, disampluk sampluk pake ayam goreng dan krawu, kita diseret menuju sebuah desa bernama Sapuran, untuk melihat lansung proses pembuatan batik aseli Wonosobo.

Lagi lagi, kita menempuh perjalanan yang amboooiii banget… disebut amboi karena jalannya amboi dan pemandangannya emang amboi beneran.

Satu lagi kekaguman saya pada kabupaten yang nyempil ini : BANYAK KOLAMNYA! hampir setiap rumah mempunyai kolam yang jernih dengan ikan ikan berlarian, eh berenang kesana kemari. Bisa disebut, wonosobo adalah negeri seribu kolam.   😆

Batik Wonosobo, dibuat secara hand made oleh penduduk aseli desa ini. Kebanyakan yang bikin ibu ibu, embak embak dan emak emak. :D. Ada yang dibikin pake cetakan, ada pula yang batik tulis, masih pake canting yang dicelupin ke cairan malam panas itu lho… *keinget mbatik pas jaman SMA*. Motif khasnya, adalah buah carica dan daun tumbuhan purwaceng. Carica dan Purwaceng, adalah tanaman khas daerah pegunungan Dieng. tentang carica dan purwaceng, akan saya bahas di postingan lainnya tunggu aja 😉

motif batik wonosobo

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa tas tangan

produk jadi berupa tas tangan

selanjutnya, mari kita mengintip “bengkel” tempat batik2 ini dibuwat…

cetakan motif purwaceng

cetakan motif purwaceng

lagi mbikin motif batik pake cetakan

lagi mbikin motif batik pake cetakan

naaah… itu tadi yang pake cetakan…

mari kita lihat yang batik tulis, sst… harganya konon lebih mahal lhooo…

lagi mbatik pake canting

lagi mbatik pake canting

batik belum diwarna

batik belum diwarna

batik belum diwarna juga

batik belum diwarna juga

naaah… berikut para ‘pahlawan’ batik kota wonosobo…

ibu ibu mbatik

ibu ibu mbatik

dan mereka yang berjuang melawan asap menyesakkan di ruang pewarnaan…

ruang pewarnaan

ruang pewarnaan

di ruang itulah, ibu ibu itu bertangisan, bukan sedih, tapi melawan asap yang emang perih di mata.

Sebagai usaha kecil, yang saya suka dari sini adalah pengolahan limbahnya yang patut diritu produsen2 skala gede. Ramah lingkungan bro!

Limbah pewarnaan batik dilewatkan dulu di semacam ‘penyaring’, baru kemudian dialirkan di parit parit kecil dengan air jernih mengalir.

saringan limbah

saringan limbah

sementara itu dulu deh yaaa… tunggu postingan sayah berikutnyah

😎

Telat 3 bulan Hari

Jika blogger normal lain (biasanya) memposting tentang ultahnya pada hari ultahnya tersebut (seperti yang pernah saya lakukan juga), maka kali ini saya telat 3 bulan hari.

dikarenakan berbagai macam kesibukan syuting, pemotretan, kunjungan ke daerah, ples kampanye calon legislatif di kampus, ya akhirnya sekedar apdet,

mau nulis panjang panjang kayak tahun lalu, masih berasa jetlag, yasudah… posting yang pingin diposting aja deh…

kucingpungut1

Kado dari Kakakpungut saya : Dogter Tito

kuwedariebes

kuwedariebes

Kado dari Ebespungut


kado dari temen baik

dan berjuta terimakasih buwat temen temen yang masih inget sama Chiw, udah ngucapin lewat telpun, sms, imel, fesbuk, dll.
Luv u aaalll!!!
*menebar pelukan*

Nominator

Dalam sejarah hidup saya yang sudah memasuki usia kepala dua ini, sudah banyak asam garam ples msg yang sudah saya rasakan *lebay*. dan kesemua itu membuat saya menjadi seseorang yang pendiam, anggun dan sejahtera. . Narsisly, saya ini orang yang suka ikut kegiatan ini kegiatan itu, lomba ini lomba itu. Bermacam penghargaan saya terima sudah. *namanya juga sombongly, jadi harus disebut 😎 * Dari the best “Chef” versi kampung sampe “Best New Comer” di Grammy Awards, dari peraih juara tarik tambang sampai Peraih Piala Citra, juga sudah pernah saya raih. 😎 sayangnya itu bohong.

Saya merasa, masa masa berprestasi saya terhenti ketika saya memasuki dunia kuliah. saya tak lagi bernafsu untuk mengikuti kompetisi, lomba, award, atau apapun itu. Jauh berbeda ketika masa masa SMA dulu. saya sangat bergairah sekali ketika mengendus adanya lomba. Entah mengarang, karate, pmr, pramuka, olimpiade mata pelajaran, sampai siswa teladan sudah pernah saya ikuti. dengan hasil beragam. Mayoritas adalah, saya menerima piala nyaris tiap sebulan sekali. Ya, tradisi di SMA saya adalah adanya penyerahan piala/medali tiap upaacara bersama. ada rasa bangga yang meluap luap saat itu. yak! naluri alami untuk pamer saat itu terpuaskan.

hingga saat ini, di tahun yang seharusnya beberapa bulan lagi saya menyandang gelar .ST aliyas kuliah hampir tamat, saya ndak mendapatkan satu medalipun! Kalopun ada, mungkin saya lupa :p

dan satu bulan yang lalu, saya mencoba peruntungan dengan mengikuti kompetisi bloggership untuk microsoft. saat itu nothing to lose aja. dan betapa kagetnya waktu teman saya yang seksi ini memberitahukan bahwa saya dicari cari mbak Hanny, soal nominasi penerima Beasiswa Bloggership.

Excited! 😯 😯 😯 dan nggak percaya waktu itu. bagaimana percaya, lhawong blog saya ini isinya banci ndak jelas, ndak apdet, ples orangnya juga ndak jelas. Tapi tetep berprasangka baik. Ah, pasti orang orang yang memilih itu, tau bahwa saya orangnya sangat anggun , pendiam dan sejahtera. atau mereka memang sedang khilaf. 😳

Semalaman saya ndak bisa tidur. Membayangkan kalo saja saya menang dan bisa trip ke 3 propinsi secara gratis. hwaaa!!!

di hari yang disepakati, hari wawancara itu, saya merasa jantung saya berdegub keeeeeeeennncccaaaaang sekali! deguban yang bahkan tidak saya rasakan ketika berdekatan dengan kekasih :D. *nggaktau ini sang excitednya atau saya emagn frigid*. Dan ternyata pertarungan interview ini sangat tidak berimbang. Saya yang sendirian DIGENGBENG oleh 4 orang! 3 orang cewe cantik cantik ples satu orang cowok seksi yang membuat keringat saya bercucuran. Mba Hanny, Mona, Bonnie dan Om Enda Nasution. Uuuhhh!!! Selama satu jam saya digilir empat orang itu, dicecar dengan berbagai macam pertanyaan yang menuntut otak saya bekerja lebih keras dan tangkas *lebay pol*. :p interviewnya asik kok… dan mungkin saya adalah satu satunya nominator yang paling slengek’an 😀

seminggu menunggu dengan hati cemas, deg deg plas… dan pesimis karena saingannya kok pada mbois semuwa, akhirnya ini lah hasilnyaaa…

Image and video hosting by TinyPic

zooom in :

Image and video hosting by TinyPic

Yak! saya harus puas dengan hanya menjadi nominator saja…

tapi tak apalah…mungkin ini bisa memicu saya untuk lebih bersemangat lagi!

oiya, selamat untuk jeng Dita yang udah menang 😉 . Kutunggu nakam nakamnya Jeng… baru sadar juga, kami bertiga (saya, dita, dan didut) adalah rekan satu milis :P. Bru sadar juga kalo saya ini nominator termuda :p

masih ada lain kesempatan, siwi… terus semangat ya! 😉

*sepertinya saya makin mengenaskan saja 😐 *

back online dan satu tahun ehem

ah, setelah sekian lama males ngeblog hiatus, akhirnya saya online lagi…

ada beberapa kemajuan setelah lama sekali saya berhenti sejenak ngeblog

1. Sudah bisa nyetir motor, terutama motor matic, udah gape lah…
cuman masih agak mengkhawatirkan pas belok.
motor manual? hadoh…masih susah mbagi konsentrasi antara ngoper2 gigi, ngerem, ngelirik sepion, dan suka keringat dingin sama muka pucat kalo papasan sama kendaraan lain.
Thankz loth buwat Pak Bos, my brader Dodo dan my luvly brader Joan yang udah bersedia mempertaruhkan nyawa selama ngajarin Siw peyuuuk

thankz juga buwat Angkinjeng yang motornya saya robohkan kemaren . puwas Ngki? puwas??? :mrgreen:

2. nyetir mobil? masih terlalu membahayakan penumpang lainnya. jadi tak perlu dibahas lebih lanjut.
3. maen gitar? sudah oke… ngegenjrengnya juga sudah oke. sayangnya baru bisa maen satu lagu.
oke, tolong jangan dihina dina, saya baru bisa maen “Kisah Sedih di hari minggu” versi patah patah dan ngawur. tapi okelah… belajar dua hari ajah. Dua hari aja udah cukup mbikin tangan ngapal dan bedarah darah *berlebihan*

4. Hari ini kalo nggak salah adalah satu tahun saya dan si Mas ehem . selama setahun itu banyak ehem ehem dan ehem ehem yang sudah kami ehemi.
kira kira kapan kami ehemnya ya?

5. saya masih utang sama rekan sekalian untuk melaporkan hasil sosialisasi UU ITE. sabar… maaf… saya masih terlalu susah merangkai kata kata inih…

oke, itu dulu deh… 😉
postingan pemanasan dari saya…buwat belajar ngeblog lagi… 😀