Microsoft Bloggership 2011 : Antara Saya, Perempuan Desa dan Impian

Di sore yang #galau itu, mendadak Mbah Kirangan datang membuyarkan lamunan saya. Betul, akhir – akhir ini saya memang sering #galau memikirkan negara dan nasib anak bangsa *plak*. Iya maaf, saya berlebihan, tapi boleh dong, saya mempunyai bermacam impian untuk -ehm- minimal kampung saya sendiri? Impian saya memang muluk – muluk. Iyalah! masak mimpi saja nggak berani muluk – muluk? Dan sepertinya, Mbah Kirangan datang pada waktu yang sangat tepat. Sekedar informasi, beliau memang biasa datang ketika saya memerlukan petunjuk datangnya hujan, atau saat-saat dimana saya membutuhkan wejangan. Misal wejang jahe, wejang kopi, dll. #krauk

Mbah Kirangan duduk di kursi malas favoritnya, lantas menyeruput teh hangat yang terhidang di meja kayu berukir di sebelah kanan kursinya. Tanpa permisi, beliau juga menyomot pisang goreng hangat yang tidak jadi saya makan karena tadi sempet jatuh ke lantai.

“Ada apa tho, nduk? wajahmu kok dilipat – lipat? lagi belajar poligami po?” :mrgreen:
ujarnya memulai percakapan kami.
“PLIS DEH MBAH! ITU ORIGAMI!” sergahku 😡 . Yayaya, si Mbah emang suka asal nyebut istilah. Asal njeplak, asal mirip.
“Hehe… simbahmu ini cuma ngetest wae, kamu masih konsentrasi apa endak. Ternyata masih sadar :mrgreen: . Ada apa tho, sini cerita sama simbah…”

Mulailah cerita saya…

“Gini lho mbahe… cucumu ini sedih kalo liat kondisi kampung kita. Dari dulu ndak ada perkembangan selain jumlah bayi, henpon sama tipi yang makin banyak”
“Masalahmu apa?” Sela simbah. Nada bicaranya mirip banget dengan Sir Mbilung.
“Sik thooo…! Simbah ini mintak ditabok. Ceritaku belum selese mbaaaah”
“Ya wes, lanjutken dulu” ujar Simbah sambil ngikik ndak jelas

“Dari jaman aku masih hobi main layangan, sampek sekarang mainanku hengpon Android, kampung ini sama sekali ndak ada perubahan. Padahal negara aja udah berubah dari jaman orde baru sampek jaman reformasi. Presiden juga udah ganti 5 kali. Tapi kampung ini adem ayem aja. Sekolahan SD ya cuma satu – satunya itu, padahal jumlah anak2 nambah terus. Aktivitas warga kalo ndak macul ke sawah, matun, panen, ngarit, ya nonton Cinta Fitri. Jujur Mbah, aku ki gemeeesss banget, terutama sama kaum wanitanya disini. Yang sekolah sampai kuliah kayaknya sak RT ndak ada 5 orang. Dari dulu sampai sekarang, masih aja banyak anak cewek yang lulus SD langsung dikawinin. Abis itu nomong anak, ndak punya skill, ndak punya pergaulan luas selain nggosip n nonton sinetron, kalo ada masalah sama suaminya, ndak bisa apa – apa juga. Wes tho, pokoke aku ki guuuemeeesss pol! Gini – gini kan aku cewek, Mbah… makanya aku lebih gemes sama kaumku.”

“Terus kamu ini pinginnya kayak gimana tho Nduk?”

“Ya aku pinginnya perempuan disini itu pada punya aktivitas. Ndak harus ngantor kayak para perempuan di kota2 besar… tapi minimal mereka tau, ada dunia luar dan ada banyak potensi yang mereka punya, plus mereka bisa memanfaatkan potensi itu mbah… Sebenarnya, aku itu gemes kalo liat ibu – ibu apalagi yang masih muda dan (harusnya) lagi semangat banget untuk mengembangkan diri, terjebak di situasi yang membuat mereka tidak mempunyai pilihan, atau tepatnya, tidak berani memilih. Lha gimana mau milih, wong modal aja mereka ndak punya kok. Paling mentok ya jadi TeKaWe, ke Hongkong, Singgapur, Malaysye. Yang sukses ya punya rumah bagus n bisa jadi modal cari mertua, yang gak sukses pulang ya muka lebam semua, atau ditinggal suami kawin lagi.”

“Hmmm…” Simbah mengiman.

“Aku pingin, perempuan – perempuan disini punya bekal. Minimal bekal itu berupa memanfaatkan waktu dengan baik, untuk mengembangkan diri. Syukur2 dapet penghasilan lebih, kan seenggaknya bisa meningkatkan taraf hidup mereka Mbah… Yang ada sekarang kan mereka kecanduan acara sinetron dan gosip yang cuma nambah ketidaksukaan mereka sama mertuanya. Selain itu? nothing Mbah… oh iya! ada ding! Mereka jadi tambah konsumtif! Liat Artis A umbah umbah banyak bunganya, jadi kepingin beli deterjen A, liat anak kecil lucu renang, jadi pengen beli susu B. Semuanya dilakukan ndak pake surve2an Mbah. Manfaatnya gimana, efek buruknya apa, ndak mikir. Ini yang ndak bagus. Pola pikir instan. 😐 “

“Aku pingin, mereka pada khususnya, dan kampung ini nanti jangka panjangnya, punya sesuatu yang bisa dibanggakan gitu lho… sesuatu yang jadi ciri khas. Yang warganya pinter pinter, kreatif, ndak tergantung sama musim, dan yang paling penting adalah ndak kecanduan sinetron.”

“Kamu itu dari tadi mbulet Nduk…mbokya cerita yang gamblang, kepinginnya apa. Jelaskan gitu lho… gambaranmu seperti apa”

Banyak banget di kepalaku ini Mbah. Tapi salah satunya gini. Aku pingin ngajarin ibu – ibu dan embak – embak disini untuk membuat kerajinan. Yang sederhana aja dulu buat permulaan. Bisa kerajinan kain flanel, menyulam, menjahit, bordir, bikin souvenir untuk nikahan, daaan sebagainya. Yang bisa merangsang mereka jadi kreatif deh. Kalo mereka sudah bisa menghasilkan produk dengan kualitas yang ‘layak jual’, untuk permulaan, aku yang akan membantu memasarkan produknya ke seluruh Indonesia, atau ke seluruh dunia deh kalo perlu… Secara bertahap, mereka akan kuajari juga manajemen, biar mereka belajar memasarkan produk mereka sendiri. Kalo berjalan lancar, kurang dari 5 tahun, aku yakin akan ada perubahan di kampung tercintaku ini. Akan semakin sedikit perempuan yang bekerja ke luar daerah. Dan kampungpun akan ‘hidup’ karena banyak aktivitas. Siapa tahu juga kalo kelak kampungku jadi percontohan dan dapet dana dari pemerintah untuk mengembangkannya. Ya nggak? Fyuh…capek aku mbah, ngomong terus… gantian dong…”

“Lha Simbah kan nunggu kamu selesai dulu, Nduk…”

“Udah selese kok Mbah…Nah aku mintak saran sama Simbah…enaknya gimana? kan tua-tua gini Simbah gawul, pegangannya blekberi…”

Simbah terkekeh sambil sibuk membalas BBM. Sebenarnya saya pingin ngintip, beliau itu lagi ngomongin apa thooo, kok dari tadi  tang ting tung terus bebenya. Sayang banget, bebe Simbah sudah dipasangi screenguard anti spy, Uuuh jadi nggak bisa ngintip!

“Ehm, jadi gini lho Nduk, menurut Simbah, permasalahan utama permasalahan utama kampungmu itu jenisnya sudah mengakar : pola pikir ndeso. Sederhana memang karepe, tapi kalo disesuaikan sama jaman ya ora mathuk. Istilahnya ndak ada Inovasi. Nah, ini susah kalo dibenahi dalam waktu singkat. Harus perlahan dan sedikit demi sedikit. Orang desa mudah ndak nyaman sama perubahan, apalagi yang cepet. Kalau kamu pinginnya memulai dari wanita-nya, it’s ok gitu loh… menurut simbah ide bagus itu. Biar kamu juga lebih gawul sama tetanggamu sendiri.”

“Nah ya, gantian Simbah mbulet”

“Belum selesai tho yaaa. Gini Nduk… Kalo kamu pingin segera meng-eksekusi idemu tadi itu, lekas tentukan mana yang bakalan kamu fokus disitu. Misal : Kamu memutuskan buat ngajari Kerajinan Membuat Tas Gawul . Kamu ndak harus menguasai membuat tas dulu untuk ngajari mbak – mbak nan lugu itu. Beli buku yang mendukung. Pinjami modal untuk latihan awal. Habis itu bantu pasarkan dan mereka tentu harus mendapat kontribusi finansial dari penjualan itu”

“Masalahe Mbaaah… aku kan ndak sempet kalo ngajarin sebegitu banyaknya orang disiniii. Apalagi kalo belajar dari buku aja kan ndak seru. Mau mendatangkan pengajar juga meheeel”

“Sik thooo… kowe melupakan sesuatu nduk. Kamu ini hidup dijaman twitter, jaman Fesbuk. Jaman ‘Dunia dalam Genggaman’. Kayak Simbah lah, bisa chatting sama orang eropah, sampai ngekspor Telo ke Hungaria, biiisa! Padahal ya belum pernah ketemu orangnya lho…”
“Nah, kowe sudah punya jaringan pertemanan. Punya teman – teman populer yang kepeduliannya tidak diragukan. Tentunya kamu masih inget tho, gerakan Coin a Chance, duwit recehan bisa mbantu sekolah bocah bocah melas. Gerakan opo kui, hooo iyaaa Blood for Life, terus yang baru baru ini podho mbikin gerakan peduli merapi. Ndak perlu repot soal informasi, nduk. Yang namanya Social Media itu jalan yang bisa mempertemukan kamu dengan siapa saja dan dimana saja.”

“Soal teknisnya, mudah saja. Kamu ndak kudu bikin sekolah dulu buat ngajari mereka. Mari kita belajar pada MLM untuk hal ini. Biar gampang, Simbah gambarkan ilustrasinya kayak gini”

“Artinya, kamu cukup perlu satu pengajar. Satu pengajar mengajari 3 orang saja pada awalnya. Setelah 3 orang ini mahir, masing masing ngajari 3 orang lainnya, dan seterusnya. Hemat tenaga tho? Ndak perlu tempat yang luas juga buat belajarnya. Yang penting guyub dan ada pisang goreng, pasti rukun dan maknyus” Simbah mulai ngelantur sepertinya. Tapi idenya boleh juga.

“Lha njuk pengajarnya siapa Mbah? aku kan ndak punya temen yang bisa mbikin kerajinan, bisanya pada mbikin kapal semua”

“Nduk Nduk… kamu itu twitteran, ngeblog, tapi kok ya ndak pinter – pinter. Ya kamu mungkin ndak punya, tapi siapa tau temenmu punya kenalan? kalo ndak ada, ya minta tolong sana, sama mahasiswa – mahasiswa yang butuh tempat KKN. Simbiosis mutualisme. Kamu ndak perlu turun gunung, turun langsung nyari gurunya. Jaman Social Media itu mbikin kamu ndak perlu panasan di perempatan jalan buat ngumpulin duit yang mau disumbangkan ke Merapi. Cukup dengan ngetuit ngetuit, pasang status di Facebook, bantuan akan datang dengan sendirinya. Memang, Simbah sadari, negara ini semakin lama semakin bobrok. Untunglah, warganya sepertinya semakin pintar dengan adanya teknologi dan kepedulianpun meningkat”

Saya mbatin, bener juga ya Simbah ini. Saya punya banyak sekali teman, dengan berbagai macam pengaruh, dan kepedulian yang tidak diragukan lagi. Akhirnya ide pun bersliweran di kepala saya.

“Soal pemasaran, kamu jangan kuwatir. Remaja remaji kita ini sekarang jamannya jaman gawul, asal kemasanmu menarik, mesti payu. Tapi jangan lupa menjaga kualitas, biar pelangganmu ndak pergi. Mau masarkan ke luwar negeri, tanya sana, sama Kangmas Pepeng, yang suka njuwal Candi ke luar negeri. Ncen cah gemblung kok Pepeng kuwi.” Simbah ngelantur lagi. Tehnya sudah habis rupanya. Begitu juga baterai bebe-nya yang sepertinya berteriak minta dicas.

“Sekarang rencanamu gimana? Bebenya Simbah udah minta dicas ini, repot kalo batrenya drop, ndak bisa tuiteran mbahmu ini nanti.” Yayaya, simbah memang kecanduan sama mainan yang satu ini. Dimanapun kapanpun wajib apdet status. Saya sempet curiga, jangan-jangan beliau juga membocorkan percakapan kami barusan.

“Gini aja, sekarang kamu bikin itu namanya Proposal, sekalian yang bagus biar ada yang tertarik buat mbantu kamu. Entah itu dana atau sumbangan tenaga, yang jelas itu akan sangat mbantu kamu, nduk”

“Proposal sih udah pernah mbikin, Mbah…tapi ndak pede aku… jadinya ya ndak pernah tak titipkan ke siapa siapa. Tapi setelah diwejangi simbah, rasa pedeku kayaknya langsung tuinggi ini Mbah!”

“Lha, jadi selama ini kamu memangnya ngayal wae po? ngimpi wae?”

“ya endak, aku udah mbeliin beberapa buku kerajinan, yaaa…minimal biar belajar sendiri merekanya”

“ya ndak jalan, kalo cuma seperti itu nduke, beda lho yo, antara penduduk kota yang belajar masak dari buku resep atau blackberry. Orang desa itu kalo ndak distimulus, susah untuk hal – hal seperti ini Nduke… Coba tips dari simbah tadi dijalanken. Sana, ikutan Microsoft Bloggership, sapa tau menang, dapet dana, bisa dipakai buat mengawali cita – cita muliamu. Katanya kalo menang dapet gadget juga, dan yang paling penting nduk, kalo kamu menang itu bisa terkenal, bisa masuk detik.com lho…”

“Halah, simbah ki… yang dipikirin kok popular populer terus. Yaudah, doain cucumu ini menang ya Mbah… Tapi kalo ndak menang gimana hayo Mbah?”

“Sudah pasti itu Nduk…Simbah selalu mendoakan cucu Simbah biar kampung kita ini ndak hanya ayem tentrem saja, melainkan warganya juga sejahtera. Kalo ndak menang? yo santeee… jangan sampek frustasi. Siapa tau Pamanmu yang duitnya meteran itu tergerak buat mbantu kamu? Siapa tau juga Ndorokangkung yang terkenal itu ngenalkan kamu sama temennya. Siapa tau tho? yang  jelas, digodok wae konsepmu yang mateng, jangan angin – anginan. Simbah ki seneng kalok lihat kampung kita hidup dan warganya juga hidup, pada pinter – pinter. Oiya nduk, pisang gorengnya tadi, sudah habis po?”

“Iya Mbah, tinggal satu itu tadi ndak tak makan, soalnya tadi jatuh ke lante trus sempet diendus si Choki” :mrgreen:
*langsung kabur*

“Wooo! Cah gemblung! Tak balang blekberi kene mengko!”

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

ps. warga kampung saya sebenarnya kreatif kok, mereka kurang penyaluran aja sepertinya 😆
ini skrinsutnya :

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

polisi = polusi? :P

polisi = polusi? 😛

Iklan

27 Oktober, Hari Blogger Nasional, dan Blogger Peduli

Hari ini, saya terbangun dengan hati berkecamuk tak karuan. Dada rasanya sesak, pengen nangis aja. Bagaimana tidak, sejak lusa, sepertinya “alam” Indonesia tak henti bergejolak. Dari yang korban kemacetan, hingga kemudian berita tentang gempa dan tsunami di mentawai sana, belum lagi status merapi yang dinyatakan awas, sampai akhirnya ‘muntah’ juga tadi malam.

Saya memang naif. Kurang suka melihat berita tentang bencana di televisi. Karena memang hal itu membuat saya mendadak cengeng dan perasaan yang nggak enak. Sayangnya, kali ini sepertinya sulit saya hindari. Timeline, Facebook semua dibanjiri dengan update tentang bencana. Dan kali ini, saya tidak menghindar, walaupun sebenernya bisa sih, tapi itu tidak saya lakukan. Entah mengapa, melihat di timeline dan televisi membawa energi yang berbeda buat saya. Membangkitkan semangat ingin membantu gitu kayaknya. Mungkin saya lebay, *iya sih, dari tadi emang enggak?* tapi ya begitulah keadaannya.

Melihat semangat berbagi teman-teman, dan bermacam inisiatifnya untuk membantu, mendorong saya ikut memikirkan, kira-kira apaaa yang bisa saya perbuat, seperti yang teman teman lakukan di luar sana. akhirnya saya memutuskan untuk mengapdet blog saya. konyol? iya. saya tau kok kalo saya ini konyol. Cuma memang ini yang terlintas pertama kali pas mikir. Memang sih, rencananya akan posting, tentang setahun kehidupan baru saya, dan kematian saya yang lain. Tapi, nggak perlulah. Satu kecupan kecil yang manis pagi tadi sudah sangat lebih dari cukup untuk membuatku bahagia denganmu kok 🙂

Kebetulan juga, hari ini pas hari blogger nasional. walaupun nggak ada hubungannya sama niat saya posting, ya memang hari ini pas hari blogger nasional, gitu aja. Aaaarrrrrrghhh KENAPA TULISAN SAYA KACAU BEGINIIIIIII?????

baiklah… kembali topik (topiknya apa sih?)

intinya saya ingin membantu menyebarluaskan informasi, yang siapa tau bisa berguna buat saudara2 kita yang sedang kurang beruntung ditimpa bencana. Sejak malam dan dini hari tadi, rekan rekan dari komunitas Cahandong yang memang dekat dengan lokasi kejadian, berusaha membantu sebiasanya ke daerah pengungsian. Terima kasih, teman-teman, i wish i were there :’)

buat teman teman yang ingin berpartisipasi, silakan. Yang punya blog, ayo, posting di blognya. Semakin banyak yang tau, kemungkinan orang membantu semakin banyak kan? Entah membantu secara fisik, mbantu materi, atau apapun yang bisa kita lakukan, yang mungkin meringankan penderitaan mereka.

seperti dikutip dari Bloggerpeduli,

Saatnya bergerak. Mari bersatu merapatkan barisan. Bantuan dari kita semua akan sangat berguna bagi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Setidaknya, jika kita tak punya cukup waktu, tenaga, atau materi untuk disumbangkan, kita bisa membantu menyebarluaskan berita dan informasi tentang situasi terkini di lapangan, memberikan informasi tentang kemana bantuan dapat disalurkan, dan sebagainya. Musibah memang azab, tapi bukan itu poinnya, kan?

Untuk Bantuan Dana, bagi yang bersedia, bisa disalurkan melalui rekan2 Cahandong
Update (27/5/2016) : rekening telah dihapus karena permintaan donasi telah ditutup. 
bloggerpeduli

Apapun bantuan anda, semoga bisa meringankan mereka. 🙂

Wonosobo : sebuah perjalanan sebelum nikah mati (part 1)

sebuah imel dengan pengirim kemplu bernama Pepeng, mau tidak mau menyeret jari saya untuk ngeklik lebih jauh.

gimana nggak menarik, lha labelnya aja naujubilah banyaknya. saat itu saya baru sadar, kalo Pepeng suriwil itu telah mengirim imel yang sama ke beberapa milis yang saya ikuti sekaligus.

glek!

demi membaca isi imel, serta merta saya ngeces. ngiler. kayak gini deh

gimana enggak. acaranya JALAN JALAN dan GERATISSS!!! nggak bayar sepeserpun! Yang ngadain? komunitas blogger wonosobo (di postingan berikutnya diceritain deeeh…launchingnyaaa). Keren banget ini komunitas! baru juga berdiri, lansung bikin acara yang manjain blogger banget!

oh tuhanku, berkatilah mereka para pembuat acara ini. berkatilah Tyovan dan Bupati Wonosobo yang gawul ituh…

*berdoa khusyuk*

tanpa pikir panjang ( ah, dasar Siwi, priceless!) dan setelah mendapatkan kepastian tumpangan sampai Solo, saya putuskan Ladub! alias budal ke Wonosobo. berbekal kocek yang tipis sangat, dan hanya semangat untuk memotret n jalan jalan geratis, berangkatlah jua saya akhirnya…

bersama Abang Tiok, dimulailah perjalanan kami naek kereta. Yes, this is my first time numpak Pramex alias Prambanan Express. Keretanya bersih, jauh dari kesan kumuh seperti kereta ekonomi yang biasa saya tumpangi (ya eyalah, kespress gitu siw!) . Dengan banderol cukup 7 ribu rupiah, kami melintasi beberapa kabupaten. Aseli, keretanya enak! rasa jeruk! nggak sumpek, umpel umpelan, ples : BEBAS ASONGAN n PENGAMEN.  Selanjutnya, kami naek angkot n Bis. Inih dia… perjalanan menuju kota wonosobo, yang paling berkesan adalah naik Bis jurusan Wonosobo, setelah dari stasiun Kutoarjo dan terminal Purworejo. Semua, saya bakalan ngira bisnya gede seperti bis antarkota lainnya. Ternyatwa… bisnya cuwilik dan jalan yang dilewatiiii… alamakjaaang!

JUUUUAAAAUUUUUUHHH dan berkelok kelok.

untunglah, udaranya sejuk segar, nggak panas kayak surabaya. Jadi sedikit ngga kerasa perjalanan yang keknya lebih jauh daripada malang – sby ituh.

Daaan…akhirnya, sampai juga kami di sebuah tempat berjudul Balai Latihan Kerja. Suasana sepi semriwinggg, ples diiringi tatapan tajam *lebay* embak embak di asrama sebelah.  Sadarlah saya, sebagian besar peserta masih pada sholat jumat, dan bahwasanya tempat menginap saya ini adalah balai latihan kerja alias asramanya calon tekawe.  Tapppiii…meskipun BLK, tempatnya eeeennnaaaakkkk banget! berwaifi, swejuk, bersih, tenang, cocok buwat tidur dah! dasar, yang dipikirin tidur mulu!

Menjelang jam satu siang, mulai ada tanda tanda kehidupan. setelah itu, kami lansung digelandang ke sebuah tempat berjudul rumah makan Sindoro Sumbing. *ngeces* dateng dateng lansung ditodong makan reeek…

rm sindoro sumbing

rm sindoro sumbing

disitu sempet terGR GR bakalan disuruh nangkep ikan yang wara wiri di kolam, ikannya gede gede boook… terus disuruh mbakar or nggoreng sendiri.

ehehe… ternyata ikannya hanyalah hiasan sodara sodara! kita makannya ikan ayam goreng ternyata 😀

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka utama dari hilangnya sebuah sendok

tersangka pemusnah nasi

tersangka pemusnah nasi

nah, jika waktu itu persediaan nasi menjadi berkurang jauh, tersangka utamanya tak jauh jauh dari orang ini. tak percaya? inilah buktinya

inilah dia

sehabis dihajar, disampluk sampluk pake ayam goreng dan krawu, kita diseret menuju sebuah desa bernama Sapuran, untuk melihat lansung proses pembuatan batik aseli Wonosobo.

Lagi lagi, kita menempuh perjalanan yang amboooiii banget… disebut amboi karena jalannya amboi dan pemandangannya emang amboi beneran.

Satu lagi kekaguman saya pada kabupaten yang nyempil ini : BANYAK KOLAMNYA! hampir setiap rumah mempunyai kolam yang jernih dengan ikan ikan berlarian, eh berenang kesana kemari. Bisa disebut, wonosobo adalah negeri seribu kolam.   😆

Batik Wonosobo, dibuat secara hand made oleh penduduk aseli desa ini. Kebanyakan yang bikin ibu ibu, embak embak dan emak emak. :D. Ada yang dibikin pake cetakan, ada pula yang batik tulis, masih pake canting yang dicelupin ke cairan malam panas itu lho… *keinget mbatik pas jaman SMA*. Motif khasnya, adalah buah carica dan daun tumbuhan purwaceng. Carica dan Purwaceng, adalah tanaman khas daerah pegunungan Dieng. tentang carica dan purwaceng, akan saya bahas di postingan lainnya tunggu aja 😉

motif batik wonosobo

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa kain

produk jadi berupa tas tangan

produk jadi berupa tas tangan

selanjutnya, mari kita mengintip “bengkel” tempat batik2 ini dibuwat…

cetakan motif purwaceng

cetakan motif purwaceng

lagi mbikin motif batik pake cetakan

lagi mbikin motif batik pake cetakan

naaah… itu tadi yang pake cetakan…

mari kita lihat yang batik tulis, sst… harganya konon lebih mahal lhooo…

lagi mbatik pake canting

lagi mbatik pake canting

batik belum diwarna

batik belum diwarna

batik belum diwarna juga

batik belum diwarna juga

naaah… berikut para ‘pahlawan’ batik kota wonosobo…

ibu ibu mbatik

ibu ibu mbatik

dan mereka yang berjuang melawan asap menyesakkan di ruang pewarnaan…

ruang pewarnaan

ruang pewarnaan

di ruang itulah, ibu ibu itu bertangisan, bukan sedih, tapi melawan asap yang emang perih di mata.

Sebagai usaha kecil, yang saya suka dari sini adalah pengolahan limbahnya yang patut diritu produsen2 skala gede. Ramah lingkungan bro!

Limbah pewarnaan batik dilewatkan dulu di semacam ‘penyaring’, baru kemudian dialirkan di parit parit kecil dengan air jernih mengalir.

saringan limbah

saringan limbah

sementara itu dulu deh yaaa… tunggu postingan sayah berikutnyah

😎

Lucy Part two

PARENTAL ADVISORY! EXPLICIT CONTENTS

Cuplikan episode Lalu : baca ini ajah yak? *siyul siyul* 

kaplok

Jadi, percakapan kamipun merambah rimba belantara kehidupan banci yang rimbun, rapat dan tak berujung. *plakkk*.  Satu hal yang lumayan menarik perhatian saya dari dia adalah -maaf- payudaranya, yang dari luar tampak tak jauh beda dengan punya saya, ups maksud saya, dengan wanita wanita lainnya. 

Chiw :*sambil nunjuk ke bagian pria yang seharusnya bidang* Nah, itunya kok bisa begitu Luce? *mbulet ya?*
Lucy : owalah…ini tah mbaaak…cuman beha aja kok, disumpel gabus. ben ketok gede. (biar keliatan gede, red)
Chiw :*manggut manggut* Gak kepingin yang aseli? *saya nggak habis pikir kok bisa nanya kayak gini*
Lucy : yo aseline Mbaaak, juuuauh dari dalam lubuk hati yang paling duwalam, jelase kepwuingin…
Tapi lho mbak, sekarang operasi payudara yang murah murahan jelas resikone kanker. aduuuhhh…amit amit jabang baby!

Chiw : nggak ada cara lain ya, selain suntik silikon?
Lucy : ada mbak, alami malahan… ada obatnya gitu…
Chiw : hormonal?
Lucy : iyo. *Lucy menyebutkan nama obatnya, tapi saya lupa :p * Tapi Mbak… karena obat itu cara kerjanya hormonal yaaa…dia nambah produksinya estrogen apa progesteron gitu deh… tapi… hormon asliku jadinya harus ngalah Mbak…
Chiw : *mendadak bego* ngalah yoopo e Luce? 
Lucy : Gini lho mbak… kalok minum obat itu, memang sih, payudarakyu bisa membesar secara alami… TAPPPIII… dibarengi dengan melemahnya fungsi Mr.Penny-ku.aku ndak bisa ereksyen, gak bisa orgasyem. huhuhu…jelas aku tak bisa menerima kondisiku yang seperti itu Mbak…Padahal yang namanya mastur itu weeenaaakkk… *ngomong gini sambil cekakak cekikik*
Chiw : Lha, kan bisa sekalian operasi kelamin gitu, di Tailand kan udah banyak… (gak percaya? tanya Arya
!)
Lucy : ya jelas pingin mbak sebenernya…menjadi wanita sejati. Tapi duwike sopppooo??? sementara ini ya disyukuri aja apa yang ada. Aku bahagia menjadi Lucy yang seperti ini kok Mbak…

percakapan kami waktu itu terhenti karena Lucy yang minta diajarin pidato dalam bahasa inggris untuk mengisi acara di komunitasnya -IWAMA Peduli AIDS- , serta hujan yang mereda, dan jam pertandingan yang semakin mepet. Percakapan kami berlanjut ke via telepon. Entah saya yang nelpon Lucy ataupun Lucy yang nelpon saya.

Lucy sangat excited ketika mengetahui saya memposting tentang kehidupannya yang tak biasa itu. Meskipun sebelumnya, saya sudah meminta izin padanya dahulu.
Dan dengan bersemangat menceritakan apaaa saja yang ingin saya ketahui. Masih tetap dengan gayanya : blak blakan.

Chiw : hola Luce…
Lucy : Mbak Swiwwwiii…kwangeeennn!!!
Chiw : hwehehe…biasah…yo gini ini nasib orang keren sepertikyu. *plakkk!!! ini bagian yang tidak penting*

kaplok


*kami ngobrol panjang lebar kali tinggi sambil bernostalgila, hingga saya tak tau bagemana bisa ada yang kayak gini(lagi)*
Chiw : Luce, kamu ndak ada rasa tertarik gitu, sama cewek?
Lucy : gini lho Mbak… aku tuh ngerasa aku ini cewek, jadi kalok aku sama cewek, jadinya lak lesbong malahan? jelas aku ndak tertarik, karena perempuan itu, menurutku sejenis dengankyu…
westalah, sekarang lho, ada cewek, seksi naujubilah, telanjang di depanku lho, aku ndak bakalan tertarik…

*entah yang ini sudah teruji apa belum, ada yang mau jadi sukarelawan?*
Chiw : hm… kalo sama gay atau banci lainnya gitu?
Lucy : tergantung Mbak…intine gini ya… kalo cowok yang gayanya mbanceni kayak O*lga atau Ru*ben ples I*gun dan sejenisnya itu, jujur aja aku jijik Mbak! dan ndak ada minat sama mereka. Tapi, kalo Gay yang kayak si *menyebutkan nama artis cowok yang disinyalir gay, tapi saya lupa namanya* itu. dia gay, tapi gayanya tetep cool, macho dan cowok macho itu nggemesiiin banget lho mbak. *dalam hati saya mengiyakan. asal machonya ndak kayak Ade Rai aja. Alih alih membuat saya kagum, yang ada malah serem*


*pembicaraan berubah topik lagi*
Chiw : kalo diitung – itung, kamu udah ML ama berapa cowok Luce?
Lucy : sekarang gini yo mbak…aku mulai hidup ginian ya sejak lulus sma. yaaa… dianggep ae pertengahan 2005 yooo… jadi sampai sekarang udah 3,5 tahun. 1 tahun 365 hari. dan jujur aja mbak, sejak mbalon, setiap hari itu aku pasti dapet klien. jadi, anggep aja sehari satu, berarti ada 365 x 3 + (1/2 x 365) = banyaks kan yaaa… huhuhu…

Chiw : *tersedak.kaget nggak nyangka*
Lucy : malah seringnya sehari aku ndak cuman sama satu orang Lho mbak…
yang rekornya sampe sekarang belum terpecahkan, sehari aku main sama 26 orang! sampe tempat naruh duwit itu ndak muat!

Chiw : *bener bener shock kali ini* 26 oraaanggg???
Lucy : iya mbak… huhuhuhuhu… *tertawa kalem* sampek ledeh kabeh rasane awakku. (sampe hancur semua badanku rasanya,red maksa)
Chiw : *ndak berani membayangkan*

Lucy meneruskan ceritanya yang membuat saya hanya bisa geleng geleng kepala dan sesekali menghela nafas panjang. Tentang pelanggannya yang bahkan anak anak SD, tentang pelanggan kasar yang sering maen tangan, tentang pelanggan setia yang ganteng ganteng, tentang sulitnya hidup ditengah pandangan masyarakat yang mencibir kaumnya, tentang AIDS, tentang shopping, tentang test kesehatan di klinik, tentang Mellani, tentang aaahhh… Lucy, Lucy… terlalu banyak hal di dunia ini yang baru aku tau setelah mengenalmu lebih dekat, bukan hanya sebagai adik kelas yang sedikit gagah gemulai. Mungkin, suatu saat akan saya buat postingan lagi, mengupas lebih banyak sisi lain kehidupan seorang banci, cermin kehidupan terasing dan kultur masyarakat yang sangat gender oriented.

Lucy, mungkin bagi sebagian orang adalah perusak generasi penerus bangsa, manusia menakutkan dan jahat, makhluk yang dilaknat agama, sampah masyarakat, hingga sesuatu yang layak dilenyapkan karena tak pantas hidup di bumi ini (ini saya ambil dari komentar dan email yang masuk ke saya untuk tanggapan Lucy part 1). Buat saya, Lucy adalah salah satu guru kehidupan. Bukan…bukan tempat mempelajari mencari 26 klien dalam semalam dengan daya tariknya, tapi kegigihannya, hingga dengan sederet himpitan itu, dia tetap bisa memberi semangat pada dirinya sendiri untuk hidup dan bagaimana untuk terus hidup, entah itu sebagai perempuan, lelaki, atau keduanya.

Smangat terus, Neng!

 

lucyamendoza

lucyamendoza

Lucy part one

PARENTAL ADVISORY! EXPLICIT CONTENTS

Sabtu, 22 Nopember 2008. Sebelum pertandingan Arema vs Persibo

Saya sedang di Warkop Horor, warkop milik teman saya kala itu. Ketika dari kejauhan, di bawah rintik gerimis Kota Kepanjen, tampak sesosok wanita berpayung, berjalan ke arah jalan raya, dengan hotpants-nya yang sangat gaya.
Dari cara berjalannya, saya merasa mengenalnya!

Saya putuskan untuk melambaikan tangan. Dia semakin mendekat. Saya lambaikan tangan lagi, kali ini dia melihat saya dan lansung berteriak histeris genit “Mbak Siiiiiiiiiiiwww” sambil menghampiri saya di warung kopi. Tidak salah lagi! dia itu Syaiful! adik kelas saya di SMA. Ups, bukan! Dia bukan Syaiful lagi! Dia sekarang populer dengan sebutan Lucy. L – U – C -Y!

Saya pandangi dia. Rambutnya panjang alami, bukan wig atau hasil hair extension!

Kaos lengan pendek menempel ketat di badannya. Hotpansnya cuma menutup beberapa puluh senti di atas lutut. Duduknya anggun. Saya aja ndak seanggun itu. Bibirnya seksi, terbentuk. Dipoles lipstik warna soft pink, Lucy sudah nyaris tak ada bedanya dengan wanita kebanyakan. Malah saya yang merasa aneh. Jangan jangan, saya yang lelaki!

Mengobrollah kami seperti dahulu. Ipul, eh Lucy, masih belum berubah. Masih tetap blak blakan, bicara tanpa tedeng aling aling, sama seperti saya. Cuman, kalo sama Lucy, saya yang agak hati hati bicara.
Beberapa pengalaman nggak enak membuwat saya lebih hati hati bicara sama siapapun. Saya lebih banyak bertanya saat itu. Jelas saja, meski gejala feminim Ipul ini sudah tampak sejak saat saya mengenalnya, saya tidak menyangka bakalan sampe kayak gini.

Siw : Kerja dimana sekarang Pul?
Lucy : ya disini ini mbak… mbalon… prostitusi
Siw : legal ndak? terorganisir ndak?
Lucy : ya liar kayak gini wes…bekerja dewe dewe
Siw : Lha kamu disini sendirian gitu?
Lucy : enggak Mbak. ya disini banyak temennya. Sesama banci gitu deh…
Siw : Ho…ngekost yak disini?
Lucy : iya. Nyewa bedak di pasar. Setahunnya 1 juta.
Siw : Pelanggannya gitu, orang mana?
Lucy : ya macem macem mbak… ada yang dari sini sini aja. ada yang dari luar. banyak lah. Sampeyan mau tah, lihat ini? ada foto ada video Lho…
Siw : vidio aja deh…
Lucy : tapi ada penisnya lho…gapapa tah?
Siw : ya gapapa. emangnya kenapa ? *dalam hati aslinya ragu*

Saya menerima hengpon nokiyem seri entah berapa ituh, dan ditunjukkan beberapa vidio bikinan Lucy dan pasangannya.
Siw : buwat apa toh mbikin video kayak gini?
Lucy : ya buwat dokumentasi toh Mbaaaak… *sambil mengibaskan rambut*
Siw : Lha mereka ndak keberatan gitu, direkam kayak gini?
Lucy : sebagian besar ya keberatan… tapi biasanya aku pura pura bikin foto gitu. Aslinya video. *sambil ngakak genit* Tapi ya nggak semua tak rekam lho Mbak… khusus yang cakep cakep aja sih…

Siw : *masih mengamati ponsel dengan heran dan takjub -halah-* Pelangganmu ganteng ganteng kayak gini sebagian besar lelaki normal ato gimana Lus?
Lucy : sebagian besar mereka normal Mbak… cuman ya ada yang seneng mainin penisku, ada juga yang maunya cuman dioral, ada yang sekalian mintak disodomi.
Siw : kamu selalu jadi ceweknya gitu?
Lucy : yo mesti lah Mbak… dan meskipun penampilan kita kayak cewek, kalo kelakuan kita ndak cewek, mereka bisa ilfil juga. Jadinya ya, kita harus bersikap kayak cewek cewek beneran gitu…
Siw : ooow… pelangganmu sehari gitu sampek berapa?
Lucy : ndak mesti Mbak… soale disini kan ndak sendiri. Ada banci banci yang laen juga. Pelanggan jugak milih. kalo cocok, ya lansung pakek…
Siw : *manggut manggut takjub sambil tetep mantengin pidio* Soal pentarifan, kamu masang tarif berapa gitu, sekali maen? *buset!saya kayak mami mami aja*
Lucy : beragam mbak. tergantung. Antara 5 ribu sampek 150 ribu rupiyah bergantung sama pelanggan. semakin aku suka orangnya, semakin takasimura… *sambil memelintir rambutnya*

gerimis belum berhenti. Kepanjen semakin dingin. saya dan Lucy larut dalam pembicaraan yang semakin menghangat.

bersambung…*ala senetron2 endonesyah*

betewe, ini fotonya si Lucy

lucy

back online dan satu tahun ehem

ah, setelah sekian lama males ngeblog hiatus, akhirnya saya online lagi…

ada beberapa kemajuan setelah lama sekali saya berhenti sejenak ngeblog

1. Sudah bisa nyetir motor, terutama motor matic, udah gape lah…
cuman masih agak mengkhawatirkan pas belok.
motor manual? hadoh…masih susah mbagi konsentrasi antara ngoper2 gigi, ngerem, ngelirik sepion, dan suka keringat dingin sama muka pucat kalo papasan sama kendaraan lain.
Thankz loth buwat Pak Bos, my brader Dodo dan my luvly brader Joan yang udah bersedia mempertaruhkan nyawa selama ngajarin Siw peyuuuk

thankz juga buwat Angkinjeng yang motornya saya robohkan kemaren . puwas Ngki? puwas??? :mrgreen:

2. nyetir mobil? masih terlalu membahayakan penumpang lainnya. jadi tak perlu dibahas lebih lanjut.
3. maen gitar? sudah oke… ngegenjrengnya juga sudah oke. sayangnya baru bisa maen satu lagu.
oke, tolong jangan dihina dina, saya baru bisa maen “Kisah Sedih di hari minggu” versi patah patah dan ngawur. tapi okelah… belajar dua hari ajah. Dua hari aja udah cukup mbikin tangan ngapal dan bedarah darah *berlebihan*

4. Hari ini kalo nggak salah adalah satu tahun saya dan si Mas ehem . selama setahun itu banyak ehem ehem dan ehem ehem yang sudah kami ehemi.
kira kira kapan kami ehemnya ya?

5. saya masih utang sama rekan sekalian untuk melaporkan hasil sosialisasi UU ITE. sabar… maaf… saya masih terlalu susah merangkai kata kata inih…

oke, itu dulu deh… 😉
postingan pemanasan dari saya…buwat belajar ngeblog lagi… 😀

Selamat Jalan, Sultan…

Selamat bertolak ke negeri pohon berdaun uang,
dan sungai berarus coca-cola.

Saat sebuah elang bisa terbang sendiri,
apalah daya sarang untuk melawannya?

Sarang cuma bisa kesepian.

Tetapi sarang tak lupa berterima kasih,
karena elang menitipkan hati untuk dikenang,
dan hasrat untuk diteruskan.

Maka, sebenarnya elang tak pernah pergi,
karena yang ia titipkan,

tak pernah hilang.

opo ki 😮

sebait puwisi dari saudara Herman Saksomon di atas sebenernya cukup bagus ,  hanya diiringi kata penutup yang njengkeli dan tiba tiba merusak isi puwisi yang sebelumnya.
*sok korektor *

dan maaf, saya ndak ngereview puwisi tersebut sebenernya . Cuman, karena saya suka puwisinya , yaudah…comot aja…
dan ternyata mas Herman Saksomon terbukti tak hanya berbakat jadi Corporate Communication Director, tapi juga jadi penyair kontemporer. Oh iya, kita ndak mau ngomongin sual Mas Herman Saksomon ya? 

Seperti judul di atas… kami sedang kehilangan sultan kami , sebuah sosok yang bijaksana, dewasa, gagah, berwibawa, pandangan mata meneduhkan, nada bicara tegas, penuh sopan santun, dan memikat banyak wanita . Oh maaf… jikalau definisi tersebut terlalu berlebihan . itu memang definisi umum tentang Sultan ataupun raja raja dalam negeri dongeng . Tapi jangan bayangkan sultan kami seperti itu, karena kami tidak sedang hidup di Negeri Dongeng . Sultan kami sangat jauh dari tampang bijaksana, dewasa?apalagi! gagah? sangat tidak! berwibawa? omaigat!  itu apalagi… dengan pandangan mata yang menusyuk dan bicara penuh pisuhan. Memikat? oke… satu satunya wanita yang dipikatnya adalah Mbak Memet…yang mungkin saat itu sedang kena penyakit katarak…

Tapi, sejelek apapun, Sultan kami tetaplah Sultan . Yang mengayomi para jelatanya dengan penuh kasih sayang . Meskipun beliau tidak terlalu fasih dalam berbahasa Indonesia , bahasa tubuh beliau cukup membuat kami mengerti bahwa kasih sayangnya begitu besar untuk kami, para jelata yang kesepian dan mengharap uluran tangan dari kalian semua .

Sultan, masih teringat kala kita bertiga trisum  (bersama dengan simbok ) merencanakan pembunuhan nista untuk salah seorang tokoh besar revolusi blog? Saat itu, aku tak menyangka kau bakal menjadi Sultanku . Bagaimana mungkin, seorang kanibal yang jahat dan gahar akan menjadi seorang pemimpin?  bisa jadi, suatu saat, saya yang bakalan dikrakoti sama dia. Tapi, jujur saja, saat itu saya sangat menikmatinya . Membayangkan menjadi seorang pembunuh sadis terhadap orang yang layak dibunuh memang menyenangkan!

Ah, sultan … hari memang telah tiba waktunya 😥 . Sudah saatnya Ndoyokarta melepasmu dari pelukan , demi 5 juta per minggu. demi masa depan yang lebih baik. Pesan kami, tetaplah mencintai kami , tetap kucurkanlah gajimu kasih sayangmu pada kami, para jelata yang haus akan traktiran kasih sayang.

Selamat Jalan, Sultan, damai menyertaimu selalu…

Postingan terkait
1. Eko Kasela
2. Tika 3D
3. Momon 3d
4. Antokbil
5. Pak Dhe
6. Memet
7. Peter
8. Sri Bagindi
9. Leksa, kembarannya peter
10. Jeng Tikabanget
11. Pak Yahya
12. Pepeng Sukoprol
13. Portal Cahandong
14. The Sandalilang
15. Balibulbul
16. Antots