Tentang Bayi Laila dan update kondisinya (Update)

Akhirnya saya update blog juga. Langsung aja ya ceritanya…

Berawal dari sebuah FB status update rekan saya, Benny Nugroho yang berbunyi seperti ini :

Maaf, temannya adikku hari ini melahirkan prematur. Bayinya tanpa lubang hidung, tanpa mulut, dgn 12 jari tangan dan kaki. Mohon bantu share ke teman-teman lain mungkin ada yg ingin bantu dukungan biaya. Dibutuhkan biaya sekitar Rp 30jt. Sekarang berada di RS Saiful Anwar Malang. Biaya 1x operasi, sedangkan menurut dokter butuh 3 tahap. Nama ayah Rokhim, kuli bangunan, ibu Hudah, ibu rumah tangga. Sumbangan bisa ditransfer ke BCA 315 075 9802 a.n. Novian Wijaya. HP 085 855866686 atau 0341 8655506. Terima kasih.

Maka saya langsung tanya ke beliau : “Itu udah confirmed Ben?” mengingat saat ini banyak sekali penipuan berkedok anak cacat atau yang lain. Karena saya percaya Benny dan memang sudah dikonfirmasi oleh adik Benny, maka saya share-lah status beliau di FB saya. 

Tak diduga, ada seseorang yang kita sebut saja Komandan DP (yang menyebut saya dengan panggilan Agen Siwi), mengirim pesan ke FB saya, menyampaikan bahwa beliau ada dana untuk membantu si bayi malang ini. Karuan, saya mbrebes mili. Saya pribadi memang cukup akrab dengan beliau dan keluarga, tapi belum pernah bertemu langsung dengan tatap muka. Dengan keluarga si bayi apalagi. Cukup rumit dijelaskan antara keluarga bayi dengan Benny, teman saya. Ndak nyalahkan, namanya juga berusaha bantu orang, kan ndak harus sodara, ya tho?

Info yang kami peroleh sangat mentah, dan ada tambahan informasi dari Benny, bahwa si bayi malam itu (selasa, 7/24) masih berada di rumah sakit Refa Husada, serta memberi no telepon rs tersebut. Setelah saya menghubungi 2 kali n baru nyambung ke ruang perawatan, dikonfirmasi oleh petugas Wiwin bahwa memang ada bayi terlahir cacat yang sedang dirawat, anak dari Bapak Rokhim. Bayi yang sekiranya dirujuk ke UGD RSSA Malang, tidak bisa karena tidak ada kedaruratan medis, melainkan cacat bawaan.

Berbekal info ini, akhirnya saya dan Komandan merencanakan pertemuan untuk melihat langsung ke lokasi. Komandan yang saat itu di luar kota, langsung meluncur dengan digendong betmen ke Malang. Paginya, beliau menjemput saya di terminal Arjosari malang, meluncur menuju tempat yang seumur2 baru ini saya datangi. Sampai di lokasi, kami bertemu Mas Aris (yg ternyata bukan adik langsung dr Benny), kakak sulung si bayi, serta ibu Hudah dan seorang saudara perempuannya.

Langsung ke bayinya ya…

Bayi perempuan ini bernama Casta Laila Ramadhani, lahir pada hari Senin, 23 Juli 2012 pada pukul 18.30. Laila (begitu saya memanggilnya) adalah anak ke 5 dari pasangan bpk Rokhim yang seorang tukang, dan ibu Hudah yg ibu rumah tangga.

Pertama kali melihat bayi mungil ini dari balik kaca, lutut saya lemas. Anak sekecil ini, yg seharusnya hangat di pelukan ibunya, menyesap asi, harus dibebani dengan selang dari mulut dan hidungnya yang tidak tampak jelas. Ya, Laila memang tak memiliki mulut dan lubang hidung normal layaknya saudaranya yang lain. Saluran pencernaan dan pernafasannya menjadi satu, dan tak hanya itu: Laila juga memiliki kelebihan jari di setiap tangannya.

Bayi dengan kelainan saluran pernafasan & pencernaan, serta kelebihan jari tangan kaki

Kami sempat ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis, sayangnya beliau tak ada di tempat krn prakteknya pagi.  Tapi, intinya begini:

1. Bayi Laila saat ini sedang diobservasi rumah sakit, dan mendapatkan obat injeksi hingga malam ini

2. Bayi Laila boleh dirawat jalan, dengan catatan sang ibu dapat memberikan perawatan seperti yang diajarkan pihak rumah sakit

3. Bayi Laila juga harus kontrol seminggu 1x (atau sebulan 2x, saya lupa persisnya) untuk mengganti selang di mulutnya)

4. Bayi Laila akan segera dioperasi saat tubuhnya sudah kuat, yaitu kira-kira 2 atau 3 bulan lagi.

Karena keluarga bayi Laila adalah keluarga tidak mampu, maka saya dan Komandan DP membantu mengusahakan bantuan hingga Laila selesai operasi nanti. Bantuan tidak kami berikan ke pihak keluarga, melainkan kami bayarkan langsung ke rumah sakit yang bersangkutan, untuk menjamin bantuan kami tepat sasaran, dan meminimalisir kemungkinan adanya penyelewengan dana. Untuk hal ini, kami akan terus mengawal perkembangan Laila.

Saat ini, mohon maaf kami TIDAK MENERIMA BANTUAN DANA, karena sudah TERCUKUPI, dan jika anda ingin membantu, mohon dialihkan ke sekitar yang lebih membutuhkan. Dengan ini pula, kami menyatakan tidak bertanggung jawab atas rekening yang telah tersebar sebelumnya, karena kami berdua tidak membuka penggalangan dana (sebelumnya, saya hanya bantu menyebarkan info).

Terima kasih teman-teman yang sudah membantu menyebarkan kabar, dan khususnya kepada komandan DP yang telah jauh-jauh ke Malang dan tekadnya membantu bayi malang ini. Program kita masih banyak, PakDhe! Terakhir, terima kasih teman-teman yang sudah membaca ini, sudilah kiranya bantu menyebarkan post ini agar trefik blog saya naik agar lebih banyak yg tahu tentang kondisi bayi ini dari sumber yang benar dan tidak simpang siur 😀

 

Update 26/07/2012 (10:30) : Barusan saya disms oleh mbak Nurul (salah satu pihak keluarga) bahwa bayi Laila sudah boleh dibawa pulang. Hari ini saya akan ke Malang mengurusi administrasinya. Doakan yang baik-baik untuk si kecil ini ya kawan 🙂

Iklan

Keyboard Qwerty dan Jaman yang Makin Edan

Usia memang tak selalu identik dengan kebijaksanaan seseorang. Pun, usia juga tak selalu berbanding lurus dengan yang namanya ilmu pengetahuan. *halah, lha ini namanya apa kalo bukan sok bijak, siw?*

Warung kecil tongkrongan Bapak-bapak dan Mas-mas tentara ini emang lumayan rame kalo siang. Tak hanya pak mas tentara, juga pak-pak dan mas-mas non tentara nongkrong di situ. Berbagi bermacam gosip, tukar cerita, petuah kebijaksanaan, sampai obrolan ngalur ngidul gak jelas. Nah, di warung inilah saya menemukan bahan tulisan, tentu saja untuk di-blogkan.

Kejadian 1:
Nah, suatu hari, seorang Bapak usia 50tahunan dan beberapa yang masih muda, menonton televisi sambil bercerita tentang bermacam kejadian. Dari maling, teroris, musim hujan dan kemarau yang tak lagi bisa diprediksi, sampai jaman yang makin edan.

Nah, topik terakhir ini yang membuat saya nyaris nyembur mie ayam waktu makan. Apa dan kenapa? mari kita ‘dengar’kan pembicaraan bapak-bapak (yang terlihat) sok bijak tersebut.

BS (Bapak Sotoy): Yang dibilang jaman makin edan itu memang bener. Anak perempuan dandan kayak laki-laki, yang laki-laki makin kemayu.
M1 (figuran1): Lhaiya Pak, yang perempuan banyak jadi tukang parkir, yang laki-laki jadi tukang masak di restoran

*saya masih anteng sambil tetep nguping*

BS: Yang paling jelas salah kaprah ya keypad henpon itu. Dulu, meskipun jadi satu, masih tetap ABCDEFGH urut. Lah sekarang? udah satu-satu tapi urutannya ndak urut lagi. Masa hurufnya dimulai ndak dari A lagi, tapi dari “Q”
M1: *manggut-manggut kagum dengan si BS*

Saya: *melotot* 😯 😯 😯 *tersedak mie ayam*
*obrolan berikutnya ngga menarik lagi, karena perut saya sakit nahan ketawa* 😆 😆 😆
Pengennya sih, saya nimbrung di situ… tapi, melihat binar percaya diri dan jagoan di wajah si BS, saya ndak tega mau merusak kebahagiaannya :mrgreen:

Kejadian 2:
Warung agak sepi, hanya terisi sekitar 6 orang. Sepertinya yang bergerombol adalah tentara-tentara muda. Mereka membahas lagu-lagu, artis dan gadget terbaru. Seperti biasa, bakat nguping alami saya langsung bekerja begitu mereka mengobrol dan menyebut istilah-istilah yang asbsurd.

Tentara1 (T1): aku abis download lagu lho, banyak lagunya. Terus di folder download aku pilih ‘mark all’, terus tak ‘delete’ lha kok lagunya ilang semua.

Me: *nyembur es tebu* 😳 😳 😳

Yaampuuun, mangkane talah Pak, belajar basa linggis! *lol* Kalo aja saat itu bukan di warung, mungkin saya udah ngakak guling-guling :mrgreen:

Saya tahu, nggak semua orang ngerti bahasa asing. Nggak semua ngerti tentang kenapa keyboard itu qwerty, bukan abcdefgh. Tapi kalo emang nggak tau yang bener, minimal nggak usah sok tau deeeh…

Oh ya, anda ada pengalaman serupa tentang sotoy? Marilah dishare, kawan 🙂

Sebuah Pengalaman Spiritual Yang Menggugah Hati *plak*

Setiap orang, pasti punya pengalaman spiritual masing-masing. Pengalaman yang kadang membuat orang lain menganga tak percaya, takjub, merinding, hingga speechless ketika anda menceritakannya. Ketika bicara tentang pengalaman spiritual, maka yang terlintas dalam benak secara otomatis adalah pengalaman magis yang sering diluar akal sehat, berkaitan dengan cerita2 ghaib seputar agama & masyarakat.

Tapi tentu saja saya tak akan menceritakan hal itu. *plak* Judul di atas hanyalah karena saya bingung memilih judul apa untuk cerita kali ini *dobel plak* Kali ini, saya hanya akan menceritakan sedikit dari sekian kebodohan yang pernah saya lakukan. Karena kalo banyak-banyak, jadinya nggak bagus buat kesehatan *krik*

Semua orang tau, saya ini penidur. Saya bisa tidur dimana saja, even di sebuah tempat yg mustahil bagi orang lain untuk tidur. Contohnya adalah di sebuah kelas, kursi paling depan, dan dosen ‘kurang ramah’ yang sedang menerangkan mata kuliah. Namun, semua rintangan ini bisa saya lalui dan saya bisa tidur dengan bahagia (yea, walopun setelahnya ditegur juga sama dosennya sih ya).

Kejadian kali ini, tentunya berkaitan dengan hobi tidur saya yang agak susah saya kendalikan karena sudah berasa habit aka kebiasaan. Hari itu jumat yang membosankan ditengah terik kota Surabaya. Jumat adalah hari yang nanggung untuk kuliah, karena waktu istirahatnya terlampau panjang. Di kampus saya, ada sebuah tradisi bernama mentoring dan kajian setiap hari jumat. Kajian ini diadakan di tiap jurusan oleh kerohanian putri, pas cowok-cowoknya lagi shalat jumat.  Beruntungnya saya, di jurusan saya nggak ada kajian ini *muhahahahaha* tapi tetep, yang namanya mahasiswa baru, yg cewek disuruh ngikut kajian di jurusan sebelah yg masih satu fakultas. Sepertinya sih, temen seangkatan ngga ada yang ikutan. ancur emang. Nah, sayangnya saya nggak seberuntung itu.

UKM yang saya ikuti, yaitu Pramuka, selalu mengadakan kajian rutin tiap jumat, dengan topik berbeda tiap kajiannya. Saya ini, orangnya paling males ikut kajian2 begituan, dan lebih suka baca buku or nyari duit *plak*. Jadilah, jumat itu saya kebingungan nyari tempat untuk tidur. Mau pulang ke kost, kok ya nanggung banget, mau tidur di jurusan nggak bisa (karena nggak ada kuliah), mau tidur di Sanggar, juga tidak mungkin karena dipakai kajian keputrian. Jadilah kepikiran untuk tidur di lantai 2 masjid kampus. Fyi, lantai dua ini biasa dipakai shalat untuk jamaah putri. Saya juga mayan sering tidur di sini, di hari2 biasa. Tempatnya enak, lantai dingin dengan semilir angin membelai, jadi tempat yang pas, surga untuk tidur.

Berangkatlah saya, dengan penampilan ala kadarnya, khas kostum kuliah : kaos oblong lengan pendek dan celana jeans butut. Dengan langkah penuh percaya diri dan keyakinan menikmati surga duniawi *halah* Sampai di lantai dua, ternyata masih banyak mbak-mbak yang sholat, jadilah saya menunda rencana tidur. Kecewa lah pokoknya. Tapiii, bukan Siwi namanya kalo gagal tidur hanya karena sungkan. Karena, entah berapa detik setelah keputusan menunda tidur itu, ternyata saya sudah menghilang entah kemana. Dan entah berapa lama saya tertidur saat itu, ketika tiba-tiba badan merasa tak nyaman. Bete, pusing dan pengen marah. Tau kan, gimana rasanya kalo tidur trus dibangunin mendadak?

Dan ketika membuka mata, ternyata saya dalam keadaan ndlosor (padanan ndlosor, apa sih?) dan tertidur lelap, dengan dua mbak-mbak berkerudung lebar dan jamaah cowok yang mulai menata shaf di sebelah kanan saya. Beberapa dari mereka memandangi saya dengan tatapan heran yg seolah berkata “Ih, itu makhluk apa sih?”

WOOOTTT? JADI DISINI DIPAKE SHOLAT JUMAT JUGAAAA??? *nyaris pingsan karena malu saat itu*

Si mbak satunya bilang, katanya tadi saya dipanggil2 (maksudnya dibangunkan) tapi nggak ada respon, jadilah mereka berdua yang ‘dimintai tolong’ untuk membangunkan saya.

Memasang wajah cool, saya pura2 nggak malu dan bilang minta maaf, lantas menuju kantin dengan langkah tegap tanpa menoleh kemana – mana lagi. Sempat mendengar seseorang memanggil nama saya ketika berjalan melewati jemaah putra yang memadati masjid, tapi saya pura-pura nggak denger dan emang sedang nggak berniat jumpa fans, jadi saya acuhkan saja.

Ternyata sodara, tiap hari jumat, tempat yang steril dari kaum cowok itu memang selalu dipakai untuk sholat jumat juga : sesuatu yang baru saya ketahui hari itu.

Itu ceritaku, apa ceritamu?

Video sebagai terapi stress

Dua minggu ini, mendadak jagad twitter diramaikan oleh video yang rata2 “bikin ngakak”. Tapi, disini saya tidak akan membahas Chaiyya Chaiyya nya Briptu itu tuh lho ya. Dia sudah over exposed. Tinggal menunggu akhir nasibnya saja di iklan Sozis, atau direkrut sama Charly ST12.

Video – video ini, membuat saya ngakak dalam arti sesungguhnya, dengan keunikannya masing2. Bisa dikatakan, ini sebuah stress reliver baru untuk saya. Mungkin juga untuk anda lho. Siapa tau?

1. FAKRY – ATROMEN (Ultraman Kelantan)

Salahkan @Masova jika pada akhirnya saya terjerumus.
Entah video klip ini serius, atau memang sengaja dibuat parodi, saya kurang tau persis. Tapi video yang ‘dibintangi’ oleh FAKRY itu sukses membuat saya ngakak ditengah himpitan kerjaan dan merasa benar2 segar!! *oke, ini lebay. Jangan tanya saya siapa itu Fakry, karena manusia ajaib ini baru kali ini saya temukan. Kalo menurut deskripsinya sih, Mr Fakry : a dikir barat singer and also part time superhero Ultraman.
Baru kali ini saya ketemu Ultraman yang berubah wujud dari bapak-bapak berkacamata hitam. Selain pertempuran Atromen/Ultraman dengan monster2, tolong anda jangan mengelus dada ketika ‘disuguhi’ gaya menyanyi bapak ini yang memang agak ajaib.
Tak hanya itu, karena lagunya yang easy listening, Atromen ini sukses membuat saya tak hanya terngiang2 sepanjang waktu saja, melainkan saya MENYENANDUNGKAN!. IYA! MENYENANDUNGKAN! 😐
Atromen makhluk yae sangat mulio… Atromen manusio biaso *tampar diri sendiri*
Dan, oh ya. Closing nya sangat keren dan memukau! Sang Atromen pesan nasi rames! 😐

2. Astuti – New version by Masca2 (warning : jika anda pecinta the Rollies, MUNGKIN anda akan merasa agak terhina dengan ini. Jadi, daripada sakit hati, jangan dilihat ya…)

Musiknya oke kok sebenarnya. Mungkin yang bikin ngakak disini lebih ke pembuatan vidklip yang terkesan asal – asalan, sehingga berasa kayak video klip jaman2 tvri. Disamping itu, gaya vokalisnya yang -beberapa bilang- kayak aktivis partai gerin*dra, dan modifikasi tuti tuti jadi TUTI TUTEEEYYY atau CUCI CUCEEEYY, serta senyum gak wajar mbak2 modelnya, yang menurut saya bikin ngakak. Tak kalah, yang jauh lebih bikin ngakak adalah komen komen di laman yutub tersebut. Video ini sempat ngetop di twitter, bahkan sampe ada beritanya di Kapanlagi.Com

Bandingkan dengan Astuti yang asli, versi The Rollies, yang (menurut saya) jauh lebih easy listening dan santai.

eniwei, ini soal selera sih ya. Mau suka yang mana terserah. But still, vidklipnya Masca2 emang bikin ngakak!

3. Lagu Loghat Kelantan – Pencinta Wanita.
Dapet dari temen twitter saya,

Lagu aslinya Irwansyah, dinyanyikan ulang dalam bahasa Kelantan. Kelantan lagiiii? Tidak, saya tidak ada sentimen apapun sama logat kelantan. Yang menghibur dari video ini apa sih? Almost nggak ada sih… cuman, ngerasa sangat beruntung hidup di Indonesia, dengan band2 anak muda, yang tampaknya telah memakai teknologi lebih tinggi daripada mereka. Model2 vidklip disini juga JAUUUHHH lebih fashionable dibanding model sono.

4. Yang terakhir ini ini dapat dari Gum di milis. Saya no komen deh. sepicles. Liat sendiri yah.

Sudah liat semua? Mana yang paling juara menurut anda? Atau, ada referensi video lain? saya dengan senang hati menonton or even download. Download 50 mega ndak sampe 10 menit kok 😎 *dikeplak* :mrgreen:

ps.
– Maaf kalo judulnya sok keren ya. Sejujurnya, kelamaan ndak ngapdet blog membuat saya kesulitan milih judul buat postingan.
– saya ndak njamin stress anda sembuh dgn video2 tersebut lho yaaa…

Microsoft Bloggership 2011 : Antara Saya, Perempuan Desa dan Impian

Di sore yang #galau itu, mendadak Mbah Kirangan datang membuyarkan lamunan saya. Betul, akhir – akhir ini saya memang sering #galau memikirkan negara dan nasib anak bangsa *plak*. Iya maaf, saya berlebihan, tapi boleh dong, saya mempunyai bermacam impian untuk -ehm- minimal kampung saya sendiri? Impian saya memang muluk – muluk. Iyalah! masak mimpi saja nggak berani muluk – muluk? Dan sepertinya, Mbah Kirangan datang pada waktu yang sangat tepat. Sekedar informasi, beliau memang biasa datang ketika saya memerlukan petunjuk datangnya hujan, atau saat-saat dimana saya membutuhkan wejangan. Misal wejang jahe, wejang kopi, dll. #krauk

Mbah Kirangan duduk di kursi malas favoritnya, lantas menyeruput teh hangat yang terhidang di meja kayu berukir di sebelah kanan kursinya. Tanpa permisi, beliau juga menyomot pisang goreng hangat yang tidak jadi saya makan karena tadi sempet jatuh ke lantai.

“Ada apa tho, nduk? wajahmu kok dilipat – lipat? lagi belajar poligami po?” :mrgreen:
ujarnya memulai percakapan kami.
“PLIS DEH MBAH! ITU ORIGAMI!” sergahku 😡 . Yayaya, si Mbah emang suka asal nyebut istilah. Asal njeplak, asal mirip.
“Hehe… simbahmu ini cuma ngetest wae, kamu masih konsentrasi apa endak. Ternyata masih sadar :mrgreen: . Ada apa tho, sini cerita sama simbah…”

Mulailah cerita saya…

“Gini lho mbahe… cucumu ini sedih kalo liat kondisi kampung kita. Dari dulu ndak ada perkembangan selain jumlah bayi, henpon sama tipi yang makin banyak”
“Masalahmu apa?” Sela simbah. Nada bicaranya mirip banget dengan Sir Mbilung.
“Sik thooo…! Simbah ini mintak ditabok. Ceritaku belum selese mbaaaah”
“Ya wes, lanjutken dulu” ujar Simbah sambil ngikik ndak jelas

“Dari jaman aku masih hobi main layangan, sampek sekarang mainanku hengpon Android, kampung ini sama sekali ndak ada perubahan. Padahal negara aja udah berubah dari jaman orde baru sampek jaman reformasi. Presiden juga udah ganti 5 kali. Tapi kampung ini adem ayem aja. Sekolahan SD ya cuma satu – satunya itu, padahal jumlah anak2 nambah terus. Aktivitas warga kalo ndak macul ke sawah, matun, panen, ngarit, ya nonton Cinta Fitri. Jujur Mbah, aku ki gemeeesss banget, terutama sama kaum wanitanya disini. Yang sekolah sampai kuliah kayaknya sak RT ndak ada 5 orang. Dari dulu sampai sekarang, masih aja banyak anak cewek yang lulus SD langsung dikawinin. Abis itu nomong anak, ndak punya skill, ndak punya pergaulan luas selain nggosip n nonton sinetron, kalo ada masalah sama suaminya, ndak bisa apa – apa juga. Wes tho, pokoke aku ki guuuemeeesss pol! Gini – gini kan aku cewek, Mbah… makanya aku lebih gemes sama kaumku.”

“Terus kamu ini pinginnya kayak gimana tho Nduk?”

“Ya aku pinginnya perempuan disini itu pada punya aktivitas. Ndak harus ngantor kayak para perempuan di kota2 besar… tapi minimal mereka tau, ada dunia luar dan ada banyak potensi yang mereka punya, plus mereka bisa memanfaatkan potensi itu mbah… Sebenarnya, aku itu gemes kalo liat ibu – ibu apalagi yang masih muda dan (harusnya) lagi semangat banget untuk mengembangkan diri, terjebak di situasi yang membuat mereka tidak mempunyai pilihan, atau tepatnya, tidak berani memilih. Lha gimana mau milih, wong modal aja mereka ndak punya kok. Paling mentok ya jadi TeKaWe, ke Hongkong, Singgapur, Malaysye. Yang sukses ya punya rumah bagus n bisa jadi modal cari mertua, yang gak sukses pulang ya muka lebam semua, atau ditinggal suami kawin lagi.”

“Hmmm…” Simbah mengiman.

“Aku pingin, perempuan – perempuan disini punya bekal. Minimal bekal itu berupa memanfaatkan waktu dengan baik, untuk mengembangkan diri. Syukur2 dapet penghasilan lebih, kan seenggaknya bisa meningkatkan taraf hidup mereka Mbah… Yang ada sekarang kan mereka kecanduan acara sinetron dan gosip yang cuma nambah ketidaksukaan mereka sama mertuanya. Selain itu? nothing Mbah… oh iya! ada ding! Mereka jadi tambah konsumtif! Liat Artis A umbah umbah banyak bunganya, jadi kepingin beli deterjen A, liat anak kecil lucu renang, jadi pengen beli susu B. Semuanya dilakukan ndak pake surve2an Mbah. Manfaatnya gimana, efek buruknya apa, ndak mikir. Ini yang ndak bagus. Pola pikir instan. 😐 “

“Aku pingin, mereka pada khususnya, dan kampung ini nanti jangka panjangnya, punya sesuatu yang bisa dibanggakan gitu lho… sesuatu yang jadi ciri khas. Yang warganya pinter pinter, kreatif, ndak tergantung sama musim, dan yang paling penting adalah ndak kecanduan sinetron.”

“Kamu itu dari tadi mbulet Nduk…mbokya cerita yang gamblang, kepinginnya apa. Jelaskan gitu lho… gambaranmu seperti apa”

Banyak banget di kepalaku ini Mbah. Tapi salah satunya gini. Aku pingin ngajarin ibu – ibu dan embak – embak disini untuk membuat kerajinan. Yang sederhana aja dulu buat permulaan. Bisa kerajinan kain flanel, menyulam, menjahit, bordir, bikin souvenir untuk nikahan, daaan sebagainya. Yang bisa merangsang mereka jadi kreatif deh. Kalo mereka sudah bisa menghasilkan produk dengan kualitas yang ‘layak jual’, untuk permulaan, aku yang akan membantu memasarkan produknya ke seluruh Indonesia, atau ke seluruh dunia deh kalo perlu… Secara bertahap, mereka akan kuajari juga manajemen, biar mereka belajar memasarkan produk mereka sendiri. Kalo berjalan lancar, kurang dari 5 tahun, aku yakin akan ada perubahan di kampung tercintaku ini. Akan semakin sedikit perempuan yang bekerja ke luar daerah. Dan kampungpun akan ‘hidup’ karena banyak aktivitas. Siapa tahu juga kalo kelak kampungku jadi percontohan dan dapet dana dari pemerintah untuk mengembangkannya. Ya nggak? Fyuh…capek aku mbah, ngomong terus… gantian dong…”

“Lha Simbah kan nunggu kamu selesai dulu, Nduk…”

“Udah selese kok Mbah…Nah aku mintak saran sama Simbah…enaknya gimana? kan tua-tua gini Simbah gawul, pegangannya blekberi…”

Simbah terkekeh sambil sibuk membalas BBM. Sebenarnya saya pingin ngintip, beliau itu lagi ngomongin apa thooo, kok dari tadi  tang ting tung terus bebenya. Sayang banget, bebe Simbah sudah dipasangi screenguard anti spy, Uuuh jadi nggak bisa ngintip!

“Ehm, jadi gini lho Nduk, menurut Simbah, permasalahan utama permasalahan utama kampungmu itu jenisnya sudah mengakar : pola pikir ndeso. Sederhana memang karepe, tapi kalo disesuaikan sama jaman ya ora mathuk. Istilahnya ndak ada Inovasi. Nah, ini susah kalo dibenahi dalam waktu singkat. Harus perlahan dan sedikit demi sedikit. Orang desa mudah ndak nyaman sama perubahan, apalagi yang cepet. Kalau kamu pinginnya memulai dari wanita-nya, it’s ok gitu loh… menurut simbah ide bagus itu. Biar kamu juga lebih gawul sama tetanggamu sendiri.”

“Nah ya, gantian Simbah mbulet”

“Belum selesai tho yaaa. Gini Nduk… Kalo kamu pingin segera meng-eksekusi idemu tadi itu, lekas tentukan mana yang bakalan kamu fokus disitu. Misal : Kamu memutuskan buat ngajari Kerajinan Membuat Tas Gawul . Kamu ndak harus menguasai membuat tas dulu untuk ngajari mbak – mbak nan lugu itu. Beli buku yang mendukung. Pinjami modal untuk latihan awal. Habis itu bantu pasarkan dan mereka tentu harus mendapat kontribusi finansial dari penjualan itu”

“Masalahe Mbaaah… aku kan ndak sempet kalo ngajarin sebegitu banyaknya orang disiniii. Apalagi kalo belajar dari buku aja kan ndak seru. Mau mendatangkan pengajar juga meheeel”

“Sik thooo… kowe melupakan sesuatu nduk. Kamu ini hidup dijaman twitter, jaman Fesbuk. Jaman ‘Dunia dalam Genggaman’. Kayak Simbah lah, bisa chatting sama orang eropah, sampai ngekspor Telo ke Hungaria, biiisa! Padahal ya belum pernah ketemu orangnya lho…”
“Nah, kowe sudah punya jaringan pertemanan. Punya teman – teman populer yang kepeduliannya tidak diragukan. Tentunya kamu masih inget tho, gerakan Coin a Chance, duwit recehan bisa mbantu sekolah bocah bocah melas. Gerakan opo kui, hooo iyaaa Blood for Life, terus yang baru baru ini podho mbikin gerakan peduli merapi. Ndak perlu repot soal informasi, nduk. Yang namanya Social Media itu jalan yang bisa mempertemukan kamu dengan siapa saja dan dimana saja.”

“Soal teknisnya, mudah saja. Kamu ndak kudu bikin sekolah dulu buat ngajari mereka. Mari kita belajar pada MLM untuk hal ini. Biar gampang, Simbah gambarkan ilustrasinya kayak gini”

“Artinya, kamu cukup perlu satu pengajar. Satu pengajar mengajari 3 orang saja pada awalnya. Setelah 3 orang ini mahir, masing masing ngajari 3 orang lainnya, dan seterusnya. Hemat tenaga tho? Ndak perlu tempat yang luas juga buat belajarnya. Yang penting guyub dan ada pisang goreng, pasti rukun dan maknyus” Simbah mulai ngelantur sepertinya. Tapi idenya boleh juga.

“Lha njuk pengajarnya siapa Mbah? aku kan ndak punya temen yang bisa mbikin kerajinan, bisanya pada mbikin kapal semua”

“Nduk Nduk… kamu itu twitteran, ngeblog, tapi kok ya ndak pinter – pinter. Ya kamu mungkin ndak punya, tapi siapa tau temenmu punya kenalan? kalo ndak ada, ya minta tolong sana, sama mahasiswa – mahasiswa yang butuh tempat KKN. Simbiosis mutualisme. Kamu ndak perlu turun gunung, turun langsung nyari gurunya. Jaman Social Media itu mbikin kamu ndak perlu panasan di perempatan jalan buat ngumpulin duit yang mau disumbangkan ke Merapi. Cukup dengan ngetuit ngetuit, pasang status di Facebook, bantuan akan datang dengan sendirinya. Memang, Simbah sadari, negara ini semakin lama semakin bobrok. Untunglah, warganya sepertinya semakin pintar dengan adanya teknologi dan kepedulianpun meningkat”

Saya mbatin, bener juga ya Simbah ini. Saya punya banyak sekali teman, dengan berbagai macam pengaruh, dan kepedulian yang tidak diragukan lagi. Akhirnya ide pun bersliweran di kepala saya.

“Soal pemasaran, kamu jangan kuwatir. Remaja remaji kita ini sekarang jamannya jaman gawul, asal kemasanmu menarik, mesti payu. Tapi jangan lupa menjaga kualitas, biar pelangganmu ndak pergi. Mau masarkan ke luwar negeri, tanya sana, sama Kangmas Pepeng, yang suka njuwal Candi ke luar negeri. Ncen cah gemblung kok Pepeng kuwi.” Simbah ngelantur lagi. Tehnya sudah habis rupanya. Begitu juga baterai bebe-nya yang sepertinya berteriak minta dicas.

“Sekarang rencanamu gimana? Bebenya Simbah udah minta dicas ini, repot kalo batrenya drop, ndak bisa tuiteran mbahmu ini nanti.” Yayaya, simbah memang kecanduan sama mainan yang satu ini. Dimanapun kapanpun wajib apdet status. Saya sempet curiga, jangan-jangan beliau juga membocorkan percakapan kami barusan.

“Gini aja, sekarang kamu bikin itu namanya Proposal, sekalian yang bagus biar ada yang tertarik buat mbantu kamu. Entah itu dana atau sumbangan tenaga, yang jelas itu akan sangat mbantu kamu, nduk”

“Proposal sih udah pernah mbikin, Mbah…tapi ndak pede aku… jadinya ya ndak pernah tak titipkan ke siapa siapa. Tapi setelah diwejangi simbah, rasa pedeku kayaknya langsung tuinggi ini Mbah!”

“Lha, jadi selama ini kamu memangnya ngayal wae po? ngimpi wae?”

“ya endak, aku udah mbeliin beberapa buku kerajinan, yaaa…minimal biar belajar sendiri merekanya”

“ya ndak jalan, kalo cuma seperti itu nduke, beda lho yo, antara penduduk kota yang belajar masak dari buku resep atau blackberry. Orang desa itu kalo ndak distimulus, susah untuk hal – hal seperti ini Nduke… Coba tips dari simbah tadi dijalanken. Sana, ikutan Microsoft Bloggership, sapa tau menang, dapet dana, bisa dipakai buat mengawali cita – cita muliamu. Katanya kalo menang dapet gadget juga, dan yang paling penting nduk, kalo kamu menang itu bisa terkenal, bisa masuk detik.com lho…”

“Halah, simbah ki… yang dipikirin kok popular populer terus. Yaudah, doain cucumu ini menang ya Mbah… Tapi kalo ndak menang gimana hayo Mbah?”

“Sudah pasti itu Nduk…Simbah selalu mendoakan cucu Simbah biar kampung kita ini ndak hanya ayem tentrem saja, melainkan warganya juga sejahtera. Kalo ndak menang? yo santeee… jangan sampek frustasi. Siapa tau Pamanmu yang duitnya meteran itu tergerak buat mbantu kamu? Siapa tau juga Ndorokangkung yang terkenal itu ngenalkan kamu sama temennya. Siapa tau tho? yang  jelas, digodok wae konsepmu yang mateng, jangan angin – anginan. Simbah ki seneng kalok lihat kampung kita hidup dan warganya juga hidup, pada pinter – pinter. Oiya nduk, pisang gorengnya tadi, sudah habis po?”

“Iya Mbah, tinggal satu itu tadi ndak tak makan, soalnya tadi jatuh ke lante trus sempet diendus si Choki” :mrgreen:
*langsung kabur*

“Wooo! Cah gemblung! Tak balang blekberi kene mengko!”

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

ps. warga kampung saya sebenarnya kreatif kok, mereka kurang penyaluran aja sepertinya 😆
ini skrinsutnya :

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

polisi = polusi? :P

polisi = polusi? 😛

27 Oktober, Hari Blogger Nasional, dan Blogger Peduli

Hari ini, saya terbangun dengan hati berkecamuk tak karuan. Dada rasanya sesak, pengen nangis aja. Bagaimana tidak, sejak lusa, sepertinya “alam” Indonesia tak henti bergejolak. Dari yang korban kemacetan, hingga kemudian berita tentang gempa dan tsunami di mentawai sana, belum lagi status merapi yang dinyatakan awas, sampai akhirnya ‘muntah’ juga tadi malam.

Saya memang naif. Kurang suka melihat berita tentang bencana di televisi. Karena memang hal itu membuat saya mendadak cengeng dan perasaan yang nggak enak. Sayangnya, kali ini sepertinya sulit saya hindari. Timeline, Facebook semua dibanjiri dengan update tentang bencana. Dan kali ini, saya tidak menghindar, walaupun sebenernya bisa sih, tapi itu tidak saya lakukan. Entah mengapa, melihat di timeline dan televisi membawa energi yang berbeda buat saya. Membangkitkan semangat ingin membantu gitu kayaknya. Mungkin saya lebay, *iya sih, dari tadi emang enggak?* tapi ya begitulah keadaannya.

Melihat semangat berbagi teman-teman, dan bermacam inisiatifnya untuk membantu, mendorong saya ikut memikirkan, kira-kira apaaa yang bisa saya perbuat, seperti yang teman teman lakukan di luar sana. akhirnya saya memutuskan untuk mengapdet blog saya. konyol? iya. saya tau kok kalo saya ini konyol. Cuma memang ini yang terlintas pertama kali pas mikir. Memang sih, rencananya akan posting, tentang setahun kehidupan baru saya, dan kematian saya yang lain. Tapi, nggak perlulah. Satu kecupan kecil yang manis pagi tadi sudah sangat lebih dari cukup untuk membuatku bahagia denganmu kok 🙂

Kebetulan juga, hari ini pas hari blogger nasional. walaupun nggak ada hubungannya sama niat saya posting, ya memang hari ini pas hari blogger nasional, gitu aja. Aaaarrrrrrghhh KENAPA TULISAN SAYA KACAU BEGINIIIIIII?????

baiklah… kembali topik (topiknya apa sih?)

intinya saya ingin membantu menyebarluaskan informasi, yang siapa tau bisa berguna buat saudara2 kita yang sedang kurang beruntung ditimpa bencana. Sejak malam dan dini hari tadi, rekan rekan dari komunitas Cahandong yang memang dekat dengan lokasi kejadian, berusaha membantu sebiasanya ke daerah pengungsian. Terima kasih, teman-teman, i wish i were there :’)

buat teman teman yang ingin berpartisipasi, silakan. Yang punya blog, ayo, posting di blognya. Semakin banyak yang tau, kemungkinan orang membantu semakin banyak kan? Entah membantu secara fisik, mbantu materi, atau apapun yang bisa kita lakukan, yang mungkin meringankan penderitaan mereka.

seperti dikutip dari Bloggerpeduli,

Saatnya bergerak. Mari bersatu merapatkan barisan. Bantuan dari kita semua akan sangat berguna bagi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Setidaknya, jika kita tak punya cukup waktu, tenaga, atau materi untuk disumbangkan, kita bisa membantu menyebarluaskan berita dan informasi tentang situasi terkini di lapangan, memberikan informasi tentang kemana bantuan dapat disalurkan, dan sebagainya. Musibah memang azab, tapi bukan itu poinnya, kan?

Untuk Bantuan Dana, bagi yang bersedia, bisa disalurkan melalui rekan2 Cahandong
Update (27/5/2016) : rekening telah dihapus karena permintaan donasi telah ditutup. 
bloggerpeduli

Apapun bantuan anda, semoga bisa meringankan mereka. 🙂

Test Posting dari bebeh

Setelah puluhan tahun *halah* akhirnya saya pakai juga ini fitur cihuy buat si bebeh gratisan saya inih.

Semoga hasilnya memang seperti yang saya harapkan. *berdoa khusyuk* dan sesungguhnya, ini adalah demi memuaskan para penggemar saya akan apdet terbaru dari blogger idola mereka 😎 *dibakar massa*

Sekian, dan terima kasih. 😳