Microsoft Bloggership 2011 : Antara Saya, Perempuan Desa dan Impian

Di sore yang #galau itu, mendadak Mbah Kirangan datang membuyarkan lamunan saya. Betul, akhir – akhir ini saya memang sering #galau memikirkan negara dan nasib anak bangsa *plak*. Iya maaf, saya berlebihan, tapi boleh dong, saya mempunyai bermacam impian untuk -ehm- minimal kampung saya sendiri? Impian saya memang muluk – muluk. Iyalah! masak mimpi saja nggak berani muluk – muluk? Dan sepertinya, Mbah Kirangan datang pada waktu yang sangat tepat. Sekedar informasi, beliau memang biasa datang ketika saya memerlukan petunjuk datangnya hujan, atau saat-saat dimana saya membutuhkan wejangan. Misal wejang jahe, wejang kopi, dll. #krauk

Mbah Kirangan duduk di kursi malas favoritnya, lantas menyeruput teh hangat yang terhidang di meja kayu berukir di sebelah kanan kursinya. Tanpa permisi, beliau juga menyomot pisang goreng hangat yang tidak jadi saya makan karena tadi sempet jatuh ke lantai.

“Ada apa tho, nduk? wajahmu kok dilipat – lipat? lagi belajar poligami po?” :mrgreen:
ujarnya memulai percakapan kami.
“PLIS DEH MBAH! ITU ORIGAMI!” sergahku :mad: . Yayaya, si Mbah emang suka asal nyebut istilah. Asal njeplak, asal mirip.
“Hehe… simbahmu ini cuma ngetest wae, kamu masih konsentrasi apa endak. Ternyata masih sadar :mrgreen: . Ada apa tho, sini cerita sama simbah…”

Mulailah cerita saya…

“Gini lho mbahe… cucumu ini sedih kalo liat kondisi kampung kita. Dari dulu ndak ada perkembangan selain jumlah bayi, henpon sama tipi yang makin banyak”
“Masalahmu apa?” Sela simbah. Nada bicaranya mirip banget dengan Sir Mbilung.
“Sik thooo…! Simbah ini mintak ditabok. Ceritaku belum selese mbaaaah”
“Ya wes, lanjutken dulu” ujar Simbah sambil ngikik ndak jelas

“Dari jaman aku masih hobi main layangan, sampek sekarang mainanku hengpon Android, kampung ini sama sekali ndak ada perubahan. Padahal negara aja udah berubah dari jaman orde baru sampek jaman reformasi. Presiden juga udah ganti 5 kali. Tapi kampung ini adem ayem aja. Sekolahan SD ya cuma satu – satunya itu, padahal jumlah anak2 nambah terus. Aktivitas warga kalo ndak macul ke sawah, matun, panen, ngarit, ya nonton Cinta Fitri. Jujur Mbah, aku ki gemeeesss banget, terutama sama kaum wanitanya disini. Yang sekolah sampai kuliah kayaknya sak RT ndak ada 5 orang. Dari dulu sampai sekarang, masih aja banyak anak cewek yang lulus SD langsung dikawinin. Abis itu nomong anak, ndak punya skill, ndak punya pergaulan luas selain nggosip n nonton sinetron, kalo ada masalah sama suaminya, ndak bisa apa – apa juga. Wes tho, pokoke aku ki guuuemeeesss pol! Gini – gini kan aku cewek, Mbah… makanya aku lebih gemes sama kaumku.”

“Terus kamu ini pinginnya kayak gimana tho Nduk?”

“Ya aku pinginnya perempuan disini itu pada punya aktivitas. Ndak harus ngantor kayak para perempuan di kota2 besar… tapi minimal mereka tau, ada dunia luar dan ada banyak potensi yang mereka punya, plus mereka bisa memanfaatkan potensi itu mbah… Sebenarnya, aku itu gemes kalo liat ibu – ibu apalagi yang masih muda dan (harusnya) lagi semangat banget untuk mengembangkan diri, terjebak di situasi yang membuat mereka tidak mempunyai pilihan, atau tepatnya, tidak berani memilih. Lha gimana mau milih, wong modal aja mereka ndak punya kok. Paling mentok ya jadi TeKaWe, ke Hongkong, Singgapur, Malaysye. Yang sukses ya punya rumah bagus n bisa jadi modal cari mertua, yang gak sukses pulang ya muka lebam semua, atau ditinggal suami kawin lagi.”

“Hmmm…” Simbah mengiman.

“Aku pingin, perempuan – perempuan disini punya bekal. Minimal bekal itu berupa memanfaatkan waktu dengan baik, untuk mengembangkan diri. Syukur2 dapet penghasilan lebih, kan seenggaknya bisa meningkatkan taraf hidup mereka Mbah… Yang ada sekarang kan mereka kecanduan acara sinetron dan gosip yang cuma nambah ketidaksukaan mereka sama mertuanya. Selain itu? nothing Mbah… oh iya! ada ding! Mereka jadi tambah konsumtif! Liat Artis A umbah umbah banyak bunganya, jadi kepingin beli deterjen A, liat anak kecil lucu renang, jadi pengen beli susu B. Semuanya dilakukan ndak pake surve2an Mbah. Manfaatnya gimana, efek buruknya apa, ndak mikir. Ini yang ndak bagus. Pola pikir instan. :neutral:

“Aku pingin, mereka pada khususnya, dan kampung ini nanti jangka panjangnya, punya sesuatu yang bisa dibanggakan gitu lho… sesuatu yang jadi ciri khas. Yang warganya pinter pinter, kreatif, ndak tergantung sama musim, dan yang paling penting adalah ndak kecanduan sinetron.”

“Kamu itu dari tadi mbulet Nduk…mbokya cerita yang gamblang, kepinginnya apa. Jelaskan gitu lho… gambaranmu seperti apa”

Banyak banget di kepalaku ini Mbah. Tapi salah satunya gini. Aku pingin ngajarin ibu – ibu dan embak – embak disini untuk membuat kerajinan. Yang sederhana aja dulu buat permulaan. Bisa kerajinan kain flanel, menyulam, menjahit, bordir, bikin souvenir untuk nikahan, daaan sebagainya. Yang bisa merangsang mereka jadi kreatif deh. Kalo mereka sudah bisa menghasilkan produk dengan kualitas yang ‘layak jual’, untuk permulaan, aku yang akan membantu memasarkan produknya ke seluruh Indonesia, atau ke seluruh dunia deh kalo perlu… Secara bertahap, mereka akan kuajari juga manajemen, biar mereka belajar memasarkan produk mereka sendiri. Kalo berjalan lancar, kurang dari 5 tahun, aku yakin akan ada perubahan di kampung tercintaku ini. Akan semakin sedikit perempuan yang bekerja ke luar daerah. Dan kampungpun akan ‘hidup’ karena banyak aktivitas. Siapa tahu juga kalo kelak kampungku jadi percontohan dan dapet dana dari pemerintah untuk mengembangkannya. Ya nggak? Fyuh…capek aku mbah, ngomong terus… gantian dong…”

“Lha Simbah kan nunggu kamu selesai dulu, Nduk…”

“Udah selese kok Mbah…Nah aku mintak saran sama Simbah…enaknya gimana? kan tua-tua gini Simbah gawul, pegangannya blekberi…”

Simbah terkekeh sambil sibuk membalas BBM. Sebenarnya saya pingin ngintip, beliau itu lagi ngomongin apa thooo, kok dari tadi  tang ting tung terus bebenya. Sayang banget, bebe Simbah sudah dipasangi screenguard anti spy, Uuuh jadi nggak bisa ngintip!

“Ehm, jadi gini lho Nduk, menurut Simbah, permasalahan utama permasalahan utama kampungmu itu jenisnya sudah mengakar : pola pikir ndeso. Sederhana memang karepe, tapi kalo disesuaikan sama jaman ya ora mathuk. Istilahnya ndak ada Inovasi. Nah, ini susah kalo dibenahi dalam waktu singkat. Harus perlahan dan sedikit demi sedikit. Orang desa mudah ndak nyaman sama perubahan, apalagi yang cepet. Kalau kamu pinginnya memulai dari wanita-nya, it’s ok gitu loh… menurut simbah ide bagus itu. Biar kamu juga lebih gawul sama tetanggamu sendiri.”

“Nah ya, gantian Simbah mbulet”

“Belum selesai tho yaaa. Gini Nduk… Kalo kamu pingin segera meng-eksekusi idemu tadi itu, lekas tentukan mana yang bakalan kamu fokus disitu. Misal : Kamu memutuskan buat ngajari Kerajinan Membuat Tas Gawul . Kamu ndak harus menguasai membuat tas dulu untuk ngajari mbak – mbak nan lugu itu. Beli buku yang mendukung. Pinjami modal untuk latihan awal. Habis itu bantu pasarkan dan mereka tentu harus mendapat kontribusi finansial dari penjualan itu”

“Masalahe Mbaaah… aku kan ndak sempet kalo ngajarin sebegitu banyaknya orang disiniii. Apalagi kalo belajar dari buku aja kan ndak seru. Mau mendatangkan pengajar juga meheeel”

“Sik thooo… kowe melupakan sesuatu nduk. Kamu ini hidup dijaman twitter, jaman Fesbuk. Jaman ‘Dunia dalam Genggaman’. Kayak Simbah lah, bisa chatting sama orang eropah, sampai ngekspor Telo ke Hungaria, biiisa! Padahal ya belum pernah ketemu orangnya lho…”
“Nah, kowe sudah punya jaringan pertemanan. Punya teman – teman populer yang kepeduliannya tidak diragukan. Tentunya kamu masih inget tho, gerakan Coin a Chance, duwit recehan bisa mbantu sekolah bocah bocah melas. Gerakan opo kui, hooo iyaaa Blood for Life, terus yang baru baru ini podho mbikin gerakan peduli merapi. Ndak perlu repot soal informasi, nduk. Yang namanya Social Media itu jalan yang bisa mempertemukan kamu dengan siapa saja dan dimana saja.”

“Soal teknisnya, mudah saja. Kamu ndak kudu bikin sekolah dulu buat ngajari mereka. Mari kita belajar pada MLM untuk hal ini. Biar gampang, Simbah gambarkan ilustrasinya kayak gini”

“Artinya, kamu cukup perlu satu pengajar. Satu pengajar mengajari 3 orang saja pada awalnya. Setelah 3 orang ini mahir, masing masing ngajari 3 orang lainnya, dan seterusnya. Hemat tenaga tho? Ndak perlu tempat yang luas juga buat belajarnya. Yang penting guyub dan ada pisang goreng, pasti rukun dan maknyus” Simbah mulai ngelantur sepertinya. Tapi idenya boleh juga.

“Lha njuk pengajarnya siapa Mbah? aku kan ndak punya temen yang bisa mbikin kerajinan, bisanya pada mbikin kapal semua”

“Nduk Nduk… kamu itu twitteran, ngeblog, tapi kok ya ndak pinter – pinter. Ya kamu mungkin ndak punya, tapi siapa tau temenmu punya kenalan? kalo ndak ada, ya minta tolong sana, sama mahasiswa – mahasiswa yang butuh tempat KKN. Simbiosis mutualisme. Kamu ndak perlu turun gunung, turun langsung nyari gurunya. Jaman Social Media itu mbikin kamu ndak perlu panasan di perempatan jalan buat ngumpulin duit yang mau disumbangkan ke Merapi. Cukup dengan ngetuit ngetuit, pasang status di Facebook, bantuan akan datang dengan sendirinya. Memang, Simbah sadari, negara ini semakin lama semakin bobrok. Untunglah, warganya sepertinya semakin pintar dengan adanya teknologi dan kepedulianpun meningkat”

Saya mbatin, bener juga ya Simbah ini. Saya punya banyak sekali teman, dengan berbagai macam pengaruh, dan kepedulian yang tidak diragukan lagi. Akhirnya ide pun bersliweran di kepala saya.

“Soal pemasaran, kamu jangan kuwatir. Remaja remaji kita ini sekarang jamannya jaman gawul, asal kemasanmu menarik, mesti payu. Tapi jangan lupa menjaga kualitas, biar pelangganmu ndak pergi. Mau masarkan ke luwar negeri, tanya sana, sama Kangmas Pepeng, yang suka njuwal Candi ke luar negeri. Ncen cah gemblung kok Pepeng kuwi.” Simbah ngelantur lagi. Tehnya sudah habis rupanya. Begitu juga baterai bebe-nya yang sepertinya berteriak minta dicas.

“Sekarang rencanamu gimana? Bebenya Simbah udah minta dicas ini, repot kalo batrenya drop, ndak bisa tuiteran mbahmu ini nanti.” Yayaya, simbah memang kecanduan sama mainan yang satu ini. Dimanapun kapanpun wajib apdet status. Saya sempet curiga, jangan-jangan beliau juga membocorkan percakapan kami barusan.

“Gini aja, sekarang kamu bikin itu namanya Proposal, sekalian yang bagus biar ada yang tertarik buat mbantu kamu. Entah itu dana atau sumbangan tenaga, yang jelas itu akan sangat mbantu kamu, nduk”

“Proposal sih udah pernah mbikin, Mbah…tapi ndak pede aku… jadinya ya ndak pernah tak titipkan ke siapa siapa. Tapi setelah diwejangi simbah, rasa pedeku kayaknya langsung tuinggi ini Mbah!”

“Lha, jadi selama ini kamu memangnya ngayal wae po? ngimpi wae?”

“ya endak, aku udah mbeliin beberapa buku kerajinan, yaaa…minimal biar belajar sendiri merekanya”

“ya ndak jalan, kalo cuma seperti itu nduke, beda lho yo, antara penduduk kota yang belajar masak dari buku resep atau blackberry. Orang desa itu kalo ndak distimulus, susah untuk hal – hal seperti ini Nduke… Coba tips dari simbah tadi dijalanken. Sana, ikutan Microsoft Bloggership, sapa tau menang, dapet dana, bisa dipakai buat mengawali cita – cita muliamu. Katanya kalo menang dapet gadget juga, dan yang paling penting nduk, kalo kamu menang itu bisa terkenal, bisa masuk detik.com lho…”

“Halah, simbah ki… yang dipikirin kok popular populer terus. Yaudah, doain cucumu ini menang ya Mbah… Tapi kalo ndak menang gimana hayo Mbah?”

“Sudah pasti itu Nduk…Simbah selalu mendoakan cucu Simbah biar kampung kita ini ndak hanya ayem tentrem saja, melainkan warganya juga sejahtera. Kalo ndak menang? yo santeee… jangan sampek frustasi. Siapa tau Pamanmu yang duitnya meteran itu tergerak buat mbantu kamu? Siapa tau juga Ndorokangkung yang terkenal itu ngenalkan kamu sama temennya. Siapa tau tho? yang  jelas, digodok wae konsepmu yang mateng, jangan angin – anginan. Simbah ki seneng kalok lihat kampung kita hidup dan warganya juga hidup, pada pinter – pinter. Oiya nduk, pisang gorengnya tadi, sudah habis po?”

“Iya Mbah, tinggal satu itu tadi ndak tak makan, soalnya tadi jatuh ke lante trus sempet diendus si Choki” :mrgreen:
*langsung kabur*

“Wooo! Cah gemblung! Tak balang blekberi kene mengko!”

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

ps. warga kampung saya sebenarnya kreatif kok, mereka kurang penyaluran aja sepertinya :lol:
ini skrinsutnya :

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

Ceritanya jadi densus 88 ini tweeps :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

perhatikan yang tergantung di dada SBY :mrgreen:

polisi = polusi? :P

polisi = polusi? :P

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.